Jadwal Film Esok Tanpa Ibu: Drama Keluarga, Kehilangan, dan AI yang Menyentuh Emosi
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film Esok Tanpa Ibu menjadi salah satu tayangan bioskop yang paling dinantikan pada awal 2026. Karya terbaru dari Base Entertainment dan Beacon Film ini menawarkan cerita drama fantasi yang dekat dengan realitas banyak keluarga modern: hubungan orang tua dan anak, rasa kehilangan, serta peran teknologi di tengah krisis emosional. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026.
Disutradarai oleh Ho Wi Ding, sineas asal Malaysia, Esok Tanpa Ibu ditulis oleh Gina S. Noer bersama Diva Apresya dan Melarissa Sjarief. Dengan durasi sekitar 1 jam 47 menit, film ini tidak hanya menyuguhkan drama keluarga, tetapi juga refleksi tentang batas kemanusiaan dan kecanggihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sinopsis: Ketika AI Menjadi Penghubung Emosi
Cerita berpusat pada Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang memiliki kedekatan emosional sangat kuat dengan ibunya, Laras (Dian Sastrowardoyo). Sejak kecil, Rama merasa ibunya adalah satu-satunya tempat aman untuk berbagi cerita dan perasaan. Sebaliknya, hubungannya dengan sang ayah, Hendri (Ringgo Agus Rahman), berjalan dingin dan penuh jarak karena perbedaan pandangan hidup.
Kehidupan Rama berubah drastis ketika Laras mengalami insiden serius hingga harus terbaring koma. Kehilangan figur ibu secara tiba-tiba membuat Rama terpuruk dan merasa sendirian. Dalam kondisi tersebut, ia menemukan jalan tak terduga melalui teknologi AI bernama i-BU, sebuah program yang mampu meniru wajah, suara, hingga gestur ibunya.
Bagi Rama, i-BU bukan sekadar teknologi. AI ini menjadi cara untuk mengobati rindu, melawan kesepian, sekaligus upaya merangsang kerja otak sang ibu agar bisa kembali sadar. Namun, ketergantungan pada i-BU juga memunculkan konflik baru, baik secara emosional maupun dalam relasinya dengan sang ayah.
Konflik Keluarga di Tengah Teknologi
Esok Tanpa Ibu dengan cermat menggambarkan dinamika hubungan ayah dan anak yang retak. Hendri digambarkan sebagai sosok ayah yang kaku dan sulit mengekspresikan perasaan, sementara Rama tumbuh dengan luka emosional yang belum sembuh. Ketidakhadiran ibu sebagai penyeimbang membuat konflik keduanya semakin terasa.
Kehadiran AI i-BU menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memberi harapan dan kenyamanan. Di sisi lain, film ini mengajak penonton berpikir tentang batas etis teknologi dan apakah kehadiran virtual mampu menggantikan kehangatan manusia sesungguhnya.
Proyek Internasional dan Sambutan Festival
Menariknya, Esok Tanpa Ibu merupakan proyek kolaborasi lintas negara antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Film ini juga dikenal dengan judul internasional Mothernet dan telah melakukan world premiere di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 dalam program A Window on Asian Cinema. Selain itu, film ini turut diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025, menandai apresiasi positif dari komunitas film Asia.
Acara gala premiere Esok Tanpa Ibu berlangsung meriah dan penuh kehangatan. Sejumlah figur publik seperti Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Tara Basro, hingga Sheila Dara turut hadir. Dalam sesi MovieTalk, Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman mengungkapkan bahwa ide film ini sudah dikembangkan sejak 2019–2020, jauh sebelum isu AI menjadi topik hangat seperti sekarang.
Dengan cerita yang emosional, akting kuat lintas generasi, serta isu teknologi yang relevan, Esok Tanpa Ibu hadir sebagai film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenung tentang makna keluarga, kehilangan, dan harapan di tengah keterbatasan manusia.