Review The Shrine (2026): Menggabungkan J-Horror dan Shamanisme Korea dalam Satu Cerita

-
Review The Shrine (2026): Menggabungkan J-Horror dan Shamanisme Korea dalam Satu Cerita

Kolaborasi sineas Jepang dan Korea Selatan melahirkan The Shrine, film horor yang mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan film supranatural Asia. Disutradarai Kazuyoshi Kumakiri, film ini memadukan atmosfer sunyi khas horor Jepang dengan ritual shamanisme Korea dalam satu cerita yang penuh misteri.

Premis tersebut tentu menarik perhatian. Apalagi, beberapa materi promosinya sempat membuat film ini dibandingkan dengan The Wailing maupun Exhuma, dua judul yang dianggap berhasil mengangkat tema okultisme dengan pendekatan yang kuat. Namun, setelah menyaksikannya, The Shrine justru terasa lebih menonjol lewat atmosfer dibanding kekuatan ceritanya.

Misteri di Balik Kuil Terbengkalai

Cerita bermula dari hilangnya tiga mahasiswa yang sedang mengikuti program penelitian di Kobe, Jepang. Sebelum menghilang, mereka diketahui memasuki sebuah kuil tua yang sudah lama ditinggalkan warga sekitar.

Sejak saat itu, berbagai kejadian aneh mulai bermunculan. Orang-orang yang terlibat dalam pencarian mengalami gangguan supranatural, bahkan beberapa di antaranya meninggal secara tragis. Peristiwa tersebut membuat Yumi meminta bantuan Myung-jin, seorang shaman asal Korea yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia roh.

Penyelidikan yang awalnya hanya berkaitan dengan legenda kamikakushi perlahan berkembang menjadi misteri yang jauh lebih besar. Film kemudian membawa penonton menelusuri berbagai ritual spiritual hingga kepercayaan lintas budaya yang menjadi akar dari seluruh teror.

Premis seperti ini sebenarnya menawarkan ruang yang luas untuk dieksplorasi. Untungnya, film mampu menjaga rasa penasaran penonton pada paruh pertama melalui rangkaian misteri yang terus berkembang.

Atmosfer Menjadi Kekuatan Utama Film

Hal yang paling menonjol dari The Shrine adalah bagaimana Kumakiri membangun suasana. Film tidak membutuhkan waktu lama untuk memperlihatkan ancaman yang sedang dihadapi para tokohnya. Bahkan beberapa menit setelah cerita dimulai, penonton sudah disuguhi adegan yang cukup brutal.

Pendekatan tersebut membuat ketegangan langsung terasa sejak awal. Namun, kekuatan film bukan hanya terletak pada adegan berdarah. Lokasi syuting yang berada di kawasan pedesaan Jepang dengan hutan lebat, jalanan yang sepi, hingga kuil yang mulai lapuk justru menjadi elemen yang paling efektif dalam membangun rasa tidak nyaman.

Pengambilan gambar juga cukup mendukung atmosfer tersebut. Kamera beberapa kali bergerak mengikuti karakter dengan sudut yang tidak stabil, membuat penonton seolah ikut berada di tengah kepanikan yang mereka alami.

Nuansa horor Jepang yang identik dengan kesunyian berpadu cukup baik dengan ritual shamanisme Korea yang menjadi bagian penting dalam cerita. Kombinasi keduanya menjadi identitas yang membedakan The Shrine dari film horor Asia lain yang belakangan banyak beredar.

Kim Jaejoong Tampil Solid

Comeback Kim Jaejoong ke layar lebar menjadi salah satu daya tarik film ini. Sebagai Myung-jin, ia tampil cukup meyakinkan memerankan seorang shaman yang lebih banyak mengandalkan gestur dan ekspresi ketimbang dialog panjang.

Karakter tersebut memang tidak ditulis sebagai sosok yang emosional. Namun justru sikapnya yang tenang membuat kehadirannya terasa dominan setiap kali memasuki adegan ritual.

Kong Seong-ha sebagai Yumi juga memberikan penampilan yang natural. Rasa takut yang diperlihatkan tidak berlebihan sehingga interaksinya dengan karakter lain tetap terasa meyakinkan.

Penggunaan bahasa Korea dan Jepang sesuai latar cerita turut membuat film terasa lebih autentik. Keputusan ini membantu membangun dunia yang dipercaya penonton tanpa harus dipaksakan melalui dialog penjelasan.

Cerita Kehilangan Tenaga Menjelang Akhir

Meski berhasil membangun rasa penasaran pada awal film, The Shrine mulai kehilangan momentum ketika memasuki babak kedua.

Misteri yang semula terasa menarik perlahan berubah menjadi alur yang lebih mudah ditebak. Beberapa informasi penting justru dijelaskan secara langsung melalui percakapan antartokoh sehingga mengurangi ruang bagi penonton untuk ikut menyusun potongan misteri yang ada.

Film juga terlihat berusaha memasukkan terlalu banyak elemen sekaligus. Selain mengangkat legenda Jepang dan ritual shamanisme Korea, cerita turut memperkenalkan mitologi Hindu sebagai bagian dari konflik utamanya. Sayangnya, seluruh gagasan tersebut tidak mendapat pengembangan yang seimbang sehingga klimaksnya terasa kurang kuat.

Akibatnya, penyelesaian cerita tidak memberikan efek mengejutkan yang benar-benar membekas. Padahal, fondasi yang dibangun sejak awal sebenarnya cukup menjanjikan untuk menghasilkan akhir yang lebih memuaskan.

 

Terlepas dari kekurangan pada aspek penulisan cerita, The Shrine tetap menawarkan pengalaman menonton yang menarik, terutama bagi penggemar horor Asia.

Film ini tidak mencoba mengandalkan jumpscare sebagai senjata utama. Sebaliknya, atmosfer yang pekat, lokasi yang mendukung, serta perpaduan dua budaya horor menjadi nilai jual yang membuatnya tetap layak disimak.

Jika datang dengan ekspektasi setinggi The Wailing atau Exhuma, hasilnya mungkin belum sepenuhnya memuaskan. Namun bila yang dicari adalah horor dengan nuansa berbeda, visual yang kuat, dan sentuhan ritual lintas budaya, The Shrine masih mampu memberikan pengalaman menonton yang cukup menghibur.

The Shrine mulai tayang di bioskop Indonesia pada 10 Juli 2026 setelah lebih dulu dirilis di Korea Selatan pada 17 Juni 2026. Meski belum menjadi salah satu horor terbaik tahun ini, film ini tetap menawarkan identitas yang cukup menarik di tengah banyaknya film supranatural dengan formula serupa.