Tuai Kontroversi, The Assassin(s) Tetap Jadi Film Pembuka SGIFF

-
Tuai Kontroversi, The Assassin(s) Tetap Jadi Film Pembuka SGIFF

Singapore International Film Festival (SGIFF) tetap menayangkan The Assassin(s) sebagai film pembuka edisi ke-37. Keputusan itu dipertahankan meski film garapan Hur Jin-ho tersebut menuai protes keras dari kelompok konservatif di Korea Selatan.

SGIFF menyatakan telah mengetahui perdebatan yang muncul terkait film tersebut. Namun, festival tidak berencana mengubah jadwal dan tetap menempatkan The Assassin(s) sebagai film pembuka pada 21 Oktober mendatang.

Dalam pernyataannya, SGIFF menyebut film tersebut dipilih melalui proses kurasi independen dengan mempertimbangkan nilai artistik serta kontribusinya terhadap perkembangan sinema Asia.

Dipersoalkan karena Angkat Peristiwa Sejarah

Kontroversi The Assassin(s) berawal dari cerita yang mengambil latar peristiwa penembakan pada 15 Agustus 1974. Insiden tersebut menewaskan Yuk Young-soo, istri Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee.

Berdasarkan penyelidikan resmi, Mun Se-gwang dinyatakan sebagai pelaku tunggal yang bertindak atas instruksi Korea Utara. Namun, film Hur Jin-ho memilih pendekatan berbeda dengan menghadirkan penyelidikan fiktif yang mempertanyakan kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam pemerintahan Park.

Penggambaran tersebut kemudian dianggap sebagai bentuk distorsi sejarah oleh sejumlah kelompok konservatif Korea Selatan.

People Power Party (PPP) bahkan meminta SGIFF membatalkan The Assassin(s) sebagai film pembuka. Sebanyak 109 anggota parlemen dari partai tersebut menyampaikan keberatan kepada pihak festival.

Mereka menilai posisi film sebagai pembuka festival internasional dapat membuat penonton dari luar Korea Selatan menerima gambaran sejarah yang berbeda dari versi resmi.

SGIFF Tetap Membela Pilihannya

Meski mendapat tekanan, SGIFF memilih mempertahankan film tersebut. Festival menegaskan The Assassin(s) harus dipahami sebagai karya sinema yang memadukan fakta sejarah dengan elemen fiksi.

Pihak pembuat film juga sebelumnya menyatakan bahwa cerita tersebut tidak dibuat untuk menentukan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas pembunuhan Yuk Young-soo.

Dengan pendekatan tersebut, SGIFF menilai film ini berada dalam konteks karya kreatif, bukan sebuah pernyataan sejarah atau sikap politik.

Sempat Dapat Sambutan Positif di Festival Film

Di luar kontroversinya, The Assassin(s) justru mendapat respons positif dalam sejumlah festival film internasional.

Film ini melakukan pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF). The Assassin(s) juga menjadi runner-up dalam penghargaan International People’s Choice Award.

Di Korea Selatan sendiri, film tersebut telah mengumpulkan sekitar 2,5 juta penonton sejak dirilis pada 23 September.

Kontroversi kemudian meluas setelah sejumlah agenda promosi film di Busan International Film Festival ikut terdampak. Pemeran dan kru menarik diri dari beberapa kegiatan karena mempertimbangkan faktor keamanan.

Sejumlah organisasi perfilman Korea Selatan juga memberikan dukungan kepada Hur Jin-ho dan timnya. Mereka menilai perbedaan pandangan terhadap sebuah film merupakan hal yang wajar, tetapi kritik tidak seharusnya berubah menjadi ancaman terhadap para pembuatnya.

The Assassin(s) akan membuka SGIFF pada 21 Oktober. Hur Jin-ho dijadwalkan hadir bersama Park Sung-hoon dan Shim Eun-kyung. Festival film tersebut berlangsung hingga 1 November 2026.