Review Film Do Deewane Seher Mein: Simpel, Hangat, tapi Kurang Menggigit

Tim Teaterdotco - 3 jam yang lalu
Review Film Do Deewane Seher Mein: Simpel, Hangat, tapi Kurang Menggigit

Film Do Deewane Seher Mein hadir sebagai drama romantis urban yang mencoba berbicara tentang rasa minder, standar sosial, dan penerimaan diri. Disutradarai oleh Ravi Udyawar, film ini memasangkan Siddhant Chaturvedi dan Mrunal Thakur dalam kisah cinta yang sederhana, hangat, tapi juga menuai pro dan kontra.

Alih-alih menghadirkan romansa yang megah atau penuh konflik dramatis, film ini memilih jalur yang lebih tenang: dua orang dewasa dengan rasa tidak percaya diri, yang perlahan belajar menerima kekurangan masing-masing.

Pertemuan dari Perjodohan, Berakhir dengan Perasaan

Shashank adalah pria asal Patna yang bekerja di divisi marketing sebuah perusahaan di Mumbai. Secara latar belakang, ia berasal dari keluarga mapan. Namun ada satu hal yang terus menghantuinya: ia kesulitan mengucapkan huruf “sh”. Masalah yang terdengar sepele ini justru jadi tembok besar dalam karier dan kehidupan sosialnya. Setiap kali harus presentasi atau berbicara di depan umum, ia memilih menghindar.

Di sisi lain, ada Roshni, perempuan karier yang bekerja di industri fashion. Dari luar, ia tampak percaya diri dan stylish. Tapi di dalam, ia merasa tidak memenuhi standar kecantikan yang selama ini dibentuk lingkungan sekitarnya.

Keduanya dipertemukan lewat perjodohan keluarga. Awalnya, Roshni menolak Shashank. Namun sikap gigih dan tulus Shashank perlahan membuatnya penasaran. Hubungan mereka berkembang, meski tak lepas dari drama naik-turun yang cukup menguras emosi.

Ide Relevan, Eksekusi Masih Setengah Matang

Secara tema, film ini sebenarnya punya potensi kuat. Isu tentang body positivity, tekanan sosial, dan rasa tidak cukup baik sangat dekat dengan kehidupan generasi sekarang—terutama mereka yang tinggal di kota besar.

Sayangnya, konflik yang dihadirkan terasa kurang dalam. Masalah Shashank maupun Roshni lebih sering muncul sebagai dialog ketimbang benar-benar terasa secara emosional. Beberapa momen dramatis bahkan terlihat terlalu cepat selesai, seolah hanya menjadi jembatan menuju akhir yang sudah bisa ditebak.

Durasi film juga terasa sedikit kepanjangan untuk cerita yang sebenarnya bisa diringkas. Alurnya berjalan santai, bahkan cenderung terlalu aman tanpa kejutan berarti.

Chemistry Jadi Penyelamat

Kalau ada satu hal yang patut diapresiasi, itu adalah chemistry antara Siddhant dan Mrunal. Interaksi mereka terasa natural, terutama di adegan-adegan kecil yang intim dan ringan. Momen canggung, tatapan ragu, hingga percakapan sederhana di restoran jadi bagian yang paling hidup dari film ini.

Mrunal Thakur tampil cukup menonjol. Ia berhasil memerankan perempuan yang terlihat percaya diri, tapi diam-diam rapuh. Sementara Siddhant tampil charming, meski karakternya belum sepenuhnya terasa kompleks.

Visual Cantik, Emosi Kurang Menghentak

Dari sisi visual, Do Deewane Seher Mein terlihat rapi dan enak dipandang. Latar Mumbai digambarkan modern dan estetik, khas romcom urban masa kini. Musiknya pun mendukung suasana, walau tidak terlalu membekas setelah film selesai.

Namun, kemasan yang terlalu “cantik” ini justru membuat konflik terasa kurang membumi. Permasalahan yang diangkat seolah tidak pernah benar-benar mencapai titik paling dalam.

Worth It Ditonton?

Buat kamu yang sedang mencari tontonan romantis ringan tanpa drama berat, film ini bisa jadi pilihan aman. Ceritanya tidak gelap, tidak toksik, dan menawarkan pesan sederhana tentang menerima diri sendiri sebelum mencintai orang lain.

Tapi jika kamu berharap romansa dengan konflik kuat dan momen emosional yang benar-benar menghantam, film ini mungkin terasa biasa saja.

Pada akhirnya, Do Deewane Seher Mein adalah kisah cinta yang manis, hangat, dan mudah dinikmati—meski belum cukup kuat untuk benar-benar membekas lama di ingatan.