Review Film Scream 7: Nostalgia, Teror Ghostface, dan Trauma yang Tak Pernah Usai

Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Review Film Scream 7: Nostalgia, Teror Ghostface, dan Trauma yang Tak Pernah Usai

Setelah sukses komersial film sebelumnya, waralaba horor legendaris ini kembali lewat Scream 7. Film ketujuh yang kembali digarap oleh kreator awalnya, Kevin Williamson, menjadi momen spesial karena untuk pertama kalinya ia duduk di kursi sutradara. Namun, di tengah euforia nostalgia dan kembalinya karakter ikonik, pertanyaan besarnya tetap sama: masih relevankah teror Ghostface di 2026?

Kembalinya Final Girl yang Ikonik

Daya tarik utama tentu saja kembalinya Neve Campbell sebagai Sidney Prescott, sosok “final girl” yang sudah melekat selama hampir 30 tahun. Kali ini Sidney mencoba menjalani hidup tenang di Pine Grove bersama suaminya Mark (Joel McHale) dan putrinya, Tatum yang diperankan Isabel May.

Kedamaian itu tak berlangsung lama. Ghostface kembali meneror, kali ini mengincar lingkaran pertemanan Tatum. Dari sinilah konflik generasi muncul. Jika dulu Sidney adalah korban yang bertahan hidup, kini ia menjadi ibu yang dihantui trauma masa lalu sekaligus ketakutan kehilangan anaknya.

Relasi ibu dan anak menjadi salah satu elemen paling kuat di film ini. Ada ketegangan emosional yang terasa nyata, terutama saat Tatum mulai mempertanyakan kecemasan berlebihan sang ibu. Tema trauma lintas generasi sebenarnya menarik dan relevan, sayangnya tidak digali sedalam yang diharapkan.

Nostalgia yang Terlalu Aman?

Sejak awal, film ini secara terbuka bermain dengan nostalgia. Courteney Cox kembali sebagai Gale Weathers, ditemani penyintas generasi baru seperti Chad dan Mindy. Bahkan kemunculan karakter lama seperti Stu Macher sempat menjadi bahan promosi yang menggoda rasa penasaran penggemar lama.

Namun di balik semua itu, pola ceritanya terasa familier. Teror kucing-dan-tikus, pembunuhan brutal, deretan karakter yang bergantian dicurigai, hingga pengungkapan pelaku dengan motif balas dendam — semuanya seperti pengulangan dari formula yang sudah berkali-kali dipakai.

Jika pada era awal, seri ini terasa segar karena cerdas mengomentari klise film slasher, kali ini meta-komentarnya terasa lebih tipis. Ada sentuhan isu kekinian seperti AI, deepfake, dan budaya nostalgia, tetapi hanya menjadi lapisan permukaan tanpa eksplorasi mendalam.

Lebih Brutal, Tapi Kurang Menggigit

Dari sisi ketegangan, Williamson masih mampu membangun atmosfer mencekam. Beberapa adegan pembunuhan dieksekusi dengan intens dan kreatif. Salah satu adegan dengan properti keran bir bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang paling brutal dalam sejarah franchise.

Masalahnya, karakter pendukung kurang diberi ruang untuk berkembang. Akibatnya, saat satu per satu korban berjatuhan, emosi penonton tidak terlalu terlibat. Pengungkapan identitas Ghostface kali ini juga dinilai sebagai salah satu yang paling lemah sepanjang seri.

Walau begitu, performa Campbell tetap solid. Ia membawa kedalaman emosional yang membuat film ini tetap punya pijakan. Isabel May juga tampil menjanjikan sebagai generasi penerus final girl.

Layak Tonton atau Sudah Waktunya Berpamitan?

Secara komersial, Scream memang selalu menemukan pasarnya. Sejak film pertama karya Wes Craven pada 1996, waralaba ini berhasil bertahan melewati perubahan tren horor, dari slasher klasik hingga era “elevated horror”.

Scream 7 memang bukan yang terbaik dalam seri ini. Ia tak secerdas dua film pertamanya, dan tak seenerjik sekuel terbaru sebelumnya. Namun sebagai tontonan horor penuh darah dan nostalgia, film ini masih mampu memberikan hiburan.

Pertanyaannya kini bukan lagi siapa Ghostface berikutnya, melainkan: apakah franchise ini masih punya cerita baru untuk ditawarkan? Jika ini benar menjadi penutup, maka Scream 7 adalah salam perpisahan yang cukup layak meski terasa lebih lelah daripada revolusioner.

Bagi penggemar lama, film ini tetap menarik untuk ditonton. Tapi bagi yang berharap inovasi besar, mungkin akan merasa bahwa jeritan kali ini tak lagi sekuat dulu.