Film Songko Angkat Legenda Minahasa, Sajikan Horor Berlatar Budaya Lokal
Tim Teaterdotco - 3 jam yang lalu
Industri perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran film horor terbaru berjudul Songko. Film Songko menjadi salah satu karya yang paling dinantikan karena mengangkat kisah dari legenda lokal Sulawesi Utara, khususnya dari wilayah Minahasa dan Tomohon. Dijadwalkan tayang mulai 23 April 2026, film ini menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga sarat nilai budaya.
Mengangkat Legenda Lokal yang Melekat di Masyarakat
Film Songko menghadirkan cerita yang terinspirasi dari urban legend yang sudah lama dipercaya masyarakat setempat. Sosok Songko digambarkan sebagai makhluk gaib menyeramkan yang diyakini sebagai jelmaan manusia. Makhluk ini disebut-sebut mengincar darah perempuan muda demi mencapai kesempurnaan fisik, awet muda, hingga keabadian.
Dalam cerita yang berlatar tahun 1986, sebuah desa di Tomohon dilanda teror misterius. Perempuan-perempuan muda ditemukan tewas tanpa penyebab yang jelas, memicu kepanikan dan kecurigaan di tengah warga. Kepercayaan terhadap sosok Songko pun semakin kuat, hingga akhirnya muncul konflik sosial yang memecah persatuan desa.
Alur Cerita Penuh Teror dan Konflik Sosial
Film Songko tidak hanya menyajikan ketegangan dari sisi horor, tetapi juga memperlihatkan dinamika sosial masyarakat yang diliputi rasa takut. Tuduhan demi tuduhan bermunculan, hingga mengarah pada keluarga Mikha. Sosok Helsye, ibu tiri Mikha, dituding sebagai dalang di balik kemunculan Songko.
Cerita semakin intens ketika keluarga tersebut diusir dari desa. Namun, teror tidak berhenti begitu saja. Justru, misteri semakin dalam ketika korban terus berjatuhan, dan kebenaran tentang sosok Songko semakin sulit diungkap. Film ini membawa penonton menyelami rasa takut, prasangka, dan konflik yang terjadi akibat ketidaktahuan.
Debut Sutradara dan Kekuatan Cerita Autentik
Film Songko menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar. Sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario, Gerald menghadirkan pendekatan berbeda dengan menggali cerita rakyat sebagai fondasi utama film.
Pendekatan ini diperkuat dengan konsep hyperlocal storytelling, di mana produksi film melibatkan banyak talenta lokal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon. Hal ini membuat nuansa cerita terasa lebih autentik dan dekat dengan budaya asli daerah tersebut.
Proses syuting bahkan dilakukan langsung di Sulawesi Utara, termasuk di kawasan kaki Gunung Lokon. Set lokasi yang dibangun tidak hanya digunakan untuk produksi, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem kreatif di daerah.
Diperkuat Jajaran Pemain Berbakat
Film Songko dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Para pemain mengaku tertarik terlibat karena kekuatan cerita yang berbeda dari film horor pada umumnya.
Selain menghadirkan teror visual, film ini juga menekankan sisi emosional dan psikologis, terutama bagaimana rasa takut dapat memicu perpecahan dalam masyarakat.
Siap Jadi Horor Lokal yang Berbeda
Dengan perpaduan antara legenda lokal, konflik sosial, dan atmosfer mencekam, film Songko berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia yang menonjol di tahun 2026. Tidak sekadar menghadirkan jumpscare, film ini mencoba memberikan pengalaman horor yang lebih dalam dan bermakna.
Bagi pecinta film horor, Songko menjadi tontonan wajib yang menawarkan cerita segar sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke layar lebar.