Review Cerita Lila: Perpaduan Horor dan Drama yang Seimbang

-
Review Cerita Lila: Perpaduan Horor dan Drama yang Seimbang

Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir mulai berani keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan jumpscare dan penampakan. Salah satu yang terasa berbeda adalah Cerita Lila, film terbaru garapan sutradara Bobby Prasetyo produksi MVP Pictures yang resmi tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026.

Diangkat dari kisah viral di kanal YouTube Diary Misteri Sara, film ini memang masih membawa elemen mistis khas penelusuran supranatural. Namun yang membuat Cerita Lila terasa menonjol justru bukan hantunya, melainkan drama emosional dan trauma keluarga yang perlahan berubah menjadi teror psikologis.

Selama 106 menit, film ini sukses menghadirkan rasa tidak nyaman yang konsisten. Bukan tipe horor yang membuat penonton terus-terusan berteriak, tetapi lebih ke perasaan sesak dan merinding yang bertahan sampai lampu bioskop menyala.

Kisah Rumah Tua dan Trauma Masa Lalu

Cerita berpusat pada Tari (Lutesha), seorang ibu tunggal yang hidupnya sedang berantakan. Kariernya sebagai agen properti berada di ujung tanduk, sidang perceraian makin dekat, sementara ia juga harus memperjuangkan hak asuh anak semata wayangnya, Nia (Myesha Lin).

Di tengah tekanan hidup tersebut, Tari mendapat tugas menjual sebuah rumah tua yang sudah lama kosong dan tidak kunjung laku. Karena keadaan ekonomi yang semakin sulit setelah dirinya dan Nia diusir dari rusun tempat tinggal mereka, Tari nekat tinggal sementara di rumah itu tanpa sepengetahuan kantor maupun pemilik rumah.

Keputusan itulah yang kemudian membuka pintu teror.

Nia mulai mendengar suara anak kecil di malam hari. Ia kemudian bertemu dengan arwah anak perempuan bernama Lili yang meminta bantuan untuk mencari saudara kembarnya, Lila. Perlahan, misteri rumah tua itu mulai terungkap, termasuk sosok Rahma (Shareefa Daanish), ibu yang menyimpan tragedi kelam bersama kedua anaknya.

Di saat bersamaan, Sara Wijayanto dan Wisnu Hardana hadir sebagai diri mereka sendiri untuk menyelidiki energi mistis di rumah tersebut. Menariknya, kehadiran tim Diary Misteri Sara justru terasa natural dan tidak dipaksakan menjadi gimmick semata.

Tidak Sibuk Menjual Jumpscare

Satu hal yang paling terasa dari Cerita Lila adalah cara film ini membangun horor secara perlahan. Bobby Prasetyo tampaknya sadar bahwa ketakutan tidak selalu harus datang dari wajah menyeramkan atau suara keras mendadak.

Film ini lebih banyak bermain di atmosfer. Lorong rumah yang gelap, suara langkah kaki di tengah malam, tatapan kosong karakter, hingga suasana sunyi yang terasa ganjil menjadi sumber teror utama.

Beberapa adegan bahkan terasa lebih menyeramkan karena minim dialog.

Ada satu momen ketika Tari mulai kehilangan kendali atas dirinya akibat kerasukan. Adegan itu menjadi salah satu bagian paling intens dalam film. Lutesha tampil total secara fisik maupun emosional hingga penonton bisa ikut merasakan kepanikan dan tekanan yang dialami karakternya.

Horor dalam Cerita Lila juga terasa lebih dekat karena berangkat dari trauma manusia. Film ini bicara soal depresi, pola asuh yang salah, pengkhianatan, dan rasa kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Lutesha dan Shareefa Daanish Tampil Kuat

Penampilan Lutesha menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa hidup. Ia berhasil membawakan sosok Tari sebagai ibu muda yang rapuh, lelah, tetapi tetap mencoba bertahan demi anaknya.

Emosi yang dibangun terasa natural, terutama di adegan-adegan ketika Tari mulai mengalami tekanan mental. Chemistry antara Lutesha dan Myesha Lin juga cukup kuat sehingga hubungan ibu dan anak di film ini terasa hangat sekaligus menyedihkan.

Sementara itu, Shareefa Daanish kembali membuktikan dirinya masih menjadi salah satu figur paling kuat di genre horor Indonesia. Sebagai Rahma, ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya langsung menciptakan rasa takut.

Ekspresi dingin dan sorot matanya justru menjadi senjata utama yang membuat karakter Rahma terasa mengintimidasi.

Visual dan Atmosfer Jadi Nilai Plus

Dari sisi teknis, Cerita Lila tampil cukup rapi. Tata artistik rumah tua berhasil membangun nuansa angker tanpa terlihat berlebihan. Pencahayaan redup dipakai dengan efektif untuk menciptakan rasa sempit dan tidak nyaman.

Desain suara juga menjadi elemen penting yang membuat atmosfer film terasa hidup. Bunyi-bunyi kecil di dalam rumah justru sering kali lebih efektif memancing ketegangan dibanding musik keras.

Untungnya, film ini tidak terlalu bergantung pada efek CGI berlebihan sehingga nuansa horornya tetap terasa realistis.

Layak Ditonton Pecinta Horor Psikologis

Meski pacing di awal terasa agak lambat karena fokus membangun karakter dan latar cerita, semuanya terbayar ketika misteri mulai terbuka satu per satu.

Cerita Lila bukan film horor yang hanya mengejar ketakutan sesaat. Film ini mencoba membawa penonton masuk ke dalam luka emosional para karakternya. Ada rasa sedih, marah, sekaligus iba yang bercampur menjadi satu.

Bagi penonton yang menyukai horor psikologis dengan drama keluarga yang kuat, film ini layak masuk daftar tontonan di bioskop.

Pada akhirnya, Cerita Lila membuktikan bahwa terkadang hal paling menyeramkan bukanlah sosok hantu, melainkan trauma manusia yang tidak pernah selesai.