Review Film Suka Duka Tawa: Ketika Komedi Lahir dari Luka yang Belum Sembuh
Tim Teaterdotco - 17 jam yang lalu
Tidak semua film komedi hadir untuk sekadar membuat penonton tertawa. Suka Duka Tawa justru memilih jalan yang lebih jujur: mengajak kita menertawakan hidup, lalu perlahan menyadari bahwa di balik tawa itu ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Debut penyutradaraan solo Aco Tenriyagelli ini menjadi salah satu film Indonesia paling emosional di awal 2026. Dengan membungkus drama keluarga dalam dunia stand-up comedy, Suka Duka Tawa terasa dekat, relevan, dan menyentil realitas banyak orang khususnya mereka yang tumbuh dengan relasi keluarga yang tidak utuh.
Cerita Tentang Tawa yang Lahir dari Kepedihan
Film ini mengikuti perjalanan Tawa (Rachel Amanda), komika muda yang masih berjuang di panggung-panggung kecil kafe. Kariernya belum memberikan penghasilan pasti, memaksanya bekerja serabutan demi bertahan hidup bersama sang ibu, Cantik (Marissa Anita).
Popularitas justru datang dari arah yang tak terduga. Tawa mulai menjadikan trauma masa kecil khususnya tentang ayahnya sebagai materi komedi. Materi itu meledak, viral, dan mengangkat namanya. Ayah yang selama ini ia jadikan bahan lelucon adalah Keset (Teuku Rifnu Wikana), pelawak senior yang dulu meninggalkan keluarganya.
Pertemuan kembali ayah dan anak ini menjadi inti konflik film. Bukan pertemuan penuh haru, melainkan penuh ganjalan, kemarahan, dan kalimat-kalimat yang selama ini tertahan. Di tengah kekacauan itu, Tawa ditemani sahabat-sahabatnya Iyas, Adin, Nasi, dan Fachri yang menjadi ruang aman untuk tertawa bersama, meski hidup masing-masing juga tidak selalu ramah.
Komedi yang Tidak Dipaksakan, Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari
Salah satu kekuatan Suka Duka Tawa terletak pada cara humornya bekerja. Film ini tidak sibuk mengejar punchline cepat atau lelucon keras. Sebaliknya, tawa hadir dari interaksi kecil, celetukan sarkas, reaksi canggung, hingga kekonyolan yang terasa sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Aco Tenri tampak paham betul bahwa komedi paling efektif sering kali lahir dari kejujuran. Banyak momen lucu justru muncul dari jeda, tatapan, atau kejadian sepele yang terasa “iya banget”. Hasilnya, film bisa bergerak mulus dari tawa ke duka tanpa terasa patah atau dipaksakan.
Isu Fatherless yang Disajikan Tanpa Menggurui
Isu ketiadaan figur ayah menjadi tulang punggung cerita, namun disajikan dengan perspektif yang dewasa. Film ini tidak menunjuk siapa yang sepenuhnya benar atau salah. Tawa, Keset, dan Cantik digambarkan sebagai manusia-manusia yang sama-sama terluka, sama-sama pernah membuat keputusan buruk.
Relasi mereka memperlihatkan bagaimana luka bisa diwariskan, bagaimana diam dan pergi bisa sama menyakitkannya. Film ini tidak menawarkan solusi manis, melainkan mengajak penonton memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti melupakan.
Akting Teuku Rifnu Wikana Jadi Pusat Emosi
Jika harus menunjuk satu nama yang menjadi jantung film ini, maka Teuku Rifnu Wikana adalah jawabannya. Ia memerankan Keset dengan lapisan emosi yang kuat pelawak yang terbiasa membuat orang tertawa, namun gagal hadir sebagai ayah.
Tanpa banyak dialog, ekspresi dan gesturnya berbicara lantang. Adegan-adegan bersama Marissa Anita menjadi salah satu titik paling emosional, memperlihatkan dua orang dewasa yang sama-sama lelah, namun masih menyimpan sisa harapan.
Rachel Amanda sendiri tampil solid sebagai protagonis yang jauh dari sempurna. Tawa sering egois, keras kepala, dan menyakiti orang lain. Namun justru di situlah film ini terasa jujur, tidak semua tokoh utama harus selalu simpatik.
Suka Duka Tawa adalah film yang setia pada namanya. Ia mengajak tertawa, lalu diam, lalu merenung. Tidak sempurna dan terkadang terasa bermain aman di bagian akhir, tetapi perjalanan emosional yang ditawarkan membuatnya tetap layak diapresiasi.
Bagi penonton yang mencari drama-komedi keluarga yang membumi, reflektif, dan dekat dengan realitas, film ini pantas ditonton. Suka Duka Tawa bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kecil tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan luka.