Review Film Badarawuhi di Desa Penari: Jauh Lebih Memuaskan Dibanding Pendahulunya

Baba Qina - Sabtu, 13 April 2024 06:38 WIB
Review Film Badarawuhi di Desa Penari: Jauh Lebih Memuaskan Dibanding Pendahulunya

Siapa sih yang tidak tahu Film KKN Desa Penari? Film yang tayang di bioskop pada tanggal tahun 2022 lalu ini merupakan kisah nyata yang pernah viral di Twitter pada tahun 2019, yang diviralkan oleh akun bernama Simple Man.

Kini, rumah produksi MD Pictures kembali melahirkan prekuel dari film tersebut yang diberi judul Badarawuhi di Desa Penari. Sekuelnya sendiri akan lebih mengupas tentang misteri-misteri seputar Desa Penari dan jin penguasa desanya, Badarawuhi.

Kisah dalam Badarawuhi di Desa Penari diawali ketika seorang gadis bernama Mila (Maudy Effrosina) tengah berjuang merawat ibunya yang sedang sakit parah. Karena suatu kondisi, Mila pun mencari dukun untuk menyembuhkan ibunya. Dukun tersebut pun memberikan cara untuk menyembuhkan sang ibunda. Mila harus mengembalikan gelang penari bernama Kawaturih ke Desa Penari di timur Pulau Jawa.

Tanpa berpikir panjang, Mila bersama teman-temannya, yakni Yuda (Jourdy Pranata), Arya (Ardit Erwandha), dan Jito (Iqbal Sulaiman) pergi ke Desa Penari. Singkat cerita, selama berada di desa tersebut, Mila dan teman-temannya mulai merasakan teror dari Badarawuhi dan siluman ularnya. Lantas, berhasilkah mereka mengembalikan gelang Kawaturih?

Bagi sobat teater yang merasa kecewa dengan pendalaman karakter atau arc mengenai Desa Penari dan Badarawuhi, tenang, karena di film ini kalian dipastikan akan jauh lebih tercerahkan soal itu. Detail-detail bersejarah tentang misteri Desa Penari akan diungkap dengan cukup jelas di film ini.

Shot-shot yang ciamik pun banyak disajikan di sepanjang film. Disertai dengan scoring yang tak kalah apik. Dijamin, mata dan telinga sobat nonton akan cukup dimanjakan dengan dua hal tadi. Belum lagi dukungan set production yang tidak main-main. Ya, sekuel ini jelas merupakan peningkatan dari segala sisi teknis.

Berbicara soal penceritaan, sebenarnya film ini bisa dikatakan solid dari sejak sepertiga awal film. Transisinya pun cukup mulus, meskipun film ini memiliki alu yang maju-mundur. Hanya saja, mulai pertengahan film, narasi tadi sedikit goyah, hingga puncak klimasnya yang terasa agak dragging.

Tapi tenang saja, meskipun terasa dragging, namun babak akhirnya masih memberikan sentuhan magis berupa koreografi tari yang sangat wah, dijamin pada bagian ini akan membuat bulu kuduk sobat nonton berdiri. Lagi-lagi, peranan sound design amat penting untuk membuat final moment tersebut terasa memorable.

Spotlight harus diberikan kepada karakter Ratih yang diperankan oleh Claresta Taufan yang mampu membuat kita semua merasakan emosi yang dikeluarkannya. Apalagi, ketika memerankan adegan di mana ekspresi wajah terpaksa dan harus memelas, yang sama sekali tidak sinkron dengan tubuh yang luwes ketika sedang menari.

Kembali lagi, bagi sobat teater yang sudah menonton dan sempat kecewa dengan film pendahulunya, tenang, karena berbagai macam treatment dan eksekusi yang dilakukan oleh film prekuelnya kali ini jelas akan lebih memuaskan. Dan bagi kalian yang kangen dengan sosok Badarawuhi, bersiap-siaplah, karena di film ini aura magis dan intimidatif dari karakter tersebut akan jauh lebih kuat dibandingkan di film sebelumnya.