Review Film Mercy: Ketika AI Menjadi Hakim, Chris Pratt Berjuang Melawan Sistem Dingin Teknologi
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Film Mercy resmi tayang pada 21 Januari 2026 dan langsung menarik perhatian publik berkat premisnya yang relevan dengan isu teknologi masa depan. Menggabungkan genre sci-fi, thriller, dan crime, film garapan Timur Bekmambetov ini menempatkan kecerdasan buatan sebagai pusat sistem peradilan. Empat ulasan berbeda menunjukkan satu benang merah: Mercy hadir dengan ide besar, namun eksekusinya memicu perdebatan.
Premis Menarik: Pengadilan AI dan Waktu 90 Menit
Mercy berlatar tahun 2029, ketika kota Los Angeles menghadapi kekacauan kriminal. Untuk mempercepat penegakan hukum, diciptakan sistem pengadilan berbasis AI bernama Mercy. Di ruang sidang virtual ini, terdakwa hanya memiliki waktu 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Jika tingkat probabilitas bersalah menyentuh angka tertentu, eksekusi langsung dilakukan tanpa banding.
Chris Raven (Chris Pratt), seorang detektif kepolisian, justru menjadi korban dari sistem yang dulu ia dukung. Ia terbangun dalam kondisi terikat di kursi Mercy dan dituduh membunuh istrinya sendiri. Tanpa ingatan jelas dan waktu yang terus berjalan, Raven harus mengais bukti digital untuk menyelamatkan nyawanya dari keputusan AI Judge Maddox (Rebecca Ferguson).
Screenlife dan Visual IMAX Jadi Andalan
Sebagai sutradara yang identik dengan genre screenlife, Timur Bekmambetov kembali mengandalkan layar digital sebagai medium utama bercerita. Penonton diajak menyelami dunia yang seluruh datanya terhubung: kamera pengawas, rekaman ponsel, media sosial, hingga arsip kepolisian.
Secara visual, Mercy diakui tampil solid, terutama dalam format IMAX dan IMAX 3D. Tata layar yang dinamis dan presentasi data yang rapi membuat film ini nyaman diikuti, meski sebagian adegan dinilai lebih menjual tampilan ketimbang kedalaman cerita.
Akting Kuat, Tapi Karakter Minim Pendalaman
Chris Pratt tampil hampir sepanjang film dalam posisi duduk, namun tetap berusaha menghidupkan emosi tertekan seorang pria yang nyawanya di ujung tanduk. Meski intens, sebagian kritik menilai karakter Raven terlalu sarat klise: polisi bermasalah, trauma masa lalu, alkohol, dan konflik keluarga.
Rebecca Ferguson sebagai AI Maddox justru mencuri perhatian lewat performa dingin dan kaku, sesuai karakter non-manusia yang ia perankan. Kali Reis, Kylie Rogers, dan Chris Sullivan melengkapi cerita dengan peran pendukung yang cukup solid meski porsinya terbatas.
Isu etika AI, keadilan, dan penyalahgunaan teknologi menjadi tema utama Mercy. Namun, film ini belum cukup berani menggali kritik tersebut secara mendalam. Alur cerita terasa mudah ditebak, beberapa plot hole mencuat, dan ritme film dinilai kurang konsisten meski durasinya hanya sekitar 100 menit.
Tak sedikit yang menyebut Mercy sebagai tipikal film rilis Januari: kompeten, rapi, namun cepat terlupakan. Meski begitu, ada juga penonton yang menilai film ini efektif sebagai thriller ringan yang menegangkan, terutama bagi mereka yang tertarik dengan isu AI dan hukum modern.
Mercy bukan film yang sempurna, namun premisnya cukup relevan dengan kondisi dunia saat ini. Ia mungkin tidak akan dikenang sebagai karya sci-fi besar, tetapi tetap menawarkan pengalaman menonton yang menegangkan dan visual yang memanjakan. Bagi penonton kasual atau penggemar Chris Pratt dan film bertema teknologi, Mercy masih layak masuk daftar tontonan, setidaknya untuk memicu diskusi tentang masa depan keadilan di era kecerdasan buatan.