Pendapatan Supergirl Terus Merosot, Catat Rekor Terburuk dalam Sejarah DC Universe
Tim Teaterdotco -
Film Supergirl tampaknya gagal menjadi penerus kesuksesan Superman di era baru DC Universe (DCU). Memasuki pekan keempat penayangannya di bioskop, film garapan Craig Gillespie tersebut justru mencetak rekor yang tidak diinginkan, yakni menjadi film DC dengan pendapatan akhir pekan keempat terendah sepanjang sejarah waralaba.
Performa tersebut menjadi pukulan bagi DC Studios yang tengah membangun kembali semesta sinematik mereka setelah memulai reboot melalui Superman pada 2025.
Supergirl Hanya Raup US$1,4 Juta di Pekan Keempat
Berdasarkan laporan terbaru dari industri box office, Supergirl diperkirakan hanya memperoleh sekitar US$1,4 juta di box office domestik Amerika Serikat pada akhir pekan keempat penayangannya. Angka ini turun sekitar 62 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Capaian tersebut resmi melampaui rekor negatif yang sebelumnya dipegang Shazam! Fury of the Gods (2023), yang menghasilkan sekitar US$1,6 juta pada periode yang sama.
Tidak hanya itu, penurunan pendapatan Supergirl juga tergolong sangat tajam. Film ini bahkan sempat keluar dari lima besar box office domestik hanya dalam tiga pekan penayangan, menandakan minat penonton terus melemah sejak akhir pekan pembukaannya.
Jauh dari Target Balik Modal
Hingga saat ini, Supergirl telah mengumpulkan pendapatan global sekitar US$121 juta. Meski angka tersebut masih berpotensi bertambah selama film masih diputar di sejumlah negara, hasilnya masih sangat jauh dari target yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas.
Berbagai laporan menyebut biaya produksi dan pemasaran film ini membuat Supergirl membutuhkan pendapatan sekitar US$340 juta hingga US$375 juta agar mulai menghasilkan keuntungan.
Dengan tren penurunan yang terus berlanjut, banyak analis memperkirakan film tersebut akan mengakhiri penayangannya jauh di bawah angka tersebut. Akibatnya, Warner Bros. Discovery berpotensi mengalami kerugian lebih dari US$100 juta dari proyek ini.
Kehilangan Banyak Layar Bioskop
Merosotnya performa box office juga membuat Supergirl kehilangan banyak layar bioskop dalam waktu singkat.
Menjelang pekan ketiga, film ini dikabarkan sudah tidak lagi diputar di lebih dari 1.000 bioskop di Amerika Utara. Jumlah lokasi penayangannya turun menjadi sekitar 2.584 layar, bahkan lebih rendah dibandingkan Morbius pada periode yang sama.
Situasi semakin sulit karena bioskop mulai mengalokasikan layar premium untuk film-film baru yang lebih dinantikan penonton, termasuk The Odyssey karya Christopher Nolan dan Spider-Man: Brand New Day. Pergeseran jadwal tersebut membuat peluang Supergirl untuk mempertahankan pendapatan semakin kecil.
Gagal Mengikuti Jejak Kesuksesan Superman
Kegagalan ini terasa semakin kontras jika dibandingkan dengan Superman, film pertama di era baru DC Universe.
Sebagai pembanding, Superman berhasil meraup sekitar US$125 juta hanya dari akhir pekan pembukaannya di Amerika Utara, sebelum akhirnya menutup penayangan global dengan pendapatan mencapai sekitar US$618 juta.
Sementara itu, Supergirl bahkan belum mampu menyamai pendapatan pembukaan Superman meski sudah tayang selama hampir satu bulan di bioskop.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa karakter pendukung yang diperkenalkan melalui Superman belum tentu mampu menarik jumlah penonton yang sama ketika mendapat film solo.
DC Studios Tetap Lanjutkan Rencana Besar DC Universe
Meski hasil box office mengecewakan, DC Studios menegaskan bahwa kegagalan Supergirl tidak akan mengubah strategi jangka panjang mereka dalam membangun DC Universe.
Co-CEO DC Studios, Peter Safran, menyatakan bahwa performa satu film bukanlah penentu masa depan keseluruhan semesta DC. Menurutnya, studio tetap percaya pada arah yang telah disusun untuk beberapa tahun ke depan.
Karakter Supergirl sendiri dipastikan akan kembali muncul dalam Man of Tomorrow, sekuel Superman yang dijadwalkan tayang pada 9 Juli 2027.
Selain itu, DC Studios juga telah menyiapkan sejumlah proyek lain, termasuk Clayface, film horor yang mengangkat salah satu musuh ikonik Batman dan dijadwalkan rilis pada 23 Oktober 2026.
Masa Depan Film Non-Utama DC Masih Dipertanyakan
Meski Superman berhasil membuka era baru DC Universe dengan hasil yang positif, performa Supergirl menunjukkan bahwa tidak semua karakter mampu menarik minat penonton dalam skala yang sama.
Keberhasilan semesta sinematik umumnya bergantung pada kemampuan film-film utama untuk memperkenalkan karakter baru yang kemudian dapat berkembang menjadi franchise tersendiri. Jika proyek-proyek yang berfokus pada karakter non-utama terus mengalami kegagalan komersial, strategi membangun semesta yang saling terhubung bisa menghadapi tantangan besar.
Kini, perhatian publik beralih pada proyek-proyek berikutnya. DC Studios berharap film seperti Clayface dan Man of Tomorrow mampu mengembalikan kepercayaan penonton sekaligus membuktikan bahwa kegagalan Supergirl hanyalah batu sandungan di awal perjalanan DC Universe yang baru.