Film Horor Juminten Edan Tawarkan Cerita Berbeda, Angkat Isu Disabilitas dan Trauma Keluarga

Tim Teaterdotco - 50 menit yang lalu
Film Horor Juminten Edan Tawarkan Cerita Berbeda, Angkat Isu Disabilitas dan Trauma Keluarga

Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan karya terbaru yang menjanjikan pendekatan berbeda. Film berjudul Juminten Edan resmi diperkenalkan ke publik melalui first look yang dirilis oleh rumah produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production. Film ini disutradarai oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio.

Tidak seperti kebanyakan film horor lokal, Juminten Edan menghadirkan karakter utama yang unik sekaligus kompleks. Sosok Juminten, yang diperankan oleh Meisya Amira, adalah seorang perempuan dengan disabilitas wicara dan hambatan pendengaran. Karakter ini tidak digambarkan sebagai sosok sempurna, melainkan manusia dengan luka batin, trauma, serta rahasia masa lalu yang perlahan terungkap.

Alur Cerita: Dari Kehangatan Keluarga Menuju Teror

Kisah bermula ketika Juminten kembali ke pulau tempat ia dibesarkan setelah delapan tahun merantau. Ia datang bersama suami dan anaknya, berharap memulai kehidupan baru yang lebih tenang. Kepulangan tersebut awalnya disambut hangat oleh keluarga besar, menghadirkan suasana penuh harapan.

Namun, kondisi mulai berubah saat Juminten menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Kejadian-kejadian ganjil mulai bermunculan, menciptakan ketegangan yang terus meningkat. Dalam beberapa momen, Juminten bahkan terlihat kehilangan kendali hingga membahayakan orang-orang terdekatnya, termasuk suami dan anaknya sendiri.

Teror yang dihadirkan dalam film ini tidak hanya bersifat supranatural, tetapi juga menyentuh sisi psikologis yang dalam. Penonton diajak memahami pergulatan batin Juminten, sekaligus menelusuri misteri di balik perubahan drastis dalam dirinya.

Horor dengan Sentuhan Isu Sosial

Sutradara Dedy Mercy menegaskan bahwa Juminten Edan bukan sekadar film horor biasa. Film ini juga menggambarkan dinamika keluarga dan tekanan sosial yang sering terjadi di kehidupan nyata.

Cerita dalam film ini disebut sebagai “miniatur masalah sosial dalam keluarga,” yang menghadirkan perpaduan antara kehangatan, konflik, hingga sudut pandang tentang kewarasan. Pesan yang ingin disampaikan cukup kuat: di tengah kehidupan modern, batas antara waras dan tidak waras bisa menjadi sangat tipis.

Pendekatan ini membuat film terasa lebih manusiawi dan relevan, bukan hanya menakut-nakuti, tetapi juga mengajak penonton berpikir.

Tantangan Akting Tanpa Banyak Dialog

Peran Juminten menjadi tantangan besar bagi Meisya Amira. Minimnya dialog membuatnya harus mengandalkan ekspresi, gestur, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan emosi.

Untuk mendalami karakter, Meisya melakukan persiapan intensif, mulai dari memahami latar belakang cerita hingga mempelajari bahasa isyarat bersama pelatih khusus. Ia juga berusaha tetap berada dalam karakter selama proses syuting agar emosi yang ditampilkan terasa konsisten dan autentik.

Pendekatan ini menjadi kunci penting dalam membangun suasana mencekam, karena ketegangan tidak selalu hadir melalui kata-kata, tetapi juga melalui ekspresi yang kuat.

Konflik Cinta dan Ketakutan

Selain Meisya Amira, film ini juga dibintangi oleh Dimas Aditya yang memerankan Manto, suami Juminten. Karakternya menghadapi dilema emosional antara cinta dan rasa takut terhadap perubahan sang istri.

Konflik tersebut menjadi salah satu kekuatan cerita, karena menghadirkan sisi emosional yang dekat dengan kehidupan nyata. Cinta, dalam film ini, digambarkan sebagai kekuatan yang mampu bertahan bahkan di tengah situasi yang paling menakutkan.

Siap Tayang 2026

Didukung oleh deretan pemain seperti Anne J Coto, Kukuh Prasetyo, Deden Bagaskara, Bambang Oeban, dan lainnya, Juminten Edan dijadwalkan tayang di bioskop pada tahun 2026.

Dengan perpaduan horor psikologis, isu sosial, serta karakter yang kuat, film ini berpotensi menjadi salah satu tontonan yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya.