Film Hajatan Setan Siap Teror Bioskop, Angkat Mitos Ritual Desa yang Penuh Tumbal
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Kolaborasi antara MBK Productions dan Drias Film baru saja memperkenalkan proyek terbaru mereka bertajuk Hajatan Setan. Film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang melampaui sekadar aksi jumpscare, melainkan teror psikologis yang berakar pada mitos ritual desa di tanah Jawa.
Di bawah arahan duo sutradara Bambang Drias dan Eko Kristianto, Hajatan Setan mengeksplorasi ironi di balik sebuah perayaan. Jika biasanya sebuah "hajatan" identik dengan rasa syukur dan kebahagiaan, film ini justru membedah harga mahal yang harus dibayar demi sebuah kemakmuran yakni nyawa dan tumbal.
Sinopsis: Luka Lama dan Rahasia Kelam Desa
Berlatar di sebuah desa terpencil di Jawa, alur cerita berpusat pada kepulangan seorang perempuan muda ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Bukannya sambutan hangat, kepulangannya justru menjadi pemantik bagi serangkaian peristiwa ganjil yang menyelimuti warga dengan kecurigaan dan ketakutan kolektif.
Perlahan, tabir rahasia turun-temurun mulai terkuak. Desa yang selama ini terlihat makmur ternyata menyimpan luka lama yang belum sembuh. Kejanggalan demi kejanggalan memaksa warga mempertanyakan: apakah kemakmuran yang mereka nikmati selama ini benar-benar datang tanpa pengorbanan?
Kolaborasi Pemeran Lintas Generasi
Daya tarik utama film ini terletak pada jajaran pemainnya yang menggabungkan aktor muda berbakat dengan nama-nama besar di industri peran. Ari Irham, Gisellma Firmansyah, dan Alika Jantinia mewakili generasi muda yang akan beradu akting dengan aktor kawakan seperti Tanta Ginting, Indra Birowo, Karina Suwandi, hingga Asri Welas.
Ari Irham mengungkapkan bahwa karakter yang ia perankan memiliki beban emosional yang sangat berat. "Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana horornya terasa dekat dan personal. Ada trauma dan tekanan sosial yang membuat ketakutannya terasa nyata," ujar Ari dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026).
Senada dengan Ari, aktris senior Asri Welas mengaku sempat ragu sekaligus merinding saat pertama kali menerima naskah. "Istilah 'Hajatan Setan' saja sudah cukup menyeramkan. Kita tahu hajatan itu simbol bahagia, tapi di sini justru jadi sumber teror yang membuat saya tidak nyaman," akunya.
Visi Sutradara: Horor yang Masuk Akal
Sutradara Bambang Drias menjelaskan bahwa ide film ini berangkat dari pertanyaan kritis mengenai makna sebuah tradisi. Sementara itu, Eko Kristianto menambahkan bahwa mereka sengaja mengambil pendekatan visual yang realistis agar teror tersebut terasa "mengusik" alam bawah sadar penonton.
"Kami ingin penonton merasa ini bukan cerita yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika satu desa percaya bahwa pengorbanan adalah bagian dari tradisi, horornya jadi terasa masuk akal," jelas Eko.
Ekspansi ke Pasar Internasional
Tidak hanya menargetkan penonton domestik, Hajatan Setan menunjukkan ambisinya untuk bersaing di kancah global. Produser eksekutif Budi Yulianto dan produser Rendy Gunawan telah menggandeng Mockingbird Pictures sebagai distributor internasional untuk memperluas jangkauan pemutaran film ini ke luar negeri.
Naskah yang digarap oleh tim solid yakni Andhy Pulung, B.W. Purba Negara, Vidya T. Ariestya, dan Novia Anggi ini diprediksi akan menjadi salah satu karya folk horror yang paling diperbincangkan tahun ini.
Bagi Anda pecinta film horor yang menggugah rasa ingin tahu tentang batas tipis antara tradisi dan malapetaka, pantau terus informasi mengenai tanggal rilis resminya melalui akun Instagram @filmhajatanfilm dan @driasfilm_. Bersiaplah, karena tidak semua perayaan berakhir dengan kebahagiaan.