Borong 11 Nominasi BAFTA 2026, Marty Supreme Pulang Tanpa Piala

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Borong 11 Nominasi BAFTA 2026, Marty Supreme Pulang Tanpa Piala

Malam penganugerahan BAFTA 2026 menghadirkan kejutan besar dalam peta persaingan musim penghargaan. Film Marty Supreme yang digadang-gadang menjadi salah satu kandidat terkuat justru harus pulang tanpa satu pun trofi, meski mengantongi 11 nominasi.

Capaian tersebut membuat film produksi A24 ini menyamai rekor sebagai film dengan jumlah kekalahan terbanyak dalam satu malam BAFTA. Sebelumnya, catatan serupa pernah dialami oleh Women in Love dan Finding Neverland, yang sama-sama gagal membawa pulang penghargaan setelah meraih 11 nominasi.

Diunggulkan Sejak Awal, Berakhir Tanpa Piala

Disutradarai oleh Josh Safdie dan dibintangi Timothée Chalamet, Marty Supreme tampil impresif sepanjang musim penghargaan. Film drama olahraga yang terinspirasi dari kisah legenda tenis meja Marty Reisman ini sempat diprediksi merajai sejumlah kategori bergengsi.

Masuk dalam nominasi Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, hingga berbagai kategori teknis seperti sinematografi, penyuntingan, desain produksi, kostum, tata rias, dan casting, ekspektasi publik terbilang tinggi. Namun saat nama pemenang diumumkan satu per satu, film ini tak pernah disebut sebagai juara.

Sorotan terbesar tertuju pada kategori Aktor Terbaik. Chalamet yang sebelumnya memenangkan Golden Globes dan Critics Choice Awards harus mengakui keunggulan Robert Aramayo lewat perannya dalam film I Swear arahan Kirk Jones. Kekalahan ini menjadi salah satu momen paling mengejutkan malam itu.

Persaingan Ketat dan Dominasi Film Lain

Di tengah dominasi nominasi Marty Supreme, film lain justru lebih efektif mengonversi peluang menjadi kemenangan. One Battle After Another dan Sinners berhasil mendominasi kategori utama, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Menariknya, Josh Safdie menjadi individu dengan nominasi terbanyak tahun ini. Ia masuk dalam empat kategori sekaligus: sutradara, produser, penulis skenario, dan editor. Sayangnya, produktivitas tersebut tetap belum cukup untuk mengamankan satu pun penghargaan.

Sejumlah pengamat menilai kecenderungan BAFTA yang kerap berpihak pada produksi Inggris bisa saja memengaruhi hasil akhir. Meski begitu, faktor persaingan yang sangat ketat juga tak bisa diabaikan.

Apakah Ini Pertanda Buruk Menuju Oscar?

Kekalahan telak di BAFTA tentu menjadi pukulan tersendiri. Namun sejarah menunjukkan hasil BAFTA tidak selalu menjadi cerminan Oscar. Beberapa film sebelumnya pernah mengalami malam yang kurang bersinar di Inggris, tetapi bangkit saat Academy Awards.

Sebagai perbandingan, Marty Supreme masih bertahan kuat dalam persaingan Oscar dengan sembilan nominasi. Meski tidak masuk dalam beberapa kategori yang sebelumnya diraih di BAFTA, peluang di ajang Academy Awards tetap terbuka lebar.

Bagi industri dan para penggemar, rekor pahit ini memang menciptakan narasi yang tak terduga. Namun dalam dunia penghargaan film, momentum bisa berubah dengan cepat. Kini, perhatian tertuju pada apakah Marty Supreme mampu membalikkan keadaan dan menutup musim penghargaan dengan catatan manis.

Satu hal yang pasti, film ini sudah mengukir sejarah di BAFTA meski dengan cara yang tak pernah direncanakan.