Review Mirzapur: Kaleen Bhaiyya, Guddu, dan Munna Kembali Beraksi

-
Review Mirzapur: Kaleen Bhaiyya, Guddu, dan Munna Kembali Beraksi

Mirzapur membawa dunia kriminal Purvanchal dari layar streaming ke bioskop dengan skala cerita yang lebih besar. Dipenuhi perebutan kekuasaan, intrik politik, dialog tajam, dan karakter-karakter ikonik, film garapan Gurmmeet Singh ini menjadi sajian yang paling tepat dinikmati oleh penggemar lama franchise Mirzapur.

Film ini kembali mempertemukan Pankaj Tripathi sebagai Akhandanand Tripathi alias Kaleen Bhaiyya, Ali Fazal sebagai Guddu Pandit, dan Divyenndu sebagai Munna Tripathi. Jitendra Kumar turut hadir sebagai Bablu Pandit, sementara Ravi Kishan menjadi salah satu wajah baru yang membawa konflik ke arah berbeda.

Perebutan Takhta yang Semakin Luas

Cerita Mirzapur tidak membuang banyak waktu untuk memperkenalkan dunia yang sudah dikenal penggemar. Film langsung membawa penonton ke dalam konflik baru ketika Kaleen Bhaiyya membutuhkan sumber pendapatan tambahan demi mempertahankan kekuasaan dan memenuhi tuntutan politik.

Di tengah situasi tersebut, muncul Babban Babua, seorang tokoh berpengaruh dari Rajasthan yang memiliki ambisi untuk masuk ke dalam peta kekuasaan Purvanchal. Kehadirannya memperluas dunia Mirzapur hingga keluar dari wilayah Uttar Pradesh dan membawa cerita ke lanskap gurun Rajasthan.

Namun, inti cerita tetap berada pada perebutan takhta Mirzapur. Guddu dan Munna kembali berada dalam jalur konflik yang menarik. Keduanya sama-sama memiliki kemarahan, kebutuhan akan pengakuan, dan luka keluarga yang membentuk mereka menjadi sosok brutal dengan cara masing-masing.

Karakter Tetap Menjadi Kekuatan Utama

Seperti serialnya, kekuatan terbesar Mirzapur bukan semata-mata berada pada plot atau adegan tembak-menembak. Film ini hidup karena karakter-karakternya.

Pankaj Tripathi kembali menjadi pusat perhatian sebagai Kaleen Bhaiyya. Cara bicaranya yang tenang, jeda dalam setiap dialog, serta ancaman yang tidak selalu disampaikan dengan suara keras membuat karakternya tetap menjadi magnet utama.

Ali Fazal juga tampil meyakinkan sebagai Guddu Pandit, sosok yang emosional, impulsif, dan semakin tenggelam dalam dunia kekerasan. Sementara itu, Divyenndu sebagai Munna masih menjadi salah satu karakter paling menghibur berkat kombinasi antara kemarahan, rasa iri, dan keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan dari sang ayah.

Kehadiran Ravi Kishan sebagai Babban Babua memberikan warna baru. Ia tidak sekadar menjadi penjahat tambahan, tetapi membawa energi berbeda yang memperluas konflik antarkelompok dalam cerita.

Dialog Tajam, tetapi Durasi Terlalu Panjang

Puneet Krishna kembali menghadirkan kekuatan utama yang membuat Mirzapur dicintai penonton, yakni dialog-dialog tajam dengan humor gelap dan gaya khas wilayah India utara. Banyak percakapan terasa menghibur, bahkan ketika karakter sedang berada dalam situasi yang mengancam nyawa.

Namun, film ini juga memiliki masalah yang cukup terasa, terutama pada durasinya yang melampaui tiga jam. Beberapa konflik yang awalnya menjanjikan justru terasa terlalu panjang dan tidak semuanya mendapatkan penyelesaian yang memuaskan.

Bagian cerita di Rajasthan juga terasa sedikit berlarut-larut. Ada sejumlah subplot yang sebenarnya menarik, tetapi jumlah karakter dan konflik yang terlalu banyak membuat film kehilangan fokus pada beberapa bagian.

Bukan Sekadar Pesta Kekerasan

Menariknya, Mirzapur tidak berubah menjadi tontonan yang hanya mengandalkan darah dan kekerasan demi memanfaatkan popularitas franchise. Di balik aksi kriminal dan perebutan kekuasaan, film masih mencoba mengeksplorasi hubungan keluarga, loyalitas, kecemburuan, cinta, serta kebutuhan manusia untuk diakui.

Karakter perempuan seperti Beena Tripathi dan Vasudha Pandit juga memiliki peran penting dalam membentuk arah konflik. Ketika para pria sibuk mempertontonkan ego dan kekuasaan, karakter perempuan justru menjadi kekuatan yang menggerakkan banyak keputusan penting.

Secara keseluruhan, Mirzapur adalah perluasan dunia yang cukup menarik, meski tidak selalu berhasil menjaga ritme selama lebih dari tiga jam. Film ini mungkin terasa seperti episode spesial dengan skala besar, tetapi karakter-karakter ikonik, dialog tajam, dan konflik keluarga membuatnya tetap menghibur.

Bagi penggemar lama, perjalanan kembali ke Purvanchal jelas menawarkan nostalgia sekaligus kejutan baru. Terlebih, adegan setelah kredit memberi sinyal bahwa perebutan takhta Mirzapur belum benar-benar berakhir.