Review Lift, Hadirkan Teror di Ruang Sempit yang Penuh Rahasia

Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Review Lift, Hadirkan Teror di Ruang Sempit yang Penuh Rahasia

Industri film Indonesia kembali mencoba jalur berbeda lewat film Lift, sebuah thriller psikologis yang mengandalkan ketegangan ruang sempit tanpa embel-embel hantu atau pembunuh berantai. Disutradarai oleh Randy Chans dan diproduksi oleh Trois Films, film ini hadir sebagai alternatif dari dominasi horor supranatural yang selama ini membanjiri layar lebar Tanah Air.

Secara konsep, Lift menawarkan ide yang segar. Namun, apakah eksekusinya mampu menjaga intensitas dari awal hingga akhir?

Sinopsis Film Lift: Teror di Ruang Sempit yang Sarat Rahasia

Cerita bermula enam tahun setelah insiden kecelakaan lift yang menewaskan Gabriel, Direktur Utama PT Jamsa Land. Trauma masa lalu itu kembali menghantui ketika Hansen (Verdi Solaiman), sang direktur baru, menghilang secara misterius.

Di tengah kekacauan perusahaan, Linda (Ismi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, justru terjebak di dalam lift yang macet bersama Anton (Max Metino), mantan jurnalis yang kini menjadi podcaster. Situasi berubah mencekam ketika suara pria misterius dari interkom mulai mendikte setiap gerakan mereka.

Ancaman itu tak berhenti pada permainan psikologis. Linda mendapati anaknya, Jonathan, dijadikan sandera. Di sisi lain, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, ikut terseret setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor tengah malam.

Terjebak dalam ruang sempit, karakter-karakter ini dipaksa menghadapi rahasia lama yang selama ini tersembunyi.

Konsep One Location Thriller yang Ambisius

Sebagai thriller satu lokasi, Lift mengingatkan pada pendekatan minimalis seperti Phone Booth, yang mampu memaksimalkan ketegangan dari ruang terbatas. Konsep ini sebenarnya menjanjikan, karena fokus cerita bisa diarahkan sepenuhnya pada konflik psikologis dan permainan emosi.

Sayangnya, naskah film ini justru terasa terlalu ambisius. Alur maju-mundur yang digunakan untuk membangun misteri malah terkesan membingungkan. Informasi disajikan secara bertahap, tetapi tidak selalu memiliki bobot emosional yang cukup untuk membuat penonton benar-benar peduli pada nasib para karakter.

Alih-alih menciptakan twist cerdas, beberapa bagian cerita terasa ruwet dan melelahkan. Penonton lebih sibuk merangkai potongan puzzle ketimbang menikmati ketegangan yang seharusnya menjadi kekuatan utama film ini.

Kritik Sosial yang Belum Tergarap Matang

Lift mencoba menyentuh berbagai isu, mulai dari moralitas, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kebobrokan internal perusahaan. Namun, banyaknya tema yang diangkat justru membuat fokus cerita buyar.

Pesan sosial yang seharusnya tajam terasa setengah matang. Dialog-dialog yang dimaksudkan sebagai sindiran kadang terdengar kaku dan kurang natural. Beberapa momen yang ingin menjadi refleksi moral malah berlalu tanpa dampak berarti.

Padahal, dengan latar dunia korporasi dan rahasia kelam masa lalu, film ini memiliki potensi besar untuk menyajikan drama yang lebih dalam dan relevan.

Akting dan Pencapaian Internasional

Dari sisi performa, Shareefa Daanish berusaha memberikan intensitas emosional yang kuat sebagai Doris. Namun, karakter yang kurang konsisten di paruh akhir membuat aktingnya tidak sepenuhnya bersinar. Pemeran lain pun terjebak dalam batasan naskah yang kurang solid.

Menariknya, di balik kritik terhadap eksekusi cerita, Lift justru mencatat prestasi di ranah internasional. Film ini meraih penghargaan Best Cinematography Feature dan Best Audience Award di The North Film Festival Barcelona 2026. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa secara teknis, terutama dari segi visual, Lift memiliki kualitas yang patut diapresiasi

Sebagai film thriller psikologis Indonesia, Lift adalah eksperimen yang patut dihargai. Konsep minimalis dengan tekanan psikologis di ruang terbatas memberikan warna berbeda di tengah maraknya horor supranatural.

Namun, bagi penonton yang mengharapkan ketegangan konsisten dan alur yang rapi, film ini mungkin terasa kurang menggigit. Jika Anda penasaran dengan pendekatan baru dalam genre thriller lokal, Lift tetap layak masuk daftar tontonan. Hanya saja, ada baiknya menurunkan ekspektasi agar pengalaman menonton terasa lebih seimbang.

Pada akhirnya, Lift bukan film yang buruk, tetapi juga belum sepenuhnya berhasil menjadi thriller psikologis yang benar-benar menghantui pikiran setelah lampu bioskop menyala kembali.