Review The Bell: Panggilan untuk Mati, Horor Psikologis yang Dibalut Misteri dan Budaya Lokal

Tim Teaterdotco - 12 menit yang lalu
Review The Bell: Panggilan untuk Mati, Horor Psikologis yang Dibalut Misteri dan Budaya Lokal

Film horor Indonesia kembali mendapat warna baru lewat The Bell: Panggilan untuk Mati. Di tengah maraknya film horor yang mengandalkan jump scare dan cerita klise, film garapan Jay Sukmo ini hadir dengan pendekatan berbeda. Bukan cuma menakutkan, The Bell juga membawa unsur budaya lokal yang terasa kuat dan relevan dengan kehidupan modern saat ini.

Mengangkat legenda urban dari Belitung tentang sosok Penebok, film ini berhasil memadukan horor supranatural, misteri, dan drama keluarga dalam satu cerita yang terasa solid. Hasilnya, penonton tidak hanya dibuat kaget, tetapi juga ikut tenggelam dalam atmosfer mencekam yang dibangun sejak awal.

Cerita Berawal dari Konten Viral yang Berujung Petaka

The Bell membuka cerita dengan sekelompok konten kreator muda yang datang ke Belitung demi membuat video horor untuk media sosial mereka. Demi mendapatkan konten viral, mereka nekat mencuri sebuah lonceng tua yang dipercaya masyarakat setempat sebagai benda keramat.

Namun keputusan itu justru menjadi awal malapetaka.

Lonceng tersebut ternyata selama ratusan tahun digunakan untuk mengurung roh jahat bernama Penebok, sosok hantu tanpa kepala dengan gaun merah yang dikenal haus tumbal. Setelah lonceng dicuri, teror mulai bermunculan. Korban demi korban ditemukan tewas mengenaskan dengan kepala terpenggal.

Di tengah situasi kacau itu, Danto yang diperankan Bhisma Mulia harus kembali ke kampung halamannya. Sebagai keturunan terakhir seorang dukun, ia menjadi satu-satunya orang yang dipercaya mampu menghentikan Penebok sebelum jumlah korban semakin banyak.

Tidak Hanya Menakutkan, Tapi Juga Punya Cerita yang Kuat

Salah satu hal yang membuat The Bell terasa berbeda adalah cara film ini membangun cerita. Horor yang dihadirkan bukan sekadar kemunculan hantu atau suara mengejutkan, tetapi juga tekanan psikologis yang perlahan membuat penonton merasa tidak nyaman.

Film ini cukup pintar memainkan suasana. Bunyi lonceng yang terus muncul di berbagai adegan menjadi simbol ancaman yang efektif. Dentingannya sederhana, tetapi justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menyeramkan.

Alih-alih terburu-buru menghadirkan teror, film ini memilih membangun ketegangan secara perlahan. Penonton dibuat penasaran dengan asal-usul Penebok, ritual kuno masyarakat Belitung, hingga hubungan masa lalu keluarga Danto dengan sosok tersebut.

Pendekatan seperti ini membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak mudah dilupakan.

Visual dan Atmosfer Jadi Kekuatan Utama

Dari sisi visual, The Bell tampil cukup memanjakan mata. Latar Belitung yang identik dengan pantai indah dan suasana tropis justru diubah menjadi tempat yang terasa sunyi dan menegangkan.

Sinematografi dengan tone gelap dan pencahayaan minim berhasil memperkuat atmosfer horor sepanjang film. Beberapa adegan bahkan terasa begitu sunyi hingga penonton dibuat waswas menunggu apa yang akan muncul berikutnya.

Penampilan Shaloom Razade sebagai Penebok juga layak mendapat perhatian. Meski tampil tanpa banyak dialog, gestur tubuh dan gerakannya mampu menciptakan sosok hantu yang terasa mengintimidasi. Gaun merah yang dikenakan Penebok pun menjadi visual ikonik yang mudah diingat.

Salah satu adegan paling menegangkan terjadi ketika para karakter memutar ulang rekaman video mereka di ruangan gelap. Dalam layar kamera, sosok Penebok terlihat berdiri diam di belakang pepohonan. Tidak ada musik keras atau efek berlebihan, tetapi justru momen itu terasa sangat menyeramkan karena dibangun dengan tempo yang tenang.

Masih Punya Kekurangan, Tapi Tetap Solid

Meski tampil cukup kuat, The Bell tetap memiliki beberapa kelemahan. Bagian awal film yang memperlihatkan kehidupan para konten kreator terasa cukup familiar dan sedikit klise. Beberapa penonton mungkin juga bisa menebak pola jump scare yang digunakan.

Selain itu, tempo cerita sempat melambat di pertengahan saat film mulai membahas latar belakang keluarga Danto. Namun bagian tersebut sebenarnya tetap penting untuk memperkuat konflik dan emosi dalam cerita.

Untungnya, kekurangan itu tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton.

Layak Masuk Daftar Film Horor Indonesia Terbaik Tahun Ini

Secara keseluruhan, The Bell: Panggilan untuk Mati berhasil menjadi salah satu film horor lokal yang layak diperhitungkan di tahun 2026. Film ini bukan hanya menawarkan teror, tetapi juga memperlihatkan bagaimana cerita rakyat Indonesia masih punya potensi besar untuk diangkat menjadi tontonan berkualitas.

Bagi pencinta horor dengan nuansa budaya lokal yang kuat dan atmosfer psikologis yang intens, The Bell menjadi film yang patut masuk daftar tontonan. Apalagi film ini berhasil membuktikan bahwa horor tidak selalu harus ramai dengan jump scare untuk bisa meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.