Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Horor Lokal dengan Nuansa Jawa yang Mencekam

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Horor Lokal dengan Nuansa Jawa yang Mencekam

Industri film horor Indonesia kembali menunjukkan taringnya lewat Sengkolo: Petaka Satu Suro, film terbaru produksi MVP Pictures yang tayang serentak di bioskop mulai 22 Januari 2026. Disutradarai oleh Deni Saputra dalam debut panjangnya, film ini menjadi sekuel dari Sengkolo: Malam Satu Suro (2024) dan membawa teror ke level yang lebih gelap, lebih emosional, sekaligus lebih brutal.

Mengangkat mitos Jawa tentang malam 1 Suro yang dipercaya sebagai waktu terbukanya gerbang dunia gaib, film ini tak sekadar mengandalkan jump scare, tetapi juga memadukan horor supranatural dengan drama keluarga yang menguras emosi.

Teror Malam 1 Suro di Desa Pesisir Sukowati

Cerita berlatar di Desa Sukowati, sebuah desa pesisir yang masih memegang kuat adat dan kepercayaan leluhur. Ketenteraman desa ini perlahan runtuh ketika teror mengerikan kembali muncul. Korbannya selalu sama: ibu hamil, dan kejadiannya selalu terjadi di malam Jumat, menjelang puncak malam 1 Suro.

Tujuh tahun setelah rangkaian pembunuhan misterius tersebut, Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan desa, menjalani hidup sederhana bersama suaminya, Cipto (Dimas Aditya), anaknya, dan sang adik Ratih (Cindy Nirmala). Namun, trauma masa lalu dan teror lama kembali menghantui, terutama ketika tragedi besar menimpa keluarga Rahayu dan menyeretnya ke dalam duka mendalam.

Ritual Lindu Jiwo dan Harga Sebuah Pengorbanan

Konflik mencapai titik krusial saat Rahayu terpaksa melakukan ritual terlarang bernama Lindu Jiwo, sebuah kepercayaan Jawa tentang pertukaran jiwa antara yang hidup dan yang mati. Ritual ini mengharuskan pelakunya memberikan sesajen setiap malam Jumat hingga malam 1 Suro, dengan konsekuensi mengerikan: kerasukan dan melakukan pembunuhan sebagai bagian dari pertukaran jiwa.

Jika ritual gagal diselesaikan, nyawa pelaku menjadi taruhannya. Elemen inilah yang membuat Sengkolo: Petaka Satu Suro terasa jauh lebih sadis dan mencekam dibanding film horor lokal kebanyakan.

Akting Total Aulia Sarah Jadi Kekuatan Utama

Aulia Sarah tampil luar biasa sebagai Rahayu. Perannya menuntut emosi ekstrem, mulai dari sosok ibu penuh kasih, perempuan yang dilanda duka, hingga adegan kerasukan yang intens dan brutal. Sang aktris bahkan menyebut peran ini sebagai salah satu yang paling menguras fisik dan mental sepanjang kariernya.

Pemain lain seperti Dimas Aditya, Cindy Nirmala, Agla Artalidia, Sharon Jovian, Diaz Ardiawan, hingga Ence Bagus tampil solid sebagai pendukung, memperkuat dinamika drama keluarga dan ketegangan kolektif warga desa.

Visual Gelap, Atmosfer Menekan, dan Horor Tanpa Ampun

Deni Saputra sukses membangun atmosfer mencekam lewat sinematografi gelap, latar desa pesisir yang terasa sunyi dan angker, serta sound design Dolby Surround 7.1 yang efektif memancing rasa tidak nyaman. Penampakan makhluk halus, darah, dan adegan kekerasan disajikan secara eksplisit, membuat film ini pantas menyandang rating D17+.

Menariknya, cerita film ini terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis naskah Rebecca M. Bath, yang mengaku sering mengalami gangguan mistis saat hamil. Unsur ini membuat horor dalam film terasa lebih personal dan relevan, terutama bagi penonton dewasa.

Secara keseluruhan, Sengkolo: Petaka Satu Suro adalah film horor Indonesia yang solid dan berani. Meski masih menggunakan formula horor lokal yang familiar, kekuatan film ini terletak pada intensitas cerita, eksplorasi mitos Jawa, serta akting emosional Aulia Sarah.

Film ini cocok untuk penonton yang mencari horor serius, gelap, dan penuh tekanan psikologis. Namun, bagi yang tidak tahan dengan adegan brutal dan nuansa suram sepanjang film, Sengkolo: Petaka Satu Suro mungkin terasa cukup melelahkan.

Dengan teror yang terus meningkat hingga klimaks malam 1 Suro, film ini layak disebut sebagai salah satu horor lokal paling mencolok di awal 2026.