30 Hari Tayang di Bioksop, Kuyank Resmi Jadi Film Indonesia Kedua Tembus 1 Juta Penonton di 2026

Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
30 Hari Tayang di Bioksop, Kuyank Resmi Jadi Film Indonesia Kedua Tembus 1 Juta Penonton di 2026

Kuyank: Saranjana the Prequel resmi menembus 1 juta penonton setelah 30 hari tayang di bioskop seluruh Indonesia. Capaian ini menempatkan film tersebut sebagai salah satu film box office Indonesia 2026 dan memperkuat posisi genre horor lokal di tengah persaingan ketat film impor.

Berdasarkan data penayangan hingga akhir Februari 2026, Kuyank sebelumnya telah mengantongi lebih dari 987 ribu penonton di hari ke-29. Tren penonton yang stabil akhirnya mengantarkan film produksi DHF Entertainment ini melewati angka psikologis 1 juta tiket.

Film ini sekaligus menjadi film Indonesia kedua di tahun 2026 yang berhasil menembus satu juta penonton setelah Alas Roban.

Konsisten di Tengah Lesunya Ramadan

Pencapaian ini terbilang impresif karena diraih di tengah periode Ramadan, saat kunjungan ke bioskop biasanya melambat. Meski begitu, Kuyank mampu menjaga performa harian yang stabil.

Pada 27 Februari 2026, film ini mencatat hampir 18 ribu penonton dalam sehari dan menempati posisi kedua film terlaris harian, hanya kalah dari film impor Panda Plan 2 yang dibintangi Jackie Chan.

Antusiasme paling terasa di wilayah Kalimantan. Sejak awal tayang, angka penonton di kawasan tersebut tergolong tinggi dan konsisten. Sutradara sekaligus produser Johansyah Jumberan menyampaikan terima kasih khusus kepada masyarakat Kalimantan atas dukungan yang luar biasa.

Perkuat Dominasi Saranjana Universe

Kesuksesan Kuyank tak bisa dilepaskan dari popularitas semesta ceritanya, yakni Saranjana: Kota Ghaib yang rilis pada 2023. Film tersebut sebelumnya sukses mengumpulkan lebih dari 1,2 juta penonton dan memperkenalkan mitos kota gaib Saranjana ke layar lebar.

Dengan tembusnya 1 juta penonton, Kuyank semakin mempertegas dominasi “Saranjana Universe” di perfilman nasional. Johansyah berharap capaian ini menjadi modal kuat untuk mengembangkan cerita ke tahap berikutnya.

Produksi Masif, Libatkan Talenta Lokal

Film yang dibintangi Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, dan Ochi Rosdiana ini menjalani proses produksi yang tidak main-main.

Tim produksi membawa peralatan kamera seberat sekitar 1,5 ton dari Jakarta ke Kalimantan. Syuting berlangsung selama 21 hari di sejumlah lokasi seperti Kandangan dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Putri Intan bahkan mengaku mengalami adegan ekstrem saat harus masuk ke dalam gentong besar dan dihanyutkan di sungai pada dini hari. Sekitar 50 persen dialog film ini menggunakan bahasa Banjar dan melibatkan banyak talenta lokal, termasuk musisi daerah untuk pengisi soundtrack.

Sinopsis: Cinta, Ilmu Hitam, dan Teror Kuyang

Sebagai prekuel, Kuyank: Saranjana the Prequel mengambil latar tujuh tahun sebelum kisah kota gaib Saranjana terbuka. Cerita berfokus pada Rusmiati, istri Badri, yang tertekan karena tak kunjung memiliki anak.

Desakan keluarga dan ancaman pernikahan kedua membuat Rusmiati nekat mempelajari ilmu hitam kuyang demi mempertahankan cintanya. Keputusan itu berubah menjadi malapetaka. Teror menghantui desa, terutama ibu hamil dan bayi, hingga rahasia kelam terungkap.

Perpaduan horor mistis Kalimantan, konflik keluarga, dan tekanan budaya menjadi kekuatan utama film ini. Atmosfer mencekam yang dibangun secara konsisten membuat penonton terus penasaran hingga akhir cerita.

Keberhasilan Kuyank menembus 1 juta penonton menjadi sinyal positif bagi industri film Indonesia. Di tengah banyaknya film horor yang tayang, karya ini mampu menonjol berkat cerita yang kuat dan pendekatan produksi yang serius.

Kini publik menanti, apakah Kuyank mampu melaju hingga 1,5 juta penonton atau akan melandai dalam beberapa pekan ke depan. Yang jelas, teror dari Saranjana Universe belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.