Review Primate: Teror Simpanse Peliharaan yang Lepas Kendali
Tim Teaterdotco - 5 jam yang lalu
Film Primate datang tanpa janji muluk. Sejak menit awal, film ini sudah menunjukkan identitasnya sebagai horor yang sederhana, cepat, dan fokus pada satu sumber teror utama. Disutradarai Johannes Roberts, Primate tidak mencoba menjadi film horor dengan makna berlapis atau pesan filosofis berat. Film ini memilih jalur aman namun efektif: menyajikan ketegangan dari ancaman nyata yang semakin tak terkendali.
Dengan durasi kurang dari 90 menit, Primate terasa ringkas dan langsung ke inti persoalan. Penonton tidak diajak berputar-putar, melainkan langsung masuk ke konflik yang menjadi tulang punggung cerita.
Kisah Keluarga dan Simpanse Peliharaan
Cerita berpusat pada Lucy yang pulang ke rumah keluarganya di Hawaii setelah lama pergi. Ia kembali bertemu dengan ayahnya, Adam, adik perempuannya Erin, dan Ben, seekor simpanse yang sudah lama hidup bersama mereka. Ben bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan dianggap sebagai bagian dari keluarga, warisan dari sang ibu yang telah meninggal dan pernah meneliti simpanse.
Keseharian yang terlihat normal itu mulai berubah ketika Ben digigit hewan liar dan terinfeksi rabies. Perubahan perilaku Ben terjadi perlahan, dari yang awalnya hanya terlihat gelisah, hingga akhirnya menjadi agresif dan mematikan. Situasi semakin rumit ketika Lucy datang bersama teman-temannya, tanpa menyadari ancaman besar yang sudah ada di dalam rumah.
Teror yang Tumbuh dari Keadaan Terjebak
Kekuatan Primate terletak pada situasinya. Rumah keluarga yang berada di tepi tebing, jauh dari keramaian, membuat para karakter seperti terkurung. Ketika Ben mulai menyerang, tidak banyak tempat untuk melarikan diri. Rasa panik muncul bukan karena kejutan berlebihan, melainkan karena kondisi yang semakin menekan.
Film ini tidak ragu menampilkan kekerasan secara terbuka. Adegan-adegan berdarah disajikan apa adanya dan cukup ekstrem, menegaskan bahwa Primate memang ditujukan untuk penonton dewasa. Namun, kekerasan tersebut tidak sepenuhnya asal tampil, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ancaman yang nyata.
Ben Sebagai Daya Tarik Utama
Sosok Ben menjadi pusat perhatian sepanjang film. Dengan penggunaan efek praktikal dan gerakan yang realistis, simpanse ini terasa hidup dan mengintimidasi. Perubahan ekspresi dan perilakunya berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman, terutama karena Ben sebelumnya digambarkan sebagai sosok yang akrab dan penuh kasih.
Akting para pemain pendukung berjalan cukup solid. Johnny Sequoyah sebagai Lucy tampil meyakinkan sebagai karakter yang terjebak antara rasa sayang dan ketakutan. Troy Kotsur juga memberi warna tersendiri sebagai ayah yang berusaha melindungi keluarganya, meski porsi kemunculannya terbatas.
Horor Tanpa Beban, Fokus Menghibur
Primate jelas tidak ingin menjadi film horor yang kompleks. Alur cerita berjalan lurus, karakter-karakternya mudah dikenali, dan konflik disajikan tanpa banyak cabang. Beberapa elemen memang terasa klise, namun masih bisa diterima dalam konteks film yang memang menargetkan hiburan murni.
Film ini terasa seperti penghormatan pada horor monster klasik, di mana ancaman fisik menjadi pusat cerita, bukan konflik batin yang berlarut-larut.
Primate adalah film horor yang tahu batasannya. Ia tidak mencoba menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dengan cerita yang sederhana, ketegangan yang konsisten, dan teror yang terasa nyata, film ini berhasil menyajikan hiburan horor yang efektif.
Bagi penonton yang ingin menonton film horor tanpa perlu berpikir rumit, Primate menawarkan pengalaman yang singkat, tegang, dan cukup memuaskan.