Review Film Na Willa: Kisah Hangat Masa Kecil yang Penuh Nostalgia
Tim Teaterdotco - Jumat, 20 Maret 2026 07:39 WIB
Film Na Willa menjadi salah satu pilihan tontonan keluarga di momen Lebaran 2026. Disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diproduksi Visinema Studios, film ini mengangkat kisah sederhana tentang masa kecil yang dibalut dengan nuansa hangat dan penuh nostalgia. Dalam review film Na Willa ini, kekuatan cerita justru terletak pada hal-hal kecil yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita Sederhana tentang Dunia Anak
Na Willa mengikuti keseharian Willa, seorang anak perempuan berusia enam tahun yang tinggal di gang kecil di Surabaya pada era 1960-an. Hidupnya dipenuhi hal-hal sederhana bermain dengan teman, mendengarkan radio, hingga berimajinasi tentang banyak hal di sekitarnya.
Namun, cerita mulai berubah ketika satu per satu temannya masuk sekolah, bahkan salah satu sahabatnya mengalami kecelakaan. Dunia Willa yang awalnya ramai perlahan menjadi sepi. Dari sinilah film mulai berbicara tentang perubahan, kehilangan, dan proses tumbuh tema yang terasa dekat, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Alurnya memang tidak terburu-buru. Film ini memilih gaya slice of life, membiarkan cerita mengalir tanpa konflik besar. Bagi sebagian penonton, ritme ini mungkin terasa lambat, tapi di sisi lain justru memberi ruang untuk menikmati setiap momen.
Sudut Pandang Anak yang Terasa Jujur
Salah satu kekuatan utama dalam review Na Willa adalah cara film ini menempatkan penonton di sudut pandang seorang anak kecil. Dunia dilihat dari kacamata Willa penuh rasa ingin tahu, polos, dan kadang membingungkan.
Pendekatan ini terasa segar karena film tidak menggurui. Justru sebaliknya, penonton diajak memahami bagaimana perubahan besar dalam hidup bisa terasa rumit bagi anak-anak. Beberapa adegan imajinatif, seperti visual yang berubah mengikuti isi pikiran Willa, membuat pengalaman menonton terasa lebih hidup.
Visual Hangat dengan Nuansa Nostalgia
Dari sisi visual, Na Willa tampil cukup memikat. Latar Surabaya tahun 1960-an digambarkan dengan detail yang rapi, mulai dari kostum, properti, hingga warna-warna cerah yang mendominasi layar.
Pengambilan gambar yang sering sejajar dengan sudut pandang Willa juga jadi nilai plus. Penonton tidak hanya melihat cerita, tapi seolah ikut masuk ke dunia Willa. Ditambah dengan musik dan soundtrack yang pas, suasana nostalgia terasa semakin kuat sepanjang film.
Akting Natural yang Jadi Kekuatan
Penampilan Luisa Adreena sebagai Willa layak mendapat apresiasi. Ia tampil natural dan mampu membawa emosi dengan baik mulai dari rasa penasaran, bahagia, hingga sedih saat menghadapi perubahan.
Aktor pendukung seperti Irma Novita Rihi dan Junior Liem juga berhasil menghadirkan sosok orang tua yang hangat dan realistis. Interaksi antar karakter terasa hidup dan tidak dibuat-buat, sehingga penonton mudah terhubung secara emosional.
Di balik kehangatannya, film ini tetap punya beberapa catatan. Salah satu yang cukup terasa adalah minimnya penggunaan dialek Surabaya, padahal latarnya sangat kuat. Dialog yang terlalu baku membuat nuansa lokal sedikit berkurang.
Selain itu, ritme cerita yang cenderung lambat dan konflik yang minim bisa membuat sebagian penonton merasa kurang greget. Ada juga beberapa bagian cerita yang terasa kurang dalam saat menyentuh isu yang lebih kompleks.
Secara keseluruhan, Na Willa adalah film yang hangat dan penuh makna. Lewat cerita sederhana, film ini berhasil mengajak penonton kembali mengingat masa kecil tentang pertemanan, keluarga, dan perubahan yang tak terhindarkan.
Bagi yang mencari tontonan ringan namun menyentuh, terutama bersama keluarga, review film Na Willa ini menunjukkan bahwa film ini layak masuk daftar tonton di bioskop.