Review Ghosthing: Ketika Hantu Bawel Ikut Ungkap Misteri Kematian

-
Review Ghosthing: Ketika Hantu Bawel Ikut Ungkap Misteri Kematian

Film horor Indonesia Ghosthing menghadirkan cerita tentang arwah yang bukan hanya membawa misteri, tetapi juga mengundang tawa lewat tingkah lakunya. Disutradarai Arie Azis, film produksi Imperial Pictures ini memadukan horor, komedi, dan drama keluarga melalui kisah seorang perias jenazah yang membantu arwah influencer mengungkap penyebab kematiannya.

Sinopsis Ghosthing

Ghosthing berpusat pada Alfian (Baskara Mahendra), seorang perias jenazah yang memiliki kemampuan melihat arwah sejak lahir. Ia sudah terbiasa berinteraksi dengan penghuni dunia lain, termasuk Bang Arip (Tanta Ginting), Suster Wanda (Chika Waode), Ci Natalie (Leony Fitria), dan Mbak Min (Siti Fauziah).

Kehidupan Alfian mulai berubah setelah ia menangani jenazah Maya (Yasamin Jasem), seorang influencer yang meninggal dunia. Maya merasa kematiannya tidak sesederhana masalah jantung seperti yang selama ini diyakini. Ia menduga ada sesuatu yang disembunyikan dan meminta Alfian menyelidiki kemungkinan pembunuhan tersebut.

Alfian bersedia membantu dengan satu syarat. Maya harus ikut membantunya menemukan arwah ibunya, Ranti (Mona Ratuliu). Keduanya memiliki waktu 40 hari untuk menyelesaikan urusan masing-masing. Dari sinilah petualangan mereka dimulai, dengan berbagai kejadian yang mempertemukan dunia manusia dan arwah.

Hantu Cerewet Jadi Sumber Komedi

Salah satu hal yang membuat Ghosthing berbeda adalah karakter Maya. Alih-alih tampil sebagai sosok menyeramkan, ia justru dikenal cerewet, sarkastik, dan sulit menerima kenyataan bahwa dirinya sudah meninggal.

Sifat Maya yang bertolak belakang dengan Alfian menciptakan banyak situasi lucu. Alfian yang cenderung tenang harus menghadapi tingkah Maya, ditambah ulah para arwah lain yang memiliki karakter masing-masing.

Komedi dalam film ini juga muncul dari situasi yang tidak biasa. Salah satunya ketika Maya masuk ke tubuh karakter yang diperankan Baskara Mahendra. Adegan tersebut menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian eksekutif produser Peter Surya Wijaya.

Menurut Peter, penampilan Yasamin Jasem berhasil menghadirkan karakter Maya yang berbeda dari pembawaannya sehari-hari. Gaya bicara yang ekspresif membuat sosok arwah tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

Namun, banyaknya selipan humor terkadang membuat misteri kematian Maya tidak mendapat ruang yang cukup untuk membangun ketegangan. Sejumlah situasi serius segera berubah menjadi lelucon sehingga proses penyelidikan terasa kurang menegangkan.

Ada Cerita tentang Kehilangan

Di balik komedinya, Ghosthing juga menyimpan cerita emosional melalui hubungan Alfian dengan mendiang ibunya. Keinginan untuk menemukan Ranti menjadi alasan pribadi yang membuat Alfian bersedia membantu Maya.

Bagian ini memberikan keseimbangan pada cerita yang dipenuhi tingkah para arwah. Persoalan Maya bukan sekadar mencari tahu penyebab kematiannya, sedangkan Alfian harus menghadapi kerinduan terhadap sosok ibu yang belum berhasil ia temukan.

Keduanya sama-sama memiliki urusan yang belum selesai. Elemen tersebut membuat Ghosthing tidak hanya berbicara tentang misteri kematian, tetapi juga tentang kehilangan dan keinginan mendapatkan jawaban.

Secara keseluruhan, Ghosthing menawarkan tontonan horor-komedi dengan karakter yang mudah dikenali dan cerita yang memadukan humor dengan drama keluarga. Film ini bisa menjadi pilihan bagi penonton yang ingin menikmati kisah supernatural tanpa suasana mencekam sepanjang cerita.

Ghosthing dibintangi Baskara Mahendra dan Yasamin Jasem serta mulai tayang di bioskop Indonesia pada 15 Oktober 2026.