Review Bapak Paling Jujur, Saat Kutukan Kejujuran Mengacaukan Kampanye
Arin Mahesa -
Film Bapak Paling Jujur menghadirkan komedi politik tentang calon gubernur yang mendadak tidak bisa berbohong. Disutradarai Fajar Nugros, film ini menyindir pencitraan dan permainan politik lewat situasi absurd yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sinopsis Bapak Paling Jujur
Bapak Paling Jujur mengikuti perjalanan Jonas Prakoso (Andovi da Lopez), seorang calon gubernur yang tengah berjuang memenangkan pemilihan bersama pasangannya, Sambodo (Soleh Solihun). Bersama Marbun (Benedictus Siregar), kepala tim suksesnya, Jonas menyusun strategi kampanye demi mendapatkan dukungan masyarakat.
Selama ini, Jonas terbiasa menjaga citra dan mengatur perkataan demi kepentingan politiknya. Namun, semuanya berubah setelah ia terkena kutukan dari sang nenek. Sejak saat itu, Jonas tidak bisa lagi berbohong. Lebih parahnya, ia juga kehilangan kemampuan untuk menyaring perkataan sehingga apa pun yang terlintas di pikirannya bisa langsung keluar dari mulut.
Rahasia yang seharusnya disimpan, strategi yang tidak boleh diketahui lawan, hingga pemikiran pribadinya mulai terungkap. Kondisi tersebut membuat kampanye Jonas berantakan dan orang-orang di sekitarnya ikut kerepotan.
Diadaptasi dari film Brasil O Candidato Honesto (2014), film produksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope ini mencoba membawa komedi politik ke tengah fenomena yang akrab bagi masyarakat Indonesia. Selain Andovi da Lopez, film ini turut dibintangi Claresta Taufan, Nayla D. Purnama, Lolox, dan Cing Abdel.
Jadwal tayang Bapak Paling Jujur dimulai pada 15 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Penonton dapat mengecek jadwal tayang, lokasi bioskop, dan jam pemutaran untuk mengetahui waktu menonton yang tersedia.
Sindiran Politik yang Dekat dengan Realitas Indonesia
Premis tentang politikus yang tidak bisa berbohong sebenarnya bukan hal baru. Namun, gagasan tersebut tetap menarik ketika dibawa ke situasi politik Indonesia yang penuh pencitraan dan strategi membangun citra di hadapan publik.
Film ini memanfaatkan berbagai fenomena politik sebagai bahan lelucon. Mulai dari cara kandidat mencari dukungan, permainan citra selama kampanye, hingga perbedaan sikap politikus di depan kamera dan di balik layar. Sejumlah adegan terasa akrab bagi penonton yang mengikuti berita politik maupun perbincangan di media sosial.
Sayangnya, tidak semua lelucon berhasil memberikan kejutan. Beberapa humor terasa seperti mengulang fenomena yang sudah sering menjadi bahan candaan masyarakat. Film ini juga bergerak cukup cepat dari satu lelucon ke lelucon berikutnya, sehingga sejumlah sindiran tidak sempat dikembangkan menjadi kritik yang lebih tajam.
Padahal, persoalan yang diangkat punya potensi lebih besar. Melalui Jonas, film ini sebenarnya bisa menggali bagaimana kebohongan, ambisi, dan kepentingan memengaruhi cara seseorang menjalankan kekuasaan. Namun, fokus pada berbagai referensi politik membuat pengembangan gagasan tersebut belum sepenuhnya terasa.
Andovi da Lopez Jadi Pusat Cerita
Sebagai pemeran utama, Andovi da Lopez memikul sebagian besar beban komedi film ini. Ia dituntut menampilkan Jonas sebagai politikus yang kehilangan kendali atas perkataannya. Beberapa reaksinya berhasil menghadirkan situasi lucu, meski ada pula momen ketika ekspresi dan gesturnya terasa terlalu berlebihan.
Claresta Taufan sebagai Vanny memberikan warna berbeda melalui karakter istri Jonas yang berani mengungkapkan keinginannya. Sementara itu, Soleh Solihun sebagai Sambodo dan Benedictus Siregar sebagai Marbun menjadi bagian penting dari kekacauan yang muncul akibat kondisi Jonas.
Nayla D. Purnama yang memerankan Rasuna, seorang wartawan muda, turut membuka sisi lain dari perjalanan sang calon gubernur. Meski demikian, sejumlah karakter pendukung belum mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang lebih jauh.
Kesimpulan
Bapak Paling Jujur cocok bagi penonton yang mencari komedi ringan dengan latar dunia politik Indonesia. Film ini memiliki premis yang mudah dipahami dan sejumlah sindiran yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kekuatan utamanya terletak pada keberanian menjadikan pencitraan dan perilaku politikus sebagai bahan humor. Namun, ketergantungan pada referensi yang sudah familier serta tempo komedi yang cepat membuat kritik sosialnya belum selalu terasa mendalam.
Terlepas dari itu, film arahan Fajar Nugros ini tetap menawarkan bahan renungan di balik kelucuannya. Kisah Jonas memperlihatkan bahwa kejujuran bisa membawa masalah ketika seseorang terbiasa menyembunyikan kenyataan. Sebab, dalam politik maupun kehidupan sehari-hari, kepercayaan tidak cukup dibangun lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan dan tanggung jawab.
Bagi yang tertarik menonton, Bapak Paling Jujur mulai tayang di bioskop Indonesia pada 15 Oktober 2026.