Review Film Senin Harga Naik: Emosi Natural Tanpa Drama Berlebihan

Tim Teaterdotco - Kamis, 19 Maret 2026 07:37 WIB
Review Film Senin Harga Naik: Emosi Natural Tanpa Drama Berlebihan

Film Senin Harga Naik menjadi salah satu tontonan yang mencuri perhatian di momen Lebaran 2026. Tayang mulai 18 Maret 2026, film ini hadir membawa cerita sederhana namun penuh makna tentang keluarga, ambisi, dan arti “pulang” yang sesungguhnya. Disutradarai oleh Dinna Jasanti, film ini dibintangi oleh Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, hingga Nayla D. Purnama.

Mengusung genre drama keluarga, film Senin Harga Naik tidak hanya berbicara soal bisnis properti, tetapi juga menggali konflik emosional yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Sinopsis Film Senin Harga Naik

Cerita berfokus pada Mutia, seorang perempuan ambisius yang memilih meninggalkan rumah demi mengejar kesuksesan di dunia properti. Namun, perjalanan kariernya justru membawanya kembali ke rumah, saat ia ditugaskan untuk melakukan pembebasan lahan termasuk toko roti legendaris milik ibunya sendiri, Retno.

Toko roti bernama “Mercusuar” bukan sekadar tempat usaha, tetapi juga simbol perjuangan keluarga yang telah bertahan puluhan tahun. Di sinilah konflik utama muncul: antara ambisi pribadi dan ikatan keluarga.

Situasi semakin rumit karena hubungan Mutia dan ibunya sejak awal memang tidak harmonis. Retno dikenal sebagai sosok ibu yang keras dan cenderung mengontrol kehidupan anak-anaknya, hingga membuat Mutia memilih pergi dari rumah.

Lebih dari Sekadar Cerita Properti

Meski judulnya identik dengan istilah kenaikan harga properti, film Senin Harga Naik justru menempatkan keluarga sebagai inti cerita. Film ini menyampaikan pesan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana hubungan dan kenangan dibangun.

Simbol “mercusuar” dalam film menjadi metafora yang kuat sebagai penunjuk arah bagi anggota keluarga yang sempat tersesat untuk kembali pulang. Nilai ini terasa relevan, terutama di tengah kehidupan modern yang seringkali menempatkan ambisi di atas hubungan personal.

Akting Natural dan Emosi yang Mengalir

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada akting para pemainnya. Meriam Bellina tampil menonjol sebagai sosok ibu dengan karakter kompleks keras di luar, namun menyimpan kasih sayang mendalam.

Sementara itu, Nadya Arina berhasil membawakan karakter Mutia dengan seimbang, antara sisi ambisius dan rapuh. Interaksi antar karakter terasa natural, membuat penonton mudah terhubung dengan cerita.

Menariknya, film ini tidak mengandalkan drama berlebihan untuk menguras air mata. Emosi dibangun secara perlahan dan terasa tulus, bahkan dalam adegan-adegan sederhana.

Perspektif Keluarga yang Relatable

Selain hubungan ibu dan anak, film ini juga menghadirkan sudut pandang lain, seperti karakter menantu yang kerap berada di posisi sulit dalam keluarga. Konflik yang diangkat terasa dekat dengan realitas banyak keluarga di Indonesia.

Setiap karakter digambarkan memiliki perjalanan masing-masing dalam mencari jati diri dan kedewasaan. Hal ini membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak hitam-putih.

Potensi Jadi Kuda Hitam Film Lebaran

Di tengah persaingan film Lebaran, film Senin Harga Naik disebut-sebut berpotensi menjadi “kuda hitam”. Meski tidak terlalu gencar secara promosi dibanding film besar lainnya, kekuatan cerita dan kedekatan tema menjadi daya tarik utama.

Film ini menawarkan paket lengkap: drama yang menyentuh, humor ringan, serta pesan moral yang tidak menggurui. Cocok ditonton bersama keluarga, terutama di momen kebersamaan seperti Lebaran.

Secara keseluruhan, film Senin Harga Naik berhasil menghadirkan drama keluarga yang hangat, relevan, dan menyentuh tanpa terasa berlebihan. Meski tidak menawarkan alur yang benar-benar baru, kekuatan emosinya mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Bagi yang mencari tontonan penuh makna sekaligus refleksi tentang hubungan keluarga, film ini layak masuk daftar wajib tonton di bioskop.