Review Marty Supreme (2026), Drama Tenis Meja Penuh Ambisi dan Ego

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Marty Supreme (2026), Drama Tenis Meja Penuh Ambisi dan Ego

Kalau kamu mengira Marty Supreme adalah film olahraga penuh motivasi dengan akhir manis dan tepuk tangan meriah, siap-siap dibuat kaget. Film arahan Josh Safdie ini justru seperti dua setengah jam diajak masuk ke kepala seorang anak muda ambisius yang pikirannya gak pernah benar-benar tenang.

Diproduksi oleh A24 dan mengantongi sembilan nominasi di Academy Awards 2026, Marty Supreme datang dengan reputasi besar. Tapi lebih dari sekadar film “prestise”, karya ini terasa liar, emosional, dan kadang bikin penonton ikut capek dalam arti yang positif.

Sinopsis: Mimpi Besar dari Anak Sales Sepatu

Berlatar New York tahun 1952, Marty Mauser adalah pemuda 23 tahun yang bekerja sebagai sales sepatu di toko pamannya. Secara hidup, ia biasa saja. Tapi di kepalanya, Marty merasa dirinya ditakdirkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar.

Ia punya satu obsesi: jadi legenda tenis meja dunia.

Ambisinya membawanya terbang ke Inggris untuk ikut turnamen besar di Wembley. Dari situ, hidup Marty makin gak terkontrol. Ia terlibat hubungan rumit dengan aktris terkenal Kay Stone (Gwyneth Paltrow), sekaligus masih terikat secara emosional dengan Rachel Mizler (Odessa A'zion).

Alih-alih jadi kisah perjuangan klasik, film ini justru fokus pada sisi gelap ambisi. Marty bukan tokoh baik-baik. Ia manipulatif, impulsif, dan sering kali egois. Tapi justru itu yang bikin karakternya terasa nyata.

Ritmenya Cepat, Dialognya Tumpuk-Tumpukan

Satu hal yang langsung terasa sejak awal: film ini berisik. Dialog saling sahut tanpa jeda. Belum selesai satu orang bicara, yang lain sudah memotong. Suasananya padat, tegang, dan seperti gak pernah memberi ruang untuk bernapas.

Josh Safdie memang dikenal dengan gaya penyutradaraan yang intens. Di sini, ia membawa penonton masuk ke dunia yang kacau—dan itu terasa sengaja. Hidup Marty digambarkan seperti permainan pingpong: cepat, bolak-balik, penuh risiko.

Buat sebagian orang, ini bisa terasa melelahkan. Tapi buat yang menikmati drama karakter kompleks, justru di situlah letak kekuatannya. Kekacauan bukan gangguan cerita. Kekacauan adalah ceritanya.

Akting Timothée Chalamet: Brutal dan Total

Kalau ada alasan utama kenapa film ini wajib ditonton, jawabannya adalah Timothée Chalamet.

Ini mungkin penampilan paling nekat dalam kariernya. Ia membuang citra bintang muda yang charming dan menggantinya dengan karakter yang tengil, keras kepala, dan kadang menyebalkan.

Gerakan tangannya saat memegang bet, sorot matanya ketika bertanding, sampai ledakan emosinya terasa meyakinkan. Ia benar-benar terlihat seperti atlet profesional, bukan aktor yang sekadar berlatih sebentar.

Lebih dari itu, Chalamet berhasil menunjukkan sisi rapuh Marty. Di balik ego besar dan sikap sok yakin, ada anak muda yang sebenarnya haus pengakuan dan belum berdamai dengan dirinya sendiri.

Gwyneth Paltrow tampil elegan sebagai perempuan yang hidup dalam kemewahan tapi merasa kosong. Sementara Odessa A’zion memberi warna emosional yang kuat lewat karakter Rachel yang berkembang dan berani mengambil sikap.

Visual Penuh Nyawa

New York tahun 50-an di film ini tidak digambarkan glamor. Kota terasa berasap, sesak, dan penuh tekanan. Visualnya agak kasar, dengan warna-warna redup yang bikin suasana makin gelisah.

Tata suara jadi salah satu elemen paling kuat. Suara bola pingpong, percakapan yang saling tabrak, musik yang terus mengalun—semuanya membuat penonton seolah berada di dalam kepala Marty yang gak pernah sepi.

Durasi 149 menit mungkin terdengar panjang, tapi editing yang cepat bikin film ini terasa padat. Meski di beberapa bagian ceritanya sedikit melebar, secara keseluruhan energi film tetap terjaga sampai akhir.

 

Marty Supreme bukan film santai untuk ditonton sambil rebahan. Ini film yang menuntut perhatian dan energi. Ada momen yang bikin emosi, ada yang bikin gemas, bahkan ada yang bikin ingin teriak ke layar.

Meski bagian ending terasa sedikit kurang “nendang” dibanding awalnya yang meledak-ledak, film ini tetap jadi salah satu karya paling berani tahun ini.

Pada akhirnya, Marty Supreme bukan cuma soal tenis meja atau turnamen. Ini cerita tentang anak muda 23 tahun yang terlalu percaya diri dengan mimpinya, sampai lupa bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri.

Dan lewat penampilan total Timothée Chalamet, perjalanan Marty terasa begitu hidup, berisik, kacau, tapi manusiawi.