Review Bhooth Bangla: Reuni Akshay Kumar dan Priyadarshan
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film Bhooth Bangla menjadi salah satu proyek yang paling dinanti pada 2026. Reuni antara Akshay Kumar dan Priyadarshan langsung membangkitkan ekspektasi tinggi, mengingat kesuksesan mereka lewat film-film komedi legendaris seperti Bhool Bhulaiyaa. Namun sayangnya, hasil akhir film ini justru jauh dari harapan.
Alih-alih menghadirkan horor-komedi segar, Bhooth Bangla terasa seperti upaya mengulang formula lama yang sudah usang.
Premis Menarik yang Tidak Dikembangkan Maksimal
Cerita film ini berpusat di desa fiktif Mangalpur, yang dihantui legenda makhluk jahat bernama Vadhusur—entitas yang menculik dan membunuh pengantin baru. Konflik ini membuat warga takut menikah di desa tersebut.
Karakter Arjun Acharya (Akshay Kumar) datang dari London untuk mengurus pernikahan adiknya, Meera (Mithila Palkar), di sebuah istana tua peninggalan keluarga. Namun, alih-alih menjadi lokasi romantis, istana tersebut justru menyimpan teror masa lalu.
Secara konsep, cerita ini sebenarnya menjanjikan. Perpaduan mitologi, misteri, dan komedi bisa menjadi daya tarik utama. Sayangnya, eksekusi naskah terasa bertele-tele dan terlalu banyak menjelaskan, sehingga mengurangi rasa penasaran penonton.
Komedi Usang dan Horor yang Minim Dampak
Salah satu kelemahan paling mencolok dalam Bhooth Bangla adalah humornya. Gaya komedi slapstick khas Priyadarshan memang masih terasa, namun kini terlihat ketinggalan zaman. Banyak lelucon yang dipaksakan dan gagal memancing tawa.
Aktor-aktor senior seperti Paresh Rawal, Rajpal Yadav, dan Asrani sebenarnya memiliki potensi besar. Namun, mereka lebih sering dijadikan pelengkap komedi fisik yang repetitif, bukan bagian penting dari cerita.
Dari sisi horor, film ini juga tidak berhasil membangun ketegangan. Alih-alih menghadirkan suasana mencekam, film terlalu bergantung pada efek suara keras dan visual CGI yang kurang meyakinkan. Hasilnya, alih-alih menakutkan, banyak adegan justru terasa berisik dan melelahkan.
Performa Aktor: Kuat tapi Terbatas Naskah
Akshay Kumar tetap menjadi daya tarik utama. Ia terlihat nyaman memainkan karakter komedi yang sedikit ceroboh, meski naskah tidak memberinya ruang eksplorasi yang cukup.
Sementara itu, Tabu tampil singkat namun cukup mencuri perhatian. Sayangnya, perannya terlalu minim untuk memberikan dampak besar. Wamiqa Gabbi juga tampil cukup baik, tetapi karakternya terasa dangkal dan mudah ditebak.
Chemistry antar karakter pun tidak terasa kuat, sebagian karena dialog yang terdengar kaku dan kurang natural.
Babak Kedua yang Kehilangan Arah
Masalah terbesar film ini muncul di paruh kedua. Alih-alih meningkatkan tensi, cerita justru terjebak dalam penjelasan panjang, flashback berulang, dan konflik yang dipaksakan.
Durasi film yang cukup panjang semakin memperparah keadaan. Ritme cerita melambat, dan klimaks yang seharusnya menjadi puncak justru terasa datar.
Selain itu, film juga mencoba memasukkan pesan moral tentang tradisi dan kewajiban keluarga, namun penyampaiannya terasa menggurui dan tidak menyatu dengan alur cerita.
Terlalu Mengandalkan Nostalgia
Tak bisa dipungkiri, Bhooth Bangla sangat bergantung pada nostalgia kesuksesan Bhool Bhulaiyaa. Bahkan beberapa adegan terasa seperti mencoba menghidupkan kembali momen ikonik, namun gagal memberikan dampak emosional yang sama.
Alih-alih inovatif, film ini justru terasa seperti kumpulan ide lama yang dirangkai tanpa arah jelas.
Kesimpulan
Bhooth Bangla adalah contoh bagaimana kombinasi besar tidak selalu menghasilkan karya yang solid. Film ini memiliki premis menarik, jajaran aktor kuat, dan potensi besar, tetapi terhambat oleh naskah lemah, komedi usang, serta eksekusi yang tidak fokus.
Bagi penggemar berat Akshay Kumar, film ini mungkin masih layak ditonton sekali. Namun, bagi penonton yang mengharapkan horor-komedi segar dan cerdas, Bhooth Bangla kemungkinan besar akan terasa mengecewakan.