Review Film Dusun Mayit: Teror Mencekam di Lereng Gunung Welirang

Tim Teaterdotco - Jumat, 2 Januari 2026 08:36 WIB
Review Film Dusun Mayit: Teror Mencekam di Lereng Gunung Welirang

Film horor Dusun Mayit hadir sebagai penutup tahun 2025 dengan membawa kisah pendakian gunung yang berubah menjadi mimpi buruk. Diproduksi oleh Hitmaker Studios dan disutradarai Rizal Mantovani, film ini mulai tayang serentak di bioskop Indonesia pada 31 Desember 2025.

Terinspirasi dari thread horor viral karya JeroPoint di media sosial X, Dusun Mayit mencoba meramu mitos lokal Jawa, horor psikologis, dan unsur survival dalam satu paket cerita yang bernuansa gelap dan penuh ketegangan.

Kisah Pendakian yang Tak Pernah Sampai Tujuan

Cerita berfokus pada empat mahasiswa pecinta alam, Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), Yuni (Amanda Manopo), dan Nita (Ersya Aurelia), yang memutuskan mendaki Gunung Welirang usai menjalani ujian akhir semester. Perjalanan ini awalnya terasa ringan dan penuh canda, hingga mereka tanpa sadar keluar dari jalur pendakian yang semestinya.

Teror bermula ketika Nita menemukan sesajen dan terjatuh ke sebuah telaga misterius. Sejak kejadian itu, sikap dan kepribadiannya berubah drastis. Perjalanan mereka kemudian membawa keempatnya tersesat ke sebuah desa aneh bernama Dusun Mayit, tempat kuburan tanpa nisan, sosok warga misterius, serta mitos tumbal manusia menjadi bagian dari kehidupan sehari hari. Desa ini digambarkan sebagai ruang gaib yang seolah berada di antara dunia manusia dan alam lain, tanpa jalan pulang yang pasti.

Visual Alam dan Atmosfer yang Kuat

Dari sisi visual, Dusun Mayit tampil cukup meyakinkan. Lanskap Gunung Welirang dan kawasan hutan di Malang, Jawa Timur, dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun kesan sunyi, dingin, dan terisolasi. Sinematografi bernuansa gelap dengan sudut kamera rendah membuat penonton ikut merasakan rasa terjebak yang dialami para karakter.

Tata suara menjadi salah satu kekuatan film ini. Suara angin gunung, bisikan misterius, serta musik latar bernuansa etnis Jawa berhasil membangun ketegangan tanpa harus mengandalkan jump scare berlebihan. Meski begitu, beberapa efek CGI seperti kabut supernatural dan sosok makhluk tertentu masih terlihat kurang halus dan memperlihatkan keterbatasan produksi.

Akting Pemain dan Dinamika Karakter

Dari jajaran pemain, Ersya Aurelia cukup mencuri perhatian lewat transformasi karakter Nita pasca insiden telaga. Randy Martin sebagai Raka tampil konsisten dan emosional, menjadi karakter yang paling mudah membangun empati penonton. Amanda Manopo sebagai Yuni menunjukkan emosi trauma, meski perannya terasa kurang digali lebih dalam. Fahad Haydra sebagai Aryo tampil sebagai sosok rasional yang perlahan kehilangan kendali di tengah tekanan.

Sayangnya, pengembangan karakter terasa belum merata. Beberapa konflik personal hanya muncul sekilas tanpa pendalaman berarti. Dialog antar tokoh juga sesekali terdengar klise dan mudah ditebak.

Cerita Menarik, Eksekusi Masih Kurang Tajam

Secara tema, Dusun Mayit membawa pesan tentang pentingnya menghormati alam dan tradisi lokal. Pendekatan horor psikologis yang dipilih sebenarnya menjanjikan, namun alur cerita kerap terasa datar. Ketegangan tidak selalu mencapai puncak emosional, sementara sejumlah pertanyaan dibiarkan menggantung hingga film berakhir.

Plot twist relatif mudah ditebak bagi penonton yang terbiasa dengan film horor bertema pendakian. Ending yang ambigu kemungkinan sengaja disiapkan untuk membuka peluang lanjutan, tetapi bisa membuat sebagian penonton merasa kurang puas.

Dusun Mayit merupakan film horor lokal dengan ambisi besar dan kekuatan utama pada atmosfer serta visual alamnya. Meski ide cerita dan akar budayanya menarik, eksekusi narasi dan pengembangan karakter masih terasa kurang matang.

Sebagai tontonan akhir tahun, film ini tetap layak disimak, terutama bagi penikmat horor Indonesia dan cerita mistis berlatar gunung. Namun, akan lebih nikmat jika ditonton tanpa ekspektasi terlalu tinggi dan difokuskan sebagai hiburan semata.