Review Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan: Drama Keluarga yang Hangat dan Penuh Air Mata

Tim Teaterdotco - 7 jam yang lalu
Review Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan: Drama Keluarga yang Hangat dan Penuh Air Mata

Di tengah ramainya film horor dan thriller di bioskop Indonesia, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan hadir sebagai drama keluarga yang menawarkan emosi sederhana tetapi sangat membekas. Film garapan Kuntz Agus dengan skenario karya Alim Sudio ini mengangkat tema Alzheimer, kehilangan memori, dan perjuangan keluarga mempertahankan cinta di tengah situasi yang perlahan berubah.

Sejak penayangan perdananya, film ini langsung mencuri perhatian penonton karena kisahnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak penonton mengaku keluar bioskop dengan mata sembab, bahkan ingin segera memeluk orang tua mereka setelah film selesai.

Kisah Keluarga yang Terasa Nyata

Cerita berpusat pada Yuke Yolanda, seorang guru sekolah dasar yang dikenal hangat dan sangat mencintai keluarganya. Karakter ini diperankan dengan sangat kuat oleh Lulu Tobing. Yuke hidup bersama suaminya, Aldo, yang diperankan Ibnu Jamil, serta tiga anak mereka: Kesha, Kenya, dan Karlo.

Awalnya keluarga ini terlihat seperti keluarga ideal pada umumnya. Ada pertengkaran kecil antar saudara, kesibukan pekerjaan, hingga konflik remaja yang terasa realistis. Namun semuanya berubah ketika Yuke mulai menunjukkan gejala lupa ingatan. Ia mulai salah jalan saat berangkat kerja, lupa ruang kelas tempat mengajar, hingga tanpa sadar meninggalkan anaknya di pasar.

Momen-momen kecil inilah yang membuat film terasa sangat emosional. Alzheimer dalam film ini tidak hadir sebagai drama berlebihan, melainkan sebagai luka yang datang perlahan. Penonton diajak melihat bagaimana sebuah keluarga mencoba bertahan ketika orang yang mereka cintai mulai kehilangan kenangan tentang mereka.

Akting Lulu Tobing Jadi Kekuatan Utama

Salah satu alasan film ini begitu menyentuh adalah kualitas akting para pemainnya. Penampilan Lulu Tobing layak disebut sebagai salah satu performa terbaik tahun ini. Ia berhasil memerankan sosok ibu yang hangat sekaligus rapuh tanpa terasa dibuat-buat.

Ekspresi bingung, tatapan kosong, hingga momen ketika Yuke perlahan kehilangan memorinya terasa sangat natural. Penonton bisa ikut merasakan ketakutan sekaligus kesedihan yang dialami karakter tersebut.

Sementara itu, Ibnu Jamil tampil kuat sebagai suami yang berusaha tegar menghadapi kondisi istrinya. Chemistry keduanya terasa sangat alami seperti pasangan suami istri sungguhan.

Tidak hanya itu, penampilan Yasmin Napper sebagai Kesha juga memberi warna tersendiri. Konflik batin antara mengejar mimpi atau mendampingi ibu yang sakit terasa relevan dengan kehidupan anak muda saat ini. Interaksi Kesha dengan Kenya dan Karlo juga membuat dinamika keluarga dalam film terasa hidup.

Mengangkat Isu Alzheimer dan Caregiving dengan Hangat

Salah satu nilai lebih film ini adalah keberaniannya mengangkat isu caregiving dan demensia yang masih jarang dibahas dalam perfilman Indonesia. Film ini memperlihatkan bahwa merawat anggota keluarga dengan Alzheimer bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras emosi.

Namun menariknya, film ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kesedihan. Di balik cerita pilu, ada banyak momen hangat yang justru memperlihatkan kekuatan cinta keluarga. Salah satu adegan paling menyentuh adalah ketika Aldo tetap menerima kondisi istrinya tanpa marah, bahkan saat Yuke mulai kehilangan kemampuan melakukan hal-hal sederhana.

Pesan yang ingin disampaikan film ini terasa jelas: nikmati waktu bersama keluarga sebelum semuanya berubah. Karena pada akhirnya, kenangan adalah hal paling berharga yang dimiliki manusia.

Layak Jadi Salah Satu Film Drama Terbaik Tahun Ini

Secara visual, film ini memang tampil sederhana tanpa gimmick berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu membuat emosi cerita terasa lebih kuat. Fokus utama film benar-benar ada pada hubungan antar anggota keluarga.

Dengan durasi lebih dari 100 menit, Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan berhasil menghadirkan drama keluarga yang hangat, reflektif, sekaligus relatable bagi banyak penonton Indonesia.

Film ini bukan hanya tentang Alzheimer, tetapi tentang rasa takut kehilangan orang tercinta, tentang kenangan masa kecil, dan tentang bagaimana keluarga tetap memilih bertahan di saat tersulit.

Bagi pencinta drama keluarga emosional, film ini menjadi salah satu tontonan wajib di bioskop tahun 2026. Siapkan tisu sebelum menonton, karena film ini kemungkinan besar akan membuat siapa pun teringat pada keluarga mereka sendiri.