Review Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? Saat Seorang Anak Harus Belajar Kehilangan Ibunya

-
Review Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? Saat Seorang Anak Harus Belajar Kehilangan Ibunya

Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? menghadirkan drama keluarga tentang seorang ibu dan anak yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit tentang perpisahan. Adaptasi film Korea Selatan Wedding Dress ini tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.

Kisah Ibu dan Anak yang Tak Sederhana

Film arahan Herwin Novianto ini mengikuti Stella (Marsha Timothy), seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai perancang gaun pengantin. Ia membesarkan putrinya, Rere (Fara Shakila), seorang diri setelah kepergian sang suami.

Kesibukan Stella membuat Rere merasa kurang mendapatkan perhatian. Di usia yang masih belia, Rere memang terlihat cukup mandiri, tetapi ia tetap membutuhkan kehadiran ibunya. Hubungan keduanya kemudian berubah drastis setelah Stella mengetahui dirinya mengidap kanker stadium akhir.

Stella memilih menyimpan penyakit tersebut. Alih-alih menghabiskan sisa waktunya untuk meratapi keadaan, ia berusaha mempersiapkan Rere agar mampu menjalani hidup tanpa dirinya.

Dari sini, film mulai memainkan kekuatan emosinya. Rere harus belajar memahami ibunya, sementara Stella harus menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan menemani putrinya tumbuh dewasa.

Adaptasi Wedding Dress yang Terasa Dekat

Sebagai adaptasi Wedding Dress, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? masih mempertahankan sejumlah elemen penting dari film aslinya. Alur besarnya pun relatif mudah ditebak, bahkan bagi penonton yang belum mengetahui cerita versi Korea.

Namun, hubungan Stella dan Rere menjadi bagian yang membuat film ini tetap memiliki identitas sendiri. Rere tidak digambarkan sebagai anak yang selalu manis dan penurut. Ia bisa marah, kecewa, bersikap egois, bahkan melontarkan perkataan yang menyakitkan kepada ibunya.

Justru karena itulah dinamika keduanya terasa lebih manusiawi. Rere mungkin sudah terbiasa melakukan banyak hal sendiri, tetapi mandiri tidak berarti siap kehilangan ibunya.

Sayangnya, simbol gaun pengantin yang menjadi bagian penting cerita belum memiliki bobot emosional sekuat hubungan Stella dan Rere. Film sebenarnya memiliki peluang untuk membuat benda tersebut terasa lebih personal, tetapi pengembangannya belum sepenuhnya maksimal.

Marsha Timothy dan Fara Shakila Jadi Kekuatan Utama

Marsha Timothy dan Fara Shakila tampil dengan pendekatan emosi yang berbeda. Fara membawakan Rere dengan emosi yang lebih terbuka. Kemarahan, rasa kecewa, hingga ketakutannya terasa spontan seperti seorang anak yang belum siap memahami kehilangan.

Sementara itu, Marsha memilih menahan emosi sebagai Stella. Ia seperti sengaja tidak membiarkan kesedihan mengambil alih karena masih ingin membuat waktu bersama Rere terasa normal.

Chemistry keduanya menjadi kekuatan utama film. Hubungan mereka terasa intim tanpa harus terus-menerus dipaksa menjadi adegan tangisan.

Kehadiran Ivan Gunawan dan Praz Teguh juga memberi warna berbeda. Terutama pada bagian awal, humor dari karakter pendukung membuat film tidak langsung tenggelam dalam suasana muram. Tata artistik butik gaun pengantin turut memperkuat sisi visual film.

Review Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? memang bukan film dengan cerita yang sulit ditebak. Namun, kekuatannya bukan terletak pada kejutan cerita, melainkan pada hubungan ibu dan anak yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Film ini mengingatkan bahwa kehadiran seorang ibu sering dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Sampai sebuah kenyataan memaksa seorang anak menyadari bahwa waktu bersama orang yang dicintainya ternyata memiliki batas.

Tidak semua bagian adaptasinya bekerja sama kuat. Simbol gaun pengantin terasa belum sepenuhnya menyatu dengan emosi cerita. Namun, chemistry Marsha Timothy dan Fara Shakila membuat drama ini tetap mampu menyentuh tanpa harus berlebihan.

Bagi penonton yang menyukai drama keluarga tentang hubungan orang tua dan anak, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? menawarkan kisah sederhana tentang cinta, kehilangan, dan proses belajar merelakan.