Review 2000 Meters to Andriivka, Kisah 2.000 Meter Paling Mematikan di Ukraina
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Film dokumenter 2000 Meters to Andriivka menjadi salah satu tayangan paling mengguncang di awal 2026. Disutradarai jurnalis dan sineas Ukraina, Mstyslav Chernov, film ini membawa penonton masuk langsung ke garis depan perang Ukraina dalam misi merebut kembali desa Andriivka dari pendudukan Rusia.
Tayang di CGV mulai 27 Februari 2026, film ini bukan sekadar dokumenter perang biasa. Ia adalah rekaman mentah tentang hidup dan mati yang terjadi hanya dalam hitungan detik.
2.000 Meter yang Terasa Seperti Keabadian
Secara harfiah, 2.000 meter mungkin hanya jarak tempuh dua menit dengan mobil atau sekitar 10 menit berlari. Namun dalam film ini, jarak tersebut menjadi perjalanan yang diukur oleh jeda antar ledakan dan desingan peluru.
Chernov mengikuti Brigade Serbu ke-3 Ukraina dalam operasi kontra-ofensif tahun 2023. Target mereka adalah Andriivka, desa yang telah hancur dan berubah menjadi puing. Jalur yang harus dilalui hanyalah koridor sempit berupa hutan dan semak belukar, karena ladang di kanan-kiri sudah dipenuhi ranjau.
Setiap meter diperebutkan. Kamera menangkap momen ketika seorang prajurit masih berbicara, lalu beberapa detik kemudian dinyatakan tewas. Tidak ada dramatisasi, tidak ada musik heroik. Semua terjadi real time.
Antara Dokumentasi dan Mimpi Buruk
Bagi yang pernah menyaksikan karya Chernov sebelumnya, 20 Days in Mariupol, film ini terasa seperti kelanjutan yang lebih intens. Jika film sebelumnya berfokus pada awal invasi Rusia, kali ini sorotan diarahkan pada daya tahan dan perlawanan tentara Ukraina.
Visual 4K yang tajam justru membuat pengalaman menonton terasa seperti mimpi buruk yang sangat nyata. Rekaman kamera helm tentara dan drone memperlihatkan bagaimana teknologi modern kini menjadi bagian tak terpisahkan dari peperangan. Namun di saat yang sama, lanskap hutan yang porak-poranda mengingatkan pada parit-parit Perang Dunia I.
Chernov memilih pendekatan yang relatif tenang dalam narasinya. Suaranya terdengar datar, hampir tanpa emosi. Pendekatan ini membuat film terasa dingin, bahkan kebas. Namun justru di situlah kekuatannya. Penonton dipaksa menyaksikan fakta tanpa arahan moral yang eksplisit.
Wajah-Wajah Muda di Tengah Medan Tempur
Beberapa sosok prajurit menjadi fokus emosional film ini, termasuk seorang komandan muda dan tentara berusia awal 20-an yang bergabung sebagai relawan. Mereka berbincang santai tentang rokok di sela ledakan, tertawa ketika peluru masih terdengar di kejauhan, lalu kembali mengangkat senjata.
Yang paling menghantam adalah ketika film memberi tahu bahwa beberapa dari mereka telah gugur beberapa bulan setelah proses syuting selesai. Informasi ini disampaikan tanpa dramatisasi, namun efeknya sangat menyayat.
Menariknya, film ini tidak secara terang-terangan menyuarakan pesan anti-perang maupun propaganda patriotik. Di satu sisi, kengerian yang ditampilkan terasa sebagai kritik keras terhadap perang. Di sisi lain, tekad para prajurit mempertahankan tanah air menghadirkan dimensi kehormatan dan kebanggaan.
Andriivka: Simbol yang Lebih Besar dari Sekadar Desa
Andriivka sendiri digambarkan bukan lagi sebagai desa utuh, melainkan simbol. Rumah-rumah tinggal separuh dinding, tidak ada warga, tidak ada kehidupan. Desa ini pernah direbut, lalu direbut kembali. Fakta tersebut menjadi metafora tentang perang yang terus berulang.
Film ini tidak banyak membahas sejarah desa tersebut. Fokusnya adalah pada prinsip dan harga diri untuk merebut kembali apa yang dianggap milik mereka.
Dokumenter yang Sulit, Tapi Penting
2000 Meters to Andriivka bukan tontonan ringan. Ia tidak menawarkan hiburan, melainkan kesaksian. Pengalaman menontonnya mungkin tidak selalu terasa emosional secara eksplosif, tetapi lebih seperti rasa kebas yang perlahan merayap.
Sebagai karya jurnalistik visual, film ini berdiri kuat sebagai dokumen perang yang jujur dan brutal. Di tengah derasnya konten perang di internet, dokumenter ini menghadirkan kedekatan yang tidak bisa diberikan oleh laporan jarak jauh.
Bagi penonton Indonesia yang ingin memahami realitas perang Ukraina dari jarak paling dekat, 2000 Meters to Andriivka adalah film yang penting, meski tidak mudah untuk ditonton.