Review Para Perasuk: Eksperimen Berani Wregas Bhanuteja Menyulap Kerasukan Menjadi Pesta Estetik

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Para Perasuk: Eksperimen Berani Wregas Bhanuteja Menyulap Kerasukan Menjadi Pesta Estetik

Film Para Perasuk garapan sutradara Wregas Bhanuteja akhirnya resmi tayang di bioskop Indonesia pada Kamis, 23 April 2026. Setelah lebih dulu mencuri perhatian di berbagai festival internasional, film ini hadir dengan ekspektasi tinggi. Bukan tanpa alasan, Wregas dikenal lewat karya-karya kuat seperti Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti. Di film terbarunya ini, ia kembali membawa pendekatan yang tidak biasa: mengolah budaya lokal kerasukan menjadi sebuah drama fantasi yang penuh warna, bukan sekadar horor.

Dunia Desa Latas yang Tidak Biasa

Cerita berpusat di Desa Latas, sebuah wilayah fiktif yang memiliki tradisi unik bernama pesta sambetan. Di desa ini, kerasukan tidak dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan hiburan sekaligus bagian dari kehidupan sosial. Bahkan, fenomena ini menjadi semacam pelarian dari realitas hidup yang keras.

Konsep ini langsung menjadi daya tarik utama film. Wregas tidak membangun dunia mistis sebagai sumber teror, melainkan ruang ekspresi budaya yang hidup, aneh, tapi justru terasa dekat.

Bayu dan Obsesi yang Menggerus Diri

Tokoh utama film ini adalah Bayu, diperankan oleh Angga Yunanda. Ia adalah pemuda desa yang terobsesi menjadi perasuk terbaik. Ambisinya bukan sekadar mengejar status, tetapi juga pengakuan sosial dan harapan untuk mengubah hidupnya.

Namun, film ini perlahan menunjukkan bagaimana ambisi bisa berubah bentuk menjadi obsesi yang berbahaya. Angga berhasil memerankan transisi emosional tersebut dengan cukup meyakinkan, dari pemuda penuh semangat menjadi sosok yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di sisi lain, hadir karakter Laksmi yang dimainkan Maudy Ayunda. Ia menjadi salah satu peran paling mencolok dalam film ini. Laksmi digambarkan sebagai sosok yang terhubung dengan roh binatang, dan perannya menuntut ekspresi fisik yang intens. Hasilnya, Maudy tampil berani dan berbeda dari peran-peran sebelumnya.

Visual Sinematik yang Kaya dan Berkarakter

Secara visual, Para Perasuk terasa seperti dunia yang benar-benar dirancang dengan detail. Wregas kembali menunjukkan kekuatannya dalam membangun bahasa visual yang tidak hanya indah, tetapi juga punya makna.

Permainan warna hangat, komposisi gambar yang hidup, hingga desain produksi Desa Latas membuat film ini terasa imersif. Penonton seperti diajak masuk ke dunia yang punya aturan sendiri, antara realitas dan alam sambetan yang kabur batasnya.

Pendekatan ini membuat film terasa seperti pengalaman, bukan sekadar tontonan.

Perpaduan Drama, Komedi, dan Fantasi

Salah satu kejutan terbesar dari film ini adalah keberadaan humor yang cukup kuat. Di tengah tema yang serius tentang obsesi dan spiritualitas, Wregas menyelipkan komedi yang muncul secara natural dari situasi dan dialog.

Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, hingga Indra Birowo memberikan warna tambahan lewat karakter-karakter yang kadang absurd, tapi tetap relevan dengan dunia cerita. Film ini tidak terasa kaku, justru punya ritme yang hidup.

Lapisan Cerita Sosial yang Kuat

Di balik ritual sambetan dan dunia spiritual, Para Perasuk juga menyimpan konflik sosial yang cukup tajam. Desa Latas terancam oleh kepentingan perusahaan yang ingin mengambil sumber daya air untuk proyek besar.

Lapisan cerita ini memperkuat pesan film tentang bagaimana tradisi, ruang hidup, dan identitas lokal sering kali terancam oleh modernisasi dan kepentingan ekonomi.

Meski kuat di banyak aspek, film ini tidak sepenuhnya mulus. Memasuki babak akhir, ritme cerita terasa sedikit terburu-buru. Beberapa konflik diselesaikan dengan cepat setelah pembangunan dunia yang cukup detail di awal dan tengah film.

Namun, kekurangan ini tidak benar-benar merusak keseluruhan pengalaman menonton. Justru, keberanian Wregas dalam mengeksplorasi tema yang tidak biasa tetap menjadi nilai utama film ini.

Para Perasuk adalah film yang berani mengambil risiko. Ia tidak bermain aman dengan formula horor konvensional, melainkan menawarkan sudut pandang baru tentang budaya kerasukan sebagai ruang ekspresi, bukan sekadar ketakutan.

Dengan visual kuat, akting yang solid, serta ide cerita yang unik, film ini menjadi salah satu karya Indonesia yang paling menarik di tahun 2026. Meski tidak sempurna, Para Perasuk tetap meninggalkan kesan yang sulit diabaikan—sebuah film tentang obsesi, budaya, dan batas tipis antara kendali dan kehilangan diri.