Review Film Iron Lung: Eksperimen Ambisius Markiplier di Layar Lebar

Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Review Film Iron Lung: Eksperimen Ambisius Markiplier di Layar Lebar

Markiplier akhirnya membuktikan bahwa kreator YouTube juga bisa main di level bioskop. Lewat Iron Lung, ia bukan cuma jadi pemeran utama, tapi juga menulis, menyutradarai, mengedit, sekaligus membiayai sendiri film ini. Adaptasi dari gim horor karya David Szymanski tersebut bahkan rilis secara luas di bioskop, bukan sekadar tayang digital.

Secara pencapaian, ini sudah jadi langkah besar. Tapi bagaimana dengan kualitas filmnya?

Premis Simpel tapi Mencekam

Iron Lung mengambil latar dunia setelah peristiwa misterius bernama Quiet Rapture, ketika semua bintang dan planet tiba-tiba menghilang. Sisa umat manusia bertahan di stasiun luar angkasa dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Karakter utamanya adalah Simon, seorang narapidana yang diberi kesempatan bebas dengan satu syarat. Ia harus menyelam ke bulan asing yang seluruh permukaannya berupa lautan darah. Misinya adalah menjelajah menggunakan kapal selam tua bernama Iron Lung untuk mencari sumber daya demi kelangsungan hidup manusia.

Masalahnya, kapal itu sempit, alatnya terbatas, dan ada sesuatu di kedalaman yang jelas bukan manusia.

Konsepnya sebenarnya kuat. Rasa sesak, sendirian, dan tidak tahu apa yang menunggu di luar kapal selam jadi sumber horor utama. Film ini ingin membuat penonton merasa kecil di tengah sesuatu yang jauh lebih besar.

Terlalu Lama di Ruang Sempit

Sayangnya, ide yang menarik ini terasa ditarik terlalu panjang.

Durasi film yang lebih dari dua jam menjadi tantangan besar, apalagi hampir seluruh cerita terjadi di satu lokasi dengan satu karakter. Kita banyak melihat Simon memutar tuas, mengecek layar, mencatat koordinat, atau berdebat lewat radio.

Di beberapa menit awal, atmosfer tegangnya masih terasa. Namun makin lama, ritmenya menjadi sangat lambat. Alih-alih bikin deg-degan, filmnya justru terasa repetitif dan melelahkan.

Sebagai adaptasi gim, Iron Lung memang setia dengan konsep aslinya. Namun, apa yang efektif di gim belum tentu bekerja sama ketika dijadikan film panjang. Banyak momen yang terasa seperti level permainan yang diulang-ulang tanpa perkembangan signifikan.

Visual Keren, Eksekusi Belum Maksimal

Secara teknis, film ini patut diapresiasi. Set kapal selamnya dibuat nyata dan bisa benar-benar berguncang saat adegan kacau. Efek darahnya juga total dan diklaim memecahkan rekor penggunaan darah palsu terbanyak di lokasi syuting.

Musik dari Andrew Hulshult yang dikenal lewat Doom Eternal berhasil menambah rasa tegang, terutama saat kamera sinar X memperlihatkan kilasan menyeramkan dari luar kapal.

Beberapa adegan di tiga puluh menit terakhir akhirnya benar-benar terasa intens. Ada momen gore, ada ketegangan yang lebih terasa, dan konflik yang akhirnya bergerak maju. Sayangnya, semuanya datang agak terlambat sehingga tidak sepenuhnya menebus dua jam sebelumnya.

Tema Harapan yang Jadi Inti Cerita

Di balik horornya, film ini sebenarnya bicara soal harapan. Organisasi yang mengirim Simon terus menjanjikan kebebasan jika ia mau menyelam sedikit lebih dalam. Harapan itu menjadi semacam umpan.

Makhluk di kedalaman laut darah juga digambarkan seperti predator yang menarik mangsanya dengan cahaya. Simbolismenya cukup jelas. Manusia sering digerakkan oleh harapan, bahkan saat itu bisa menghancurkan mereka.

Menariknya, film ini tidak terasa sepenuhnya gelap tanpa makna. Meski penuh keputusasaan, tetap ada pesan bahwa manusia akan terus berharap walau dunia sudah hampir padam.

Performa Markiplier di Layar Lebar

Sebagai aktor, Markiplier tampil cukup natural di momen-momen tenang. Karismanya sebagai kreator memang terasa. Namun ketika masuk ke adegan emosional atau marah, aktingnya kadang terasa berlebihan dan kurang halus.

Karakter Simon sendiri juga kurang digali lebih dalam. Kita tahu dia narapidana, tetapi latar belakangnya tidak pernah benar-benar dijelaskan secara kuat. Akibatnya, sulit untuk benar-benar terhubung secara emosional dengan perjuangannya.

Layak Ditonton atau Tidak

Iron Lung adalah film yang ambisius, berani, dan jelas dibuat dengan cinta terhadap materi aslinya. Dibanding adaptasi gim lain seperti Return to Silent Hill, film ini terasa lebih personal dan tidak sekadar proyek komersial.

Namun di sisi lain, ritme lambat dan durasi panjang membuatnya tidak ramah untuk semua penonton. Ini bukan film horor yang penuh kejutan cepat atau aksi tanpa henti. Ini film yang menuntut kesabaran.

Bagi penggemar Markiplier, film ini terasa seperti pencapaian besar yang patut dirayakan. Bagi penonton umum, Iron Lung bisa menjadi pengalaman horor yang unik atau justru terasa terlalu melelahkan.

Satu hal yang pasti, langkah Markiplier ini menunjukkan bahwa kreator internet kini bukan lagi sekadar pengisi konten digital, tetapi sudah mulai mengambil ruang serius di industri film.