The Assassin(s) Tembus 2 Juta Penonton di Tengah Kontroversi Distorsi Sejarah
Kai Renata -
Film The Assassin(s) berhasil menembus 2 juta penonton di Korea Selatan. Pencapaian itu datang ketika film arahan Hur Jin-ho tersebut tengah menjadi sorotan akibat kontroversi cerita yang dianggap memunculkan tafsir baru terhadap sebuah tragedi politik pada 1974.
Berdasarkan data Korean Film Council, The Assassin(s) telah ditonton 2.045.499 orang hingga 3 Oktober 2026. Jumlah tersebut diraih setelah film yang dibintangi Yoo Hae-jin, Lee Min-ho, dan Park Hae-il itu tayang selama 11 hari.
Film ini sebelumnya mencapai 1 juta penonton pada 26 September. Dengan demikian, The Assassin(s) hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk menggandakan jumlah penontonnya menjadi lebih dari 2 juta.
Namun, perjalanan film tersebut tidak sepenuhnya mulus. Di tengah performanya di box office, The Assassin(s) justru menghadapi gelombang kritik terkait cara film menggambarkan peristiwa sejarah Korea Selatan.
Angkat Tragedi Penembakan 1974
The Assassin(s) mengambil latar peristiwa 15 Agustus 1974. Saat itu, Presiden Korea Selatan Park Chung-hee sedang berpidato dalam upacara Hari Pembebasan di Teater Nasional Seoul.
Seorang pria bernama Mun Se-gwang kemudian melepaskan tembakan ke arah sang presiden. Park Chung-hee selamat dalam kejadian tersebut, tetapi istrinya, Ibu Negara Yuk Young-soo, tewas tertembak.
Dalam film, perhatian tidak hanya diarahkan kepada pelaku yang ditangkap setelah kejadian. Cerita mengikuti detektif Cheol-gu, editor surat kabar Jae-hwan, dan wartawan muda Young-il yang mulai mempertanyakan penyelidikan resmi.
Salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan jumlah tembakan yang terdengar saat insiden berlangsung. Dari sana, penyelidikan mereka berkembang dan memunculkan dugaan bahwa ada pihak lain yang mungkin terlibat.
Cerita Picu Tuduhan Distorsi Sejarah
Bagian tersebut kemudian menjadi sumber utama kontroversi. Sejumlah pihak menilai film terlalu jauh menggambarkan kemungkinan adanya konspirasi yang melibatkan aparat negara atau orang-orang di sekitar pemerintahan Park Chung-hee.
Yayasan Presiden Park Chung-hee meminta tim produksi menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan menghentikan penayangan film. Polemik bahkan berlanjut ke ranah hukum setelah sutradara dan tim produksi dilaporkan ke Kepolisian Metropolitan Seoul.
Kritik juga datang dari sejumlah politikus konservatif Korea Selatan. Mereka menilai cerita The Assassin(s) dapat memengaruhi pemahaman penonton terhadap peristiwa sejarah tersebut.
Rumah Produksi Tegaskan Film Fiksi
Hive Media Corp selaku rumah produksi kemudian memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan The Assassin(s) merupakan film fiksi yang mengambil peristiwa sejarah sebagai inspirasi cerita.
Menurut rumah produksi, proses pembuatan film dilakukan dengan merujuk pada berbagai catatan publik, buku, dokumenter, serta sumber sejarah. Mereka juga menegaskan tidak menunjuk individu atau kelompok tertentu sebagai dalang di balik penembakan.
Elemen konspirasi yang muncul dalam film, menurut Hive Media Corp, merupakan bagian dari dramatisasi dan tidak dimaksudkan untuk disajikan sebagai fakta sejarah.
Terlepas dari kontroversi tersebut, The Assassin(s) tetap mampu menarik lebih dari 2 juta penonton. Film ini pun masih menjadi salah satu judul yang diperhitungkan di box office Korea Selatan pada awal Oktober 2026.