Ada KPop dalam Koplo: Kisah Idol Korea Temukan Jati Diri di Indonesia

Tim Teaterdotco - Rabu, 18 Maret 2026 09:12 WIB
Ada KPop dalam Koplo: Kisah Idol Korea Temukan Jati Diri di Indonesia

Industri perfilman tanah air kembali memberikan kejutan segar dengan menghadirkan sebuah karya yang memadukan dua fenomena musik besar dunia: K-Pop dan Koplo. Film terbaru berjudul Ada KPop dalam Koplo (AKDK) saat ini sedang menjadi sorotan setelah diketahui menjalani proses syuting langsung di Negeri Gingseng, Korea Selatan.

Film yang disutradarai oleh Arwin Tri Wardhana ini tidak hanya menjanjikan komedi yang mengocok perut, tetapi juga sebuah narasi hangat tentang akulturasi budaya. Produksi film ini dilakukan di bawah naungan Kreasinema Production House dengan kawalan produser kenamaan seperti Mo Sidik, Adi Nugroho, dan Executive Producer Danang Wicaksana Sulistya.

Syuting di Dua Negara: Dari Hangang hingga Bantul

Salah satu daya tarik utama dari film ini adalah pemilihan lokasi syutingnya yang sangat kontras namun saling melengkapi. Tim produksi AKDK memboyong kru dan aktor ke Korea Selatan untuk mengambil gambar di ikon-ikon populer seperti kawasan Hongdae, tepian Sungai Hangang, hingga kesibukan Bandara Internasional Incheon.

Langkah ini diambil untuk memberikan nuansa autentik pada cerita. Menariknya, di saat publik Indonesia sedang ramai membicarakan artis Korea yang syuting di Jakarta, kru film AKDK justru terlihat menghadiri acara buka bersama di KBRI Seoul pada awal Maret 2026 lalu di tengah jadwal syuting mereka.

Tak hanya Korea, kearifan lokal Indonesia tetap menjadi fondasi utama. Lokasi syuting di tanah air dipusatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Dusun Tegal Senggotan, Bantul, serta kawasan Taman Budaya Embung Giwangan.

Sinopsis Ada KPop dalam Koplo: Perjalanan Mencari Identitas

Bagi Anda yang penasaran, sinopsis Ada KPop dalam Koplo berfokus pada kehidupan seorang gadis di Korea Selatan bernama Soo Jin. Setelah kehilangan arah pasca ditinggal pergi oleh ibunya, Soo Jin mencoba peruntungan dengan berkarier di industri musik Korea sebagai anggota girl group.

Namun, gemerlap dunia idol tidaklah semudah yang dibayangkan. Soo Jin menghadapi berbagai dinamika dan hambatan karier yang membuatnya memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh ke Indonesia. Tujuannya satu: menemukan jawaban atas persoalan hidupnya sekaligus mencari keberadaan sang ibu.

Sesampainya di Indonesia, Soo Jin harus beradaptasi dengan budaya lokal yang sangat berbeda. Di sinilah letak keunikannya, di mana kultur K-Pop yang melekat pada dirinya bertemu dengan riuhnya musik koplo. Pertemuan dua dunia ini dibalut dalam suasana komedi yang ringan namun tetap menyentuh hati, terutama saat ia akhirnya dipertemukan kembali dengan ibunya.

Daftar Pemeran Ada KPop dalam Koplo: Bertabur Bintang

Kekuatan cerita ini semakin diperkuat oleh kehadiran para pemeran Ada KPop dalam Koplo yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Aktris muda sekaligus influencer Sheryl Jesslyn (Sze) didapuk sebagai pemeran utama memerankan tokoh Soo Jin.

Sze mengungkapkan bahwa karakter Soo Jin memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang. Di atas panggung, ia harus tampil elegan dan percaya diri sebagai idola, namun di balik layar, ia adalah sosok sensitif yang menyimpan trauma masa lalu.

Selain Sheryl Jesslyn, berikut adalah jajaran aktor senior dan talenta berbakat yang turut membintangi film ini:

  • Ariyo Wahab

  • Indra Birowo

  • Elang El Gibran

  • Nina Tamam

  • Om Wawes (Penampilan Spesial)

Soundtrack dan Nuansa Budaya yang Kental

Sebagai film yang mengangkat tema musik, unsur audio menjadi elemen krusial. Lagu berjudul "Silul" yang dibawakan oleh Om Wawes berkolaborasi dengan Guyon Waton telah resmi dirilis sebagai Original Soundtrack (OST) utama. Lagu ciptaan Andry Priyanta ini menggabungkan sentuhan pop Jawa dengan irama koplo, selaras dengan visi film yang ingin menyatukan semangat musik lokal dengan fenomena K-Pop global.

Meskipun jadwal tayang resminya belum diumumkan, film Ada KPop dalam Koplo diharapkan menjadi tontonan segar yang menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling melengkapi.