Review Film Uang Passolo: Saat Pernikahan Berubah Jadi Beban Gengsi

Tim Teaterdotco - 18 jam yang lalu
Review Film Uang Passolo: Saat Pernikahan Berubah Jadi Beban Gengsi

Film Uang Passolo hadir sebagai drama komedi yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Mengangkat isu pernikahan, film ini tidak sekadar menyuguhkan kisah cinta, tetapi juga memotret realitas tekanan keluarga, gengsi sosial, dan tradisi adat yang kerap membebani calon pengantin. Disutradarai oleh Andi Burhamzah dan diproduksi oleh 786 Production bersama Rumpi Entertainment serta Timur Pictures, Uang Passolo menawarkan cerita sederhana namun relevan, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang akrab dengan urusan pesta pernikahan.

Mengambil latar budaya Bugis Makassar, film ini menyoroti tradisi passolo, yakni pemberian amplop dalam pesta pernikahan yang sering dikaitkan dengan status sosial dan ekspektasi keuntungan. Dari sinilah konflik utama berkembang dan membawa penonton pada kisah yang terasa nyata, lucu, sekaligus getir.

Impian Sederhana yang Berbenturan dengan Tradisi

Cerita berfokus pada Biba, seorang guru dengan penghasilan terbatas, dan Rizky, videografer pernikahan yang sedang berada di fase terendah hidupnya. Keduanya sepakat untuk menjalani pernikahan sederhana. Tidak ada pesta mewah, cukup acara kecil yang hangat bersama keluarga dekat.

Namun, rencana itu berubah drastis ketika keluarga besar Biba ikut campur. Demi menjaga gengsi dan berharap mendapatkan uang passolo dalam jumlah besar, keluarga mendorong digelarnya pesta pernikahan besar-besaran. Daftar tamu terus bertambah, dekorasi harus mewah, katering kelas atas, hingga hiburan yang tak murah. Semua tuntutan itu perlahan menekan Biba dan Rizky, baik secara mental maupun finansial.

Konflik semakin rumit ketika keluarga Biba memutuskan menggadaikan tanah warisan demi menutup biaya pesta. Di titik ini, Uang Passolo tidak lagi sekadar lucu, tetapi mulai menyentuh persoalan ekonomi dan dilema keluarga yang sering terjadi di dunia nyata.

Potret Pernikahan dan Tekanan Sosial

Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberhasilannya memotret pernikahan sebagai fenomena sosial. Uang Passolo menunjukkan bagaimana momen sakral kerap bergeser menjadi ajang pamer status. Tekanan dari keluarga, kerabat, hingga lingkungan sekitar digambarkan dengan cara yang ringan namun mengena.

Banyak adegan dan dialog yang terasa familiar. Penonton dibuat tersenyum karena merasa pernah melihat, mendengar, atau bahkan mengalami situasi serupa. Di sinilah film ini bekerja dengan baik, mengajak penonton tertawa sekaligus bercermin.

Akting Natural dan Cerita yang Relatable

Mashita Asapa tampil meyakinkan sebagai Biba. Ia berhasil memerankan sosok perempuan sederhana yang terjebak di antara cinta, keluarga, dan keterbatasan ekonomi. Emosinya terasa natural, terutama saat harus menahan perasaan demi menjaga keharmonisan keluarga.

Sementara itu, Imran Ismail sebagai Rizky tampil cukup kuat sebagai pria yang terpuruk secara finansial namun tetap berusaha bertanggung jawab. Chemistry keduanya terasa hangat dan membuat hubungan Biba dan Rizky mudah dipercaya. Dukungan pemain lain seperti Jade Thamrin, Godfred Oriendod, Adhy Basto, dan Reinold Lawaiata juga menambah warna dalam cerita.

Komedi Ringan dengan Pesan Sosial

Meski dibungkus komedi, Uang Passolo menyelipkan kritik sosial yang jelas. Film ini mempertanyakan kembali makna kebahagiaan dalam pernikahan. Apakah pernikahan benar-benar tentang dua orang yang saling mencintai, atau tentang memenuhi ekspektasi keluarga dan tradisi?

Beberapa konflik memang terasa diselesaikan cukup cepat di bagian akhir. Namun secara keseluruhan, film ini tetap solid dalam menyampaikan pesannya.

Sebagai drama komedi lokal, Uang Passolo berhasil menyuguhkan cerita yang mengalir, mudah dipahami, dan dekat dengan realitas. Film ini cocok ditonton oleh siapa saja yang ingin melihat potret pernikahan dari sudut pandang yang lebih jujur, ringan, dan penuh refleksi.