Review Dilan ITB 1997: Kisah Dewasa yang Lebih Tenang dan Reflektif
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Masih ingat dengan gombalan maut Dilan di atas motor Honda CB-nya saat SMA dulu? Lupakan sejenak memori manis di tahun 1990 itu. Tahun ini, kita diajak kembali ke Kota Kembang dalam suasana yang lebih "berat" lewat film Dilan ITB 1997. Bukan lagi soal tawuran antar-sekolah, Dilan kini hadir sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang tengah bergulat dengan idealisme, cinta dewasa, dan gejolak politik menjelang reformasi.
Film garapan sutradara Fajar Bustomi dan "Ayah" Pidi Baiq ini bukan sekadar sekuel, melainkan sebuah re-branding karakter yang cukup berani. Apakah kisah Dilan dewasa masih se-ikonik versi remajanya? Mari kita ulas lebih dalam.
Ariel NOAH: Evolusi Dilan yang Lebih Kalem dan Berkarisma
Kejutan terbesar tentu datang dari departemen akting. Pemilihan Ariel NOAH sebagai Dilan dewasa sempat memicu perdebatan di kalangan penggemar. Namun, begitu layar bioskop menyala, keraguan itu perlahan luntur. Ariel berhasil membawakan sosok Dilan yang baru pulang dari Kuba dengan pembawaan yang lebih tenang, filosofis, namun tetap memiliki sisi nyeleneh yang khas.
Dilan versi 1997 tidak lagi melempar gombalan cheesy tiap menit. Ia adalah pria yang reflektif, seorang seniman sekaligus aktivis yang mulai memikirkan konsekuensi dari setiap langkahnya. Karisma Ariel yang matang terasa sangat pas dengan latar mahasiswa tingkat akhir yang sedang mencari jati diri di tengah hiruk-pikuk gerakan mahasiswa.Dilema Ancika dan Kembalinya Sang Mantan Terindah
Plot utama film ini berpusat pada hubungan Dilan dengan Ancika, yang diperankan dengan sangat apik oleh Niken Anjani. Berbeda dengan Milea yang penuh emosi, Ancika hadir sebagai sosok perempuan mandiri, cerdas, dan tegas. Chemistry antara Ariel dan Niken terasa sangat "bumi" lebih banyak dialog berisi tentang masa depan daripada sekadar janji-janji manis.
Namun, bumbu drama memuncak ketika Raline Shah muncul kembali sebagai Milea yang sudah dewasa. Kehadiran Milea bukan sekadar tempelan; ia menjadi representasi masa lalu yang belum sepenuhnya tuntas. Pertemuan mereka di Bandung memberikan dinamika emosional yang intens, membuat penonton ikut bertanya-tanya: Apakah Dilan akan menetap di masa lalu, atau melangkah penuh bersama Ancika?
Bandung 1997 dan Napas Reformasi
Visual film ini patut diacungi jempol. Tim produksi berhasil menghidupkan kembali suasana Bandung akhir 90-an dengan sangat autentik. Mulai dari gaya busana vintage, kendaraan ikonik, hingga tempat tongkrongan mahasiswa ITB kala itu.
Menariknya, film ini menyelipkan latar belakang politik tahun 1997 secara halus. Isu reformasi, protes mahasiswa, dan kontrol pemerintah yang ketat menjadi latar belakang yang memperkuat karakter Dilan sebagai sosok yang kritis. Ini memberikan bobot lebih pada cerita, sehingga tidak hanya terasa seperti film romansa biasa, melainkan sebuah drama coming-of-age yang berlatar sejarah.Alur
Berbeda dengan film-film sebelumnya yang memiliki tempo cepat, Dilan ITB 1997 lebih condong ke arah slice of life. Alurnya berjalan santai, membiarkan kita menikmati rutinitas Dilan di kampus Ganesha. Bagi sebagian orang, tempo ini mungkin terasa lambat atau kurang "nendang" secara dramatis. Namun, justru di sinilah letak kekuatannya; film ini terasa lebih jujur dan manusiawi.
Kesimpulan: Film ini adalah surat cinta bagi mereka yang tumbuh besar bersama karakter Dilan dan ingin melihat bagaimana ia "berdamai" dengan kedewasaan. Meski transisi di babak akhir terasa sedikit terburu-buru mungkin untuk menyiapkan jalan bagi film lanjutannya Dilan ITB 1997 tetap menjadi tontonan yang hangat dan reflektif.
Jika Anda mencari nostalgia Bandung yang puitis namun dengan perspektif yang lebih matang, film ini wajib masuk ke daftar tontonan akhir pekan Anda. Siapkan tisu, karena tatapan antara Dilan dan Milea dewasa tetap punya daya magis untuk membuat hati sedikit teriris.