Review Film The First Omen: Suguhkan Cerita yang Menarik dan Visual yang Mengerikan

Baba Qina - Jumat, 5 April 2024 16:37 WIB
Review Film The First Omen: Suguhkan Cerita yang Menarik dan Visual yang Mengerikan

Pada masanya, film The Omen yang rilis pada tahun 1976 merupakan film horor supranatural yang sangat sukses, hingga menelurkan 3 sekuel dan 1 remake. Kini, The First Omen yang bertindak sebagai film prekuel akan menceritakan asal usul si anak iblis dalam seri pendahulunya.

Alur cerita The First Omen dimulai dari seorang perempuan bernama Margaret Daino (Nell Tiger Free) yang ingin melanjutkan hidupnya sebagai biarawati. Alhasil, ia yang semula tinggal di Amerika Serikat pun pindah ke Roma karena akan mengabdi di Panti Asuhan Vizzardeli.

Setibanya di sana, Margaret langsung disambut oleh pengasuhnya saat kecil yang bernama Kardinal Lawrence (Bill Nighy) dan kepala panti asuhan, Suster Silvia (Sonia Braga). Margaret tak serta merta menjadi biarawati, melainkan harus beradaptasi dengan lingkungan panti asuhan. Proses adaptasi Margaret semula berjalan lancar. Terlebih lagi, ia didampingi teman sekamarnya yang bernama Luz Valez (Maria Caballero).

Namun, di sela-sela rutinitas normal tadi, Margaret kerap mengalami halusinasi dan mimpi buruk yang tak dapat dijelaskan. Keanehan makin terasa saat ia melihat seorang anak bernama Carlita Scianna (Nicole Sorace) dikurung. Suster Silvia mengatakan Carlita dihukum karena berkelakuan aneh, bahkan menyebutnya sebagai perempuan buruk.

Kecurigan Margaret mulai menemukan titik terang begitu bertemu Pastor Brennan (Ralph Ineson). Brennan memperingatkan Margaret tentang sebuah konspirasi di gereja, yang berkaitan dengan usaha melahirkan antikristus alias anak keturunan iblis yang dipercaya menjadi ‘penyelamat’. Brennan pun berharap Margaret dapat membantunya mencegah kelahiran anak tersebut. Lantas, bisakah ia memenuhi permintaan tersebut dan mencegah lahirnya anak iblis?

Sejujurnya, tidak memiliki ekspektasi yang berlebihan ketika akan menonton film ini. Apalagi, film ini merupakan sebuah prekuel dari film lama yang terkadang memiliki reputasi buruk. Namun ternyata, penulis merasa benar-benar dikejutkan oleh film ini. Universe dari film The Omen mampu dieksplor secara lebih oleh Arkasha Stevenson selaku sutradara film ini.

Ya, sebagai sebuah prekuel, film ini mampu mengangkat cerita yang lebih luas dari semesta film The Omen dengan baik. Penceritaannya pun disajikan dengan cukup menarik, engaging dan selalu memberikan rasa penasaran. Apalagi, Arkasha tak main-main dengan  suguhan gore yang cukup brutal dan terlalu eksplisit, walau “hanya” dengan rating 17+ yang diberikan.

Sebagai catatan, film ini tidak terlalu berfokus menakuti sobat nonton dengan berbagai macam jumpscare yang mengagetkan, tapi tetap sukses memberikan rasa ngeri dan nyeri dengan ceritanya yang menarik dan tentunya juga dengan berbagai macam visual yang mengerikan. Jadi, jika sobat nonton mencari sajian horor yang mengandalkan  jumpscare, maka poin tadi harus menjadi pertimbangan.

Catatan lainnya, bagi sobat nonton yang sensitif terhadap flashing lights, maka berhati-hatilah tatkala menonton film ini, karena ada beberapa adegan di sini yang mungkin saja dapat menganggu bagi sobat nonton yang tidak sanggup atau tidak terbiasa terpapar flashing lights yang cukup masif.

Dan pada akhirnya, The First Omen secara mengejutkan berhasil menjadi sebuah prekuel yang sangat menarik. Punya cerita yang fresh, pun berhasil memperluas jangkauan film-film pendahulunya dengan sangat baik, dan tak ketinggalan; minim jumpscare. Senang rasanya ada film horor berkualitas yang tak hanya menjual kekagetan kepada para penontonnya.