The Assassin(s) Tembus 3 Juta Penonton di Tengah Kontroversi Sejarah
Arga Pratama -
Film thriller misteri Korea Selatan The Assassin(s) berhasil menembus 3 juta penonton dalam waktu kurang dari tiga pekan penayangan, sekaligus mempertahankan posisi puncak box office di tengah kontroversi distorsi sejarah yang menyertainya.
Berdasarkan data Korean Film Council (KOFIC) pada 13 Oktober 2026, film garapan Hur Jin-ho tersebut telah mengumpulkan 3.023.216 penonton secara kumulatif. Pencapaian ini diraih sekitar 19 hingga 20 hari sejak debutnya di bioskop Korea Selatan pada September 2026.
Keberhasilan tersebut menjadikan The Assassin(s) sebagai film Korea kelima yang dirilis pada 2026 dan berhasil melampaui 3 juta penonton. Film yang dibintangi Yoo Hae-jin, Park Hae-il, dan Lee Min-ho ini juga menunjukkan daya tahan kuat dengan bertahan di posisi teratas box office mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Penonton The Assassin(s) Terus Bertambah
Popularitas The Assassin(s) tidak menunjukkan tanda-tanda melambat memasuki pekan keempat penayangan. Pada periode 5-11 Oktober 2026, film ini berhasil menarik 758.587 penonton, meningkat dibandingkan perolehan 667.698 penonton pada pekan sebelumnya.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa minat penonton terhadap film ini tetap tinggi meskipun persaingan di bioskop Korea Selatan semakin ketat. Hingga 13 Oktober, The Assassin(s) masih diputar di lebih dari 1.000 layar bioskop di seluruh negeri.
Selain performa komersial, respons positif dari penonton turut mendukung perjalanan film ini. Kualitas skenario, penyutradaraan, serta akting para pemerannya menjadi sejumlah aspek yang mendapat apresiasi. Rekomendasi dari mulut ke mulut juga membantu menjaga minat masyarakat untuk menyaksikan film tersebut.
Meski demikian, persaingan belum berakhir. Film animasi Jepang Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island juga mencatat pertumbuhan penonton yang kuat dan telah melampaui 1,3 juta penonton.
Mengangkat Misteri Penembakan pada 1974
The Assassin(s) mengambil latar peristiwa 15 Agustus 1974, ketika Presiden Korea Selatan Park Chung-hee menyampaikan pidato dalam upacara peringatan Hari Pembebasan di Seoul. Insiden penembakan dalam acara tersebut menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo dan seorang gadis muda, sementara Park selamat.
Cerita berpusat pada penyelidikan terhadap sejumlah pertanyaan yang muncul setelah kejadian tersebut. Detektif Cheol-gu, editor surat kabar Jae-hwan, dan wartawan muda Young-il mempertanyakan hasil investigasi resmi, termasuk ketidaksesuaian jumlah tembakan yang terdengar dengan kapasitas peluru senjata pelaku.
Penyelidikan mereka menghadapi tekanan dan tuduhan politik yang menghambat upaya mencari jawaban. Melalui pendekatan thriller misteri, film ini mengeksplorasi ketegangan antara fakta, kekuasaan, dan kebebasan mengungkap kebenaran.
Kontroversi Distorsi Sejarah Ikut Menyorot Film
Perjalanan The Assassin(s) di bioskop juga diwarnai kritik dari sejumlah tokoh konservatif Korea Selatan. Mereka menilai penggambaran peristiwa bersejarah dalam film tersebut berpotensi menyimpangkan fakta dan merugikan keluarga mendiang Yuk Young-soo. Sejumlah pihak bahkan mendesak tim produksi menyampaikan permintaan maaf.
Tim produksi membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa film ini merupakan karya fiksi yang menggunakan imajinasi kreatif dalam mengembangkan ceritanya. Sejumlah organisasi perfilman Korea Selatan turut menyuarakan penolakan terhadap upaya politisasi karya sinema.
Kontroversi tersebut menambah perhatian publik terhadap The Assassin(s), meskipun tidak dapat dipastikan seberapa besar pengaruhnya terhadap penjualan tiket. Dengan raihan lebih dari 3 juta penonton dan respons positif yang terus berdatangan, film ini berpeluang mempertahankan performa box office dalam beberapa pekan mendatang.