Review Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Horor Komedi Chaos yang Tetap Menghibur
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih hadir sebagai kelanjutan dari kesuksesan film pertamanya yang sempat mencuri perhatian penonton bioskop Indonesia. Disutradarai oleh Bayu Skak, sekuel ini kembali membawa formula horor komedi khas Jawa Timur dengan gaya yang lebih ramai, lebih absurd, dan penuh kekacauan.
Jika pada film pertama penonton diajak menikmati kisah pendakian horor dengan nuansa persahabatan yang kuat, kali ini ceritanya berkembang lebih besar dengan tambahan unsur pesugihan, dunia demit, hingga trauma masa lalu yang membuat konflik terasa lebih kompleks. Meski begitu, kekuatan utama film ini tetap berada pada komedinya yang sukses membuat bioskop dipenuhi tawa.
Cerita Masih Familiar, Tapi Dibuat Lebih Besar
Cerita dalam Sekawan Limo 2: Gunung Klawih dimulai ketika Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky kembali berkumpul setelah beberapa tahun berpisah. Reuni sederhana itu berubah menjadi perjalanan penuh teror saat keluarga Andrew ternyata menjadi target kutukan pesugihan dari Gunung Klawih.
Mereka akhirnya memutuskan kembali mendaki gunung tersebut demi menyelamatkan sahabatnya. Namun seperti yang bisa ditebak, perjalanan itu berubah kacau ketika berbagai gangguan gaib mulai muncul, termasuk hilangnya Juna secara misterius ke dunia demit.
Secara konsep, cerita film ini sebenarnya cukup menarik. Ada usaha untuk memperluas semesta cerita dengan memasukkan mitos Gunung Klawih yang terinspirasi dari Gunung Kawi, lengkap dengan unsur mistis khas Jawa. Bahkan film ini mencoba menyisipkan isu sosial dan tragedi 1998 sebagai bagian dari latar konflik utama.
Sayangnya, ambisi besar tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan eksekusi cerita yang rapi. Alur film kadang terasa berputar-putar karena terlalu banyak subplot yang berjalan bersamaan. Fokus cerita utama tentang Andrew sesekali justru tertutup oleh konflik lain yang kurang kuat dampaknya.
Hubungan Bagas dan Lenni misalnya, sebenarnya punya potensi emosional yang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang. Lenni sudah mulai bekerja dan menjalani fase hidup baru, sementara Bagas masih tertahan dengan skripsinya yang belum selesai. Namun konflik ini terasa belum digali maksimal sehingga emosinya kurang terasa kuat.
Komedi Jadi Senjata Utama Film
Meski cerita terasa tidak selalu solid, film ini tetap berhasil menghibur berkat kekuatan komedinya. Humor khas Jawa Timuran yang spontan, celetukan absurd, hingga pertengkaran receh antar karakter menjadi bagian paling menyenangkan sepanjang film.
Karakter Beni menjadi sosok yang paling mencuri perhatian. Hampir di setiap kemunculannya, ia sukses menghadirkan momen kocak dengan timing komedi yang terasa natural. Kehadirannya seperti menjadi penggerak utama energi film agar tetap hidup dari awal sampai akhir.
Selain Beni, Firza juga tampil sangat menonjol lewat dialog-dialog nyeleneh yang sering memancing tawa penonton. Chemistry keduanya menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini tetap terasa seru meski alur ceritanya tidak selalu stabil.
Duet senior seperti Cak Kartolo dan Marwoto juga memberikan warna tersendiri. Kehadiran mereka sukses memperkuat nuansa komedi khas Jawa Timur yang menjadi identitas utama franchise ini.
Horor Ringan dengan Visual Lebih Cerah
Bagi penonton yang mengharapkan film horor penuh ketegangan, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih mungkin bukan pilihan yang terlalu menyeramkan. Unsur horornya memang tetap ada, termasuk beberapa jumpscare yang cukup efektif, tetapi atmosfer film lebih dominan ke arah hiburan ringan.
Visual film juga dibuat lebih terang dibanding kebanyakan film horor Indonesia. Pilihan tone yang cerah membuat nuansa film terasa lebih santai dan mudah dinikmati oleh penonton umum.
Meski begitu, beberapa adegan dunia demit tampil cukup menarik dengan tata artistik dan makeup yang terasa lebih matang dibanding film sebelumnya. Sinematografinya juga terlihat mengalami peningkatan sehingga beberapa adegan mistis terasa lebih imersif.
Layak Ditonton untuk Pecinta Horor Komedi
Secara keseluruhan, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih memang belum sepenuhnya berhasil melampaui kualitas film pertamanya dari sisi cerita. Struktur narasinya masih terasa kurang fokus dan beberapa konflik seolah berjalan sendiri.
Namun film ini tetap berhasil menjadi tontonan yang menghibur berkat chemistry para karakternya yang kuat dan komedi yang terus berjalan sepanjang film. Bayu Skak juga tetap berhasil mempertahankan identitas khas franchise ini lewat humor Jawa Timuran yang terasa akrab dan menghibur.
Buat penonton yang mencari horor ringan dengan suasana chaos, penuh tawa, dan cocok ditonton bersama teman atau keluarga, film ini masih sangat layak masuk daftar tontonan bioskop minggu ini.