Review Film I Was a Stranger (2026): Drama Kemanusiaan Sunyi yang Menggugah Empati
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film I Was a Stranger bukanlah tontonan yang dibuat untuk sekadar mengisi waktu luang. Drama kemanusiaan garapan Brandt Andersen ini justru hadir sebagai pengalaman emosional yang pelan, sunyi, namun membekas lama setelah layar bioskop meredup. Meski diproduksi pada 2024, film ini baru mendapatkan perhatian luas setelah rilis global Januari 2026 dan resmi tayang di Indonesia pada 4 Februari 2026.
Mengangkat isu pengungsi, identitas, dan dilema moral, I Was a Stranger memilih pendekatan yang jauh dari kesan menggurui. Tidak ada narasi politis yang berisik, tidak pula eksploitasi penderitaan berlebihan. Film ini hanya memperlihatkan manusia-manusia biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa dan membiarkan penonton merasakannya sendiri.
Satu Malam, Banyak Takdir yang Beririsan
Cerita berpusat pada satu malam penuh ketegangan, ketika berbagai nasib saling bersinggungan di jalur pelarian. Amira Homsi, seorang dokter asal Suriah, menjadi poros utama cerita. Bersama putrinya, Rasha, ia berusaha melarikan diri dari Aleppo demi satu tujuan sederhana: bertahan hidup.
Di sepanjang perjalanan, penonton diperkenalkan dengan karakter-karakter lain yang tak kalah kompleks. Ada Marwan, penyelundup manusia yang juga seorang ayah dengan dilema batinnya. Mustafa, tentara yang terjebak antara perintah dan hati nurani. Stavros, kapten penjaga pantai Yunani yang harus memilih antara hukum negara dan kemanusiaan. Serta Fathi, seorang penyair yang kehilangan rumah, identitas, dan masa depan.
Alur cerita berpindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain tanpa banyak penjelasan. Namun justru di situlah kekuatannya. Film ini memperlakukan penonton sebagai individu yang cerdas—mampu menyusun empati dari potongan-potongan kecil kehidupan.
Akting Natural dan Penyutradaraan yang Berempati
Yasmine Al Massri tampil kuat sebagai Amira dengan pendekatan akting yang tenang dan membumi. Tanpa dialog emosional berlebihan, rasa lelah, takut, dan harapan kecil terpancar jelas dari ekspresi dan gesturnya. Omar Sy juga tampil berbeda dari peran-peran populernya, menghadirkan karakter abu-abu yang rapuh namun manusiawi.
Brandt Andersen menyutradarai film ini dengan sensitivitas tinggi. Kamera sering berada dekat dengan wajah karakter, seolah mengajak penonton masuk ke ruang paling pribadi mereka. Sinematografi yang gelap, pencahayaan minim, dan warna-warna kusam memperkuat atmosfer keterasingan dan tekanan psikologis yang terus mengendap sepanjang film.
Tidak Menghakimi, Tapi Mengajak Merenung
Salah satu keunggulan utama I Was a Stranger adalah sikapnya yang tidak memihak. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semua digambarkan dalam spektrum abu-abu, seperti kehidupan nyata. Film ini tidak menawarkan jawaban mudah, melainkan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan tentang empati, pilihan, dan makna “rumah”.
Menjadi orang asing dalam film ini bukan sekadar soal berpindah negara. Ia juga tentang kehilangan rasa memiliki, terasing dari keadaan, bahkan dari diri sendiri. Tema ini disampaikan tanpa khotbah, melainkan melalui interaksi sederhana antarmanusia.
Kesimpulan: Film Berat yang Perlu Ditonton
I Was a Stranger bukan film yang mudah dinikmati semua orang. Ritmenya lambat, suasananya muram, dan nyaris tanpa kelegaan emosional. Namun justru di situlah kekuatannya. Film ini jujur, manusiawi, dan relevan dengan realitas global hari ini.
Bagi penonton yang menghargai sinema sebagai medium refleksi dan empati, I Was a Stranger adalah pengalaman yang penting. Ia tidak sekadar ingin ditonton, tetapi dirasakan—dan mungkin, sedikit mengubah cara kita memandang “orang asing” di sekitar kita.