Review Film Esok Tanpa Ibu: Duka, Relasi Keluarga, dan Bayang-Bayang AI
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Diproduksi oleh BASE Entertainment dan Beacon Film, film Esok Tanpa Ibu mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah maraknya drama melodramatis. Alih-alih memancing air mata lewat adegan tangisan panjang, film ini memilih jalur sunyi: duka yang dipendam, jarak emosional, dan kesepian yang sering tak terucap.
Disutradarai Wi Ding Ho, Esok Tanpa Ibu menggabungkan drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah melalui tema kecerdasan buatan. Namun jangan bayangkan film ini penuh teknologi canggih atau visual futuristik berlebihan. Justru sebaliknya, AI di sini hanya menjadi alat, bukan pusat cerita.
Cerita Kehilangan yang Terasa Dekat
Kisah berpusat pada Rama (Ali Fikry), remaja yang sedang berada di fase paling canggung dalam hidupnya. Ia sulit berkomunikasi dengan ayahnya, Hendri (Ringgo Agus Rahman), dan selama ini hanya merasa benar-benar dipahami oleh sang ibu, Laras (Dian Sastrowardoyo). Laras adalah figur penenang, penghubung, sekaligus jangkar emosi dalam keluarga kecil ini.
Tragedi datang ketika Laras meninggal dunia setelah koma. Sejak saat itu, rumah yang dulu terasa hidup berubah menjadi ruang penuh keheningan. Rama dan Hendri sama-sama berduka, tetapi memilih cara yang berbeda untuk menjalaninya. Hendri tenggelam dalam diam, sementara Rama mencari pelarian.
Pelarian itu hadir dalam bentuk teknologi. Zyla (Aisha Nurra Datau), sahabat Rama, menciptakan aplikasi AI bernama I-BU yang dibangun dari data pribadi dan kebiasaan Laras. Melalui layar, Rama bisa kembali mendengar suara ibunya, meminta pendapat, bahkan merasa ditemani.
Di sinilah film mulai terasa relevan dengan kehidupan masa kini. I-BU digambarkan bukan sebagai teknologi jahat, tetapi sesuatu yang menggoda. Memberi kenyamanan instan, sekaligus menciptakan ilusi kedekatan. Rama perlahan bergantung, menyerahkan keputusan sehari-hari pada “ibu digital” tersebut.
Film ini seperti mengingatkan, tanpa perlu menggurui, bahwa teknologi bisa menjadi tempat berlindung sementara namun juga berpotensi menjauhkan manusia dari proses berdamai yang sesungguhnya.
Drama yang Tenang tapi Mengena
Salah satu kekuatan Esok Tanpa Ibu terletak pada cara bercerita. Dialognya terasa membumi, seperti percakapan yang benar-benar bisa ditemui di rumah sendiri. Tidak ada dialog puitis berlebihan atau adegan yang terasa dibuat-buat. Bahkan momen humor yang muncul, sebagian besar datang dari celetukan khas Hendri yang terasa natural.
Akting para pemain menjadi penopang utama. Dian Sastro tampil hangat dan sangat “hadir” sebagai ibu, sehingga absennya karakternya terasa menyisakan lubang besar. Ringgo Agus Rahman berhasil memerankan sosok ayah yang kaku secara emosional, sementara Ali Fikry tampil meyakinkan sebagai remaja dengan emosi yang naik turun dan kecenderungan menutup diri.
Meski berlatar masa depan dekat, film ini tidak bergantung pada CGI atau visual canggih. Teknologi hanya menjadi latar, bukan sorotan utama. Fokusnya tetap pada relasi manusia: tentang ayah dan anak yang sama-sama terluka, tetapi tak tahu cara saling mendekat.
Pada akhirnya, Esok Tanpa Ibu adalah cerita tentang menerima kehilangan dan belajar kembali menjadi keluarga. Film ini mengingatkan bahwa duka tidak selalu hadir lewat tangisan keras, melainkan sering bersembunyi dalam diam, jarak, dan rutinitas yang terasa hampa. Sebuah drama yang sederhana, relevan, dan terasa manusiawi hingga akhir.