Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Hadirkan Horor yang Dibayangi Luka Masa Lalu

-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Hadirkan Horor yang Dibayangi Luka Masa Lalu

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah membawa teror eksorsisme ke level yang lebih luas dengan konflik keluarga, kutukan masa lalu, dan pergulatan iman. Namun, sejumlah persoalan cerita membuat sekuel ini belum sepenuhnya memenuhi ambisinya.

Sinopsis Kuasa Gelap: Perjanjian Darah

Duo imam Katolik, Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia), kembali menghadapi kasus kerasukan dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Kali ini, keduanya harus menyelamatkan Daniel (Venly Arauna), putra Halim (Ferry Salim) dan Linda (Feby Febiola), yang menunjukkan perilaku tidak wajar.

Linda meminta bantuan melalui Suster Aloysia (Lydia Kandou), sosok yang memiliki hubungan erat dengan masa lalu Rendra. Namun, upaya penyelamatan Daniel tidak berjalan mudah. Halim justru menolak anggapan bahwa putranya kerasukan, sementara kondisi Daniel terus memburuk.

Di tengah situasi tersebut, Rendra harus berhadapan dengan kenangan kelam yang belum selesai. Hubungannya dengan Halim ternyata menyimpan luka lama yang ikut memengaruhi konflik mereka saat ini.

Ancaman juga meluas ke perusahaan perikanan milik Halim. Sejumlah kejadian mengerikan di kawasan pelabuhan mengindikasikan bahwa teror yang mereka hadapi bukan sekadar persoalan satu keluarga. Ada perjanjian darah dan rahasia masa lalu yang perlahan terungkap.

Visual Lebih Matang, Teror Tidak Melulu Jumpscare

Dari sisi produksi, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menunjukkan peningkatan yang cukup terasa. Sinematografinya mampu membangun suasana gelap melalui permainan pencahayaan, sudut kamera, dan pemilihan lokasi. Rumah keluarga Halim terasa angker, sementara kawasan pelabuhan memberikan nuansa berbeda yang memperluas ruang teror.

Tata rias dalam adegan kerasukan juga patut diapresiasi. Perubahan fisik Daniel terlihat meyakinkan dan membuat sejumlah adegan terasa lebih mengganggu.

Menariknya, film ini tidak terus-menerus mengandalkan jumpscare. Beberapa adegan justru membangun ketegangan secara perlahan sebelum menghadirkan teror yang lebih intens. Pendekatan tersebut membuat suasana horor terasa lebih terjaga, meski tidak semua adegan memiliki dampak yang sama kuat.

Venly Arauna Jadi Salah Satu Kekuatan Film

Penampilan Venly Arauna sebagai Daniel menjadi salah satu hal yang paling menonjol. Ia tidak sekadar memperlihatkan ekspresi menyeramkan saat kerasukan, tetapi juga mampu menggambarkan ketakutan, tekanan, dan keputusasaan yang dialami karakternya.

Lukman Sardi juga tampil meyakinkan sebagai Romo Rendra. Konflik dengan masa lalunya memberi lapisan emosional yang membuat karakter tersebut terasa lebih manusiawi. Chemistry-nya dengan Jerome Kurnia tetap terjaga, meski kali ini Romo Thomas terasa kurang mendapat ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, Ferry Salim dan Feby Febiola cukup berhasil menggambarkan dinamika orangtua yang menghadapi kondisi anak mereka. Konflik keluarga ini menjadi bagian penting yang membedakan sekuel tersebut dari film pertamanya.

Cerita Ambisius, tetapi Masih Menyisakan Pertanyaan

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tidak hanya berbicara tentang eksorsisme. Film ini juga mengangkat dosa, pengampunan, iman, dan konsekuensi dari pilihan manusia. Masa lalu Rendra menjadi salah satu bagian paling menarik karena memperlihatkan pergulatan seorang imam yang masih dihantui rasa bersalah.

Sayangnya, beberapa gagasan tersebut belum digali secara maksimal. Hubungan antara perjanjian darah, dosa leluhur, dan nasib generasi berikutnya masih menyisakan pertanyaan. Proses penyelidikan sebelum kesimpulan tentang kekuatan jahat muncul juga terasa kurang mendalam.

Masalah serupa terlihat menjelang akhir cerita. Skala teror memang semakin besar, tetapi dampaknya terhadap lingkungan sekitar belum digambarkan secara maksimal. Akibatnya, klimaks yang seharusnya menjadi puncak ketegangan justru terasa kurang menggigit.

Kesimpulan

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menawarkan pengalaman horor yang lebih sinematik dengan drama keluarga yang lebih kuat. Akting Venly Arauna, penampilan Lukman Sardi, dan atmosfer mencekam menjadi nilai tambah yang membuat film ini tetap menarik untuk disaksikan.

Namun, banyaknya konflik dan pesan yang ingin disampaikan membuat beberapa bagian cerita terasa terburu-buru. Film ini punya modal kuat sebagai sekuel horor eksorsisme, tetapi pengembangan mitologi dan klimaksnya masih bisa dibuat lebih meyakinkan.

Bagi pencinta horor supernatural yang menginginkan lebih dari sekadar jumpscare, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah layak masuk daftar tontonan. Film ini bukan hanya menawarkan teror, tetapi juga mengajak penonton memikirkan hubungan antara keluarga, dosa, dan iman.

Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.