Review Empat Musim Pertiwi: Pulang untuk Hadapi Luka dan Stigma
Arin Mahesa -
Kepulangan Pertiwi setelah 20 tahun di penjara justru membuka luka lama. Empat Musim Pertiwi menghadirkan drama psikologis tentang trauma, stigma, dan keberanian melawan kekerasan.
Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Empat Musim Pertiwi mengikuti Pertiwi (Putri Marino), perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama dua dekade. Ia berharap bisa memulai hidup baru, tetapi kampung yang ditinggalkannya ternyata masih menyimpan banyak persoalan.
Pertiwi tidak disambut sebagai seseorang yang berhak mendapat kesempatan kedua. Tatapan curiga warga dan sikap keluarganya membuat kepulangannya terasa seperti bentuk hukuman baru. Hanya Mak Ira (Christine Hakim) dan Bisma (Arya Saloka) yang memberinya ruang untuk kembali menjalani kehidupan.
Namun, Pertiwi sendiri belum selesai dengan masa lalunya. Ia harus menghadapi trauma dan orang-orang yang berkaitan dengan kehancuran hidupnya ketika masih remaja. Kehadiran seorang gadis tuli yang mengingatkannya pada masa lalu semakin membuka kembali luka yang selama ini terkubur.
Putri Marino Jadi Pusat Kekuatan Film
Putri Marino tampil kuat sebagai Pertiwi. Karakternya tidak banyak menjelaskan perasaan melalui dialog, tetapi lebih sering berbicara lewat tatapan, gestur, dan ekspresi yang menyimpan kemarahan sekaligus rasa bersalah.
Pertiwi juga bukan sosok protagonis yang sepenuhnya mudah disukai. Ia membawa luka, keputusan masa lalu, dan konsekuensi yang membuat karakternya terasa manusiawi. Pertemuan kembali dengan Bisma menambah lapisan emosional dalam perjalanan tersebut.
Christine Hakim sebagai Mak Ira menjadi penyeimbang yang efektif. Di tengah cerita yang gelap dan penuh tekanan, kehadirannya memberikan sedikit kehangatan sekaligus humor.
Bromo dan Metafora yang Berlapis
Kekuatan lain Empat Musim Pertiwi terletak pada visualnya. Kamila Andini memanfaatkan lanskap Bromo, kabut, tanah vulkanik, dan ruang terbuka bukan sekadar sebagai latar, tetapi bagian dari bahasa film.
Keindahan Bromo justru terasa asing dan mengancam. Lanskap tersebut seolah merepresentasikan kondisi batin Pertiwi yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu.
Kamila juga mencampurkan drama psikologis, horor, western, realisme magis, hingga sentuhan fiksi ilmiah. Perpindahan genre ini membuat Empat Musim Pertiwi terasa berani dan tidak mudah ditebak.
Namun, keberanian tersebut sekaligus menjadi kelemahannya. Terlalu banyak tema dan metafora membuat beberapa bagian cerita terasa melebar. Sejumlah karakter pendukung juga belum memperoleh kedalaman yang sama dengan Pertiwi. Ritme film yang berjalan perlahan, terutama dengan durasi 137 menit, membutuhkan kesabaran dari penonton.
Kesimpulan
Empat Musim Pertiwi bukan film yang menawarkan perjalanan sederhana tentang seseorang yang pulang ke rumah. Film ini menjadikan kepulangan sebagai proses menghadapi trauma, stigma, kekerasan, dan struktur sosial yang selama ini membungkam korban.
Tidak semuanya berhasil dieksekusi secara seimbang, tetapi keberanian Kamila Andini dalam membangun dunia film ini patut diapresiasi. Ditopang penampilan kuat Putri Marino dan visual Bromo yang memukau, Empat Musim Pertiwi menjadi pengalaman sinematik yang cukup berkesan.
Empat Musim Pertiwi tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.