Film Songko Tawarkan Horor Berbeda, Angkat Cerita Daerah ke Level Baru

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film Songko Tawarkan Horor Berbeda, Angkat Cerita Daerah ke Level Baru

Film horor Indonesia kembali kedatangan pemain baru. Kali ini, Songko hadir dengan konsep yang tidak biasa. Di tengah tren film horor yang identik dengan jumpscare, Songko justru mencoba menawarkan sesuatu yang lebih tenang, tetapi terasa lebih dalam.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026. Sejak awal, Songko sudah menarik perhatian karena membawa cerita lokal ke dalam kemasan sinematik yang lebih serius.

Berangkat dari Cerita Rakyat Minahasa

Songko diangkat dari legenda masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Selama ini, kisah tersebut hanya dikenal sebagai cerita turun-temurun yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui film ini, cerita tersebut dihidupkan kembali. Tidak sekadar dipindahkan ke layar lebar, tetapi juga digarap dengan riset yang cukup mendalam. Tim produksi melakukan pengamatan langsung ke lokasi, mempelajari budaya setempat, hingga melibatkan talenta lokal agar cerita tetap terasa asli.

Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, mengatakan bahwa sejak awal tim memang ingin membuat Songko berbeda.

“Kami percaya cerita daerah di Indonesia punya kekuatan besar. Lewat Songko, kami ingin menunjukkan bahwa film horor bisa jadi cara untuk mengangkat identitas budaya, bukan cuma soal menakut-nakuti,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (20/4/2026).

Tidak Hanya Soal Hantu dan Teror

Pendekatan yang diambil Songko tidak berhenti pada sosok makhluk gaib. Film ini juga menyoroti bagaimana rasa takut bisa muncul dari manusia itu sendiri.

Sutradara Gerald Mamahit menjelaskan bahwa ketegangan dalam film dibangun secara perlahan.

“Ketakutan di Songko bukan cuma datang dari makhluknya, tapi dari situasi ketika orang-orang mulai saling curiga dan kehilangan kepercayaan,” katanya.

Hal ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Penonton tidak hanya diajak merasa takut, tetapi juga ikut merasakan konflik yang terjadi di dalam cerita.

Cerita tentang Teror dan Kecurigaan

Film Songko mengambil latar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa. Suasana desa berubah mencekam setelah beberapa perempuan muda ditemukan meninggal secara misterius.

Warga mulai percaya bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan sosok gaib bernama Songko. Makhluk ini diyakini mengincar darah perempuan muda untuk tujuan tertentu.

Situasi semakin rumit ketika kecurigaan mengarah pada keluarga Mikha. Ibu tirinya, Helsye, dituduh sebagai pihak yang memanggil makhluk tersebut.

Dari sini, konflik mulai berkembang. Hubungan antarwarga retak, kepercayaan hilang, dan ketakutan berubah menjadi kemarahan.

Namun teror tidak berhenti setelah keluarga itu pergi. Mikha justru mengalami kejadian aneh yang membuatnya semakin dekat dengan misteri Songko.

Libatkan Talenta Lokal

Salah satu hal yang cukup menonjol dari Songko adalah keterlibatan talenta lokal. Sebagian besar pemain dan kru berasal dari Manado dan sekitarnya.

Penggunaan logat daerah, suasana lokasi, hingga detail budaya menjadi bagian penting dalam film ini. Tujuannya jelas, agar cerita tidak terasa dibuat-buat dan tetap punya akar yang kuat.

Film ini dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak.

Respons Awal Cukup Positif

Sejak trailer dirilis, Songko sudah mulai dibicarakan di media sosial. Banyak penonton yang menilai film ini punya pendekatan berbeda dibanding film horor kebanyakan.

Beberapa komentar menyebutkan bahwa sinematografinya terlihat lebih serius, sementara penggunaan unsur budaya lokal dianggap memberi warna baru.

Hal ini menunjukkan bahwa penonton Indonesia mulai mencari tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga punya cerita yang lebih kuat.

Kehadiran Songko bisa menjadi tanda bahwa film horor Indonesia mulai bergerak ke arah yang berbeda. Tidak hanya mengandalkan efek kejut, tetapi juga memperhatikan cerita dan konteks budaya.

Jika mendapat respons baik saat tayang nanti, Songko berpotensi membuka jalan bagi lebih banyak cerita daerah untuk diangkat ke layar lebar.

Pada akhirnya, Songko bukan hanya soal rasa takut. Film ini mencoba membawa sesuatu yang lebih dekat, yaitu cerita yang berasal dari masyarakat sendiri, lalu dikemas dengan cara yang lebih matang dan relevan untuk penonton saat ini.