Review Film Backrooms: Teror Ruang Tanpa Akhir yang Bikin Penonton Gelisah Sepanjang Film

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Film Backrooms: Teror Ruang Tanpa Akhir yang Bikin Penonton Gelisah Sepanjang Film

Film horor terbaru produksi A24, Backrooms, berhasil mencuri perhatian sejak pertama kali diumumkan. Disutradarai oleh Kane Parsons, film ini mengadaptasi fenomena creepypasta internet legendaris yang selama bertahun-tahun menjadi bahan teori dan mimpi buruk warganet. Tidak hanya sukses secara viral, Backrooms juga mencatat pencapaian besar di box office global dengan pendapatan lebih dari US$212 juta hanya dalam waktu 10 hari penayangan.

Di Indonesia sendiri, film ini dijadwalkan tayang mulai 10 Juli 2026 di jaringan bioskop seperti XXI, CGV, dan Cinepolis. Kehadirannya menjadi salah satu rilisan horor paling dinantikan tahun ini, terutama bagi penggemar cerita misteri dan psychological horror.

Adaptasi Mitos Internet yang Berhasil Naik Kelas

Berawal dari sebuah foto ruangan kosong bernuansa kuning pucat yang viral di internet, konsep Backrooms berkembang menjadi salah satu urban legend digital paling terkenal. Kane Parsons, yang sebelumnya populer lewat serial pendek Backrooms di YouTube, kini berhasil membawa dunia menyeramkan tersebut ke layar lebar dengan pendekatan yang jauh lebih sinematik.

Alih-alih mengandalkan jumpscare berlebihan atau monster yang terus muncul di layar, Backrooms justru membangun ketakutan melalui atmosfer. Film ini menghadirkan rasa cemas yang perlahan tumbuh seiring karakter-karakternya tersesat di ruang liminal tanpa akhir.

Cerita berfokus pada Clark, pria pemilik toko furnitur yang diperankan Chiwetel Ejiofor. Hidup Clark sedang berada di titik terendah akibat kecanduan alkohol dan bisnis yang mulai hancur. Semua berubah ketika ia menemukan portal misterius di ruang bawah tanah tokonya yang mengarah ke dimensi asing bernama Backrooms.

Dari sinilah film mulai membawa penonton masuk ke dunia penuh lorong kosong, ruangan identik, dan pencahayaan neon yang terasa sangat tidak nyaman.

Atmosfer Menjadi Senjata Utama Film

Kekuatan terbesar Backrooms terletak pada atmosfernya. Kane Parsons memahami betul bahwa rasa takut tidak selalu harus datang dari sesuatu yang terlihat jelas. Film ini justru memainkan ketidakpastian dan rasa terisolasi sebagai sumber teror utama.

Lorong-lorong panjang tanpa ujung, suara dengungan lampu neon, serta desain ruangan yang tampak mustahil menciptakan pengalaman menonton yang benar-benar mengganggu secara psikologis. Ada perasaan seolah penonton ikut tersesat bersama para karakter.

Visual film juga tampil sangat memikat. Dominasi warna kuning pucat yang menjadi identitas Backrooms sukses diterjemahkan dengan efektif ke layar lebar. Setiap sudut ruangan terasa asing, kosong, namun sekaligus menakutkan.

Tak heran jika banyak kritikus menyebut film ini sebagai perpaduan nuansa The Shining, Twin Peaks, hingga karya-karya surreal milik David Lynch. Namun Backrooms tetap terasa memiliki identitasnya sendiri.

Penampilan Aktor Jadi Pendukung Penting

Selain visual dan atmosfer, performa para pemain juga menjadi nilai tambah besar. Chiwetel Ejiofor tampil kuat sebagai Clark, sosok pria yang perlahan kehilangan kewarasannya setelah terus memasuki dimensi misterius tersebut.

Sementara itu, Renate Reinsve memerankan Mary, psikolog Clark yang awalnya meragukan cerita pasiennya sebelum akhirnya ikut terseret ke dalam misteri Backrooms.

Keduanya berhasil menghadirkan dinamika emosional yang membuat film ini tidak hanya sekadar horor visual. Penonton juga diajak memahami trauma, rasa kesepian, hingga obsesi yang perlahan menghancurkan para karakter.

Misterius Hingga Akhir

Salah satu hal paling menarik dari Backrooms adalah keberaniannya mempertahankan misteri hingga akhir film. Kane Parsons sengaja tidak memberikan jawaban pasti mengenai apa sebenarnya Backrooms.

Apakah tempat itu nyata? Apakah hanya manifestasi psikologis? Atau ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik labirin tersebut? Semua pertanyaan itu dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan sendiri oleh penonton.

Pendekatan seperti ini mungkin terasa membingungkan bagi sebagian orang yang mengharapkan jawaban jelas. Namun justru di situlah kekuatan Backrooms berada. Film ini meninggalkan rasa penasaran bahkan setelah kredit penutup selesai.

 

Backrooms bukan film horor mainstream yang dipenuhi adegan mengejutkan setiap beberapa menit. Film ini lebih fokus membangun ketegangan perlahan lewat atmosfer, visual liminal space, dan rasa takut terhadap ketidakpastian.

Meski alurnya sesekali terasa abstrak dan ambigu, pengalaman yang ditawarkan tetap unik dan sulit dilupakan. Kane Parsons sukses membuktikan bahwa mitos internet sederhana bisa berkembang menjadi film horor modern yang cerdas, menyeramkan, sekaligus artistik.

Bagi penggemar psychological horror dan misteri surreal, Backrooms menjadi salah satu tontonan wajib tahun ini.