Sinopsis The Bell: Panggilan untuk Mati, Angkat Urban Legend Penebok dari Belitung
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Industri film horor Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran The Bell: Panggilan untuk Mati, sebuah film yang mengangkat mitos lokal dari Belitung. Film produksi Sinemata Buana Kreasindo ini resmi memperkenalkan poster dan trailer perdananya dalam acara yang digelar di Metropole XXI pada 7 April 2026 lalu.
Film ini langsung mencuri perhatian karena menghadirkan sosok hantu Penebok, makhluk tanpa kepala bergaun merah yang berasal dari cerita rakyat Belitung. Kehadirannya memberi warna baru di tengah dominasi sosok kuntilanak dan pocong dalam film horor Tanah Air.
Mengangkat Folklore Lokal yang Jarang Tersentuh
Sutradara Jay Sukmo menyebut bahwa film ini bukan sekadar menghadirkan ketakutan visual, tetapi juga membawa cerita yang berakar kuat pada budaya lokal.
Menurutnya, penonton saat ini mulai mencari horor yang lebih dekat dengan realitas budaya dan memiliki kedalaman cerita. Penebok dipilih karena merupakan urban legend yang masih hidup di tengah masyarakat Belitung.
Produser Rendy Gunawan bersama Aris Muda Irawan juga menegaskan bahwa karakter Penebok diharapkan bisa menjadi ikon horor baru Indonesia.
Sinopsis The Bell: Panggilan untuk Mati
Secara cerita, The Bell: Panggilan untuk Mati berpusat pada sebuah lonceng keramat yang dipercaya mampu mengurung roh jahat selama ratusan tahun.
Masalah dimulai ketika sekelompok YouTuber nekat mencuri lonceng tersebut demi konten media sosial. Tanpa disadari, tindakan itu justru membebaskan Penebok, entitas mengerikan yang kemudian meneror desa.
Setiap denting lonceng berubah menjadi pertanda kematian. Siapa pun yang mendengarnya diyakini akan menjadi target Penebok, yang datang untuk “menagih kepala” korbannya. Teror ini menyebar cepat dan memicu kepanikan warga.
Tokoh utama Danto, yang diperankan Bhisma Mulia, kembali ke kampung halamannya dan berusaha mengungkap misteri tersebut bersama Airin (Ratu Sofya) dan Hanafi.
Pendekatan Cerita dan Teknik yang Berbeda
Salah satu hal menarik dari film ini adalah pendekatan teknis yang digunakan. Jay Sukmo menghadirkan tiga rasio layar berbeda untuk menggambarkan tiga periode waktu dalam cerita.
Alih-alih mengandalkan jumpscare, film ini lebih fokus membangun suasana mencekam lewat cerita dan emosi. Penulis naskah Priesnanda Dwisatria juga menyisipkan unsur drama, romansa, dan hubungan keluarga agar cerita terasa lebih dalam.
Tantangan Para Pemeran
Para aktor menghadapi tantangan tersendiri, terutama dalam penggunaan dialek Belitung dan bahasa Belanda untuk beberapa adegan berlatar masa kolonial.
Givina Lukita Dewi bahkan mengaku harus mempelajari bahasa Belitung secara intens agar perannya terasa autentik. Sementara Shalom Razade memerankan karakter dari era kolonial yang menuntut riset mendalam soal budaya dan bahasa.
Aktor senior Mathias Muchus juga turut memperkuat film ini dengan peran sebagai dukun, sekaligus memberikan nuansa filosofis dalam cerita.
Daftar Pemain Film The Bell: Panggilan untuk Mati
Film ini dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama, antara lain:
- Bhisma Mulia
- Ratu Sofya
- Givina Lukita Dewi
- Shalom Razade
- Mathias Muchus
- Septian Dwi Cahyo
- Nabil Lunggana
Siap Tayang dan Jadi Warna Baru Horor Indonesia
The Bell: Panggilan untuk Mati dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Mei 2026. Film ini diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman horor yang mencekam, tetapi juga memperkenalkan kekayaan cerita rakyat Indonesia ke audiens yang lebih luas.
Dengan perpaduan mitos lokal, cerita modern, dan pendekatan sinematik yang berbeda, film ini berpotensi menjadi salah satu tontonan horor yang paling dinanti tahun ini.