Review Operasi Pesta Copet: Aksi Copet di Tengah Riuh Pestapora
Kai Renata -
Operasi Pesta Copet menawarkan pendekatan berbeda terhadap genre heist di perfilman Indonesia. Alih-alih menghadirkan aksi pencurian dengan teknologi canggih dan rencana rumit, film garapan Edy Khemod ini membawa cerita ke situasi yang jauh lebih dekat dengan keseharian: aksi copet di tengah kerumunan festival musik.
Film ini mengikuti Ijal (Iqbaal Ramadhan), pemuda yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Bersama Adut (Kristo Immanuel), ia mencoba berbagai pekerjaan, termasuk menjadi badut jalanan. Namun, kondisi ekonomi tak kunjung membaik hingga Silet (Fauzan Lubis) memperkenalkan dunia pencopetan kepada mereka.
Situasi kemudian berkembang ketika Tia (Zulfa Maharani) dan Melodi (Kawai Labiba) ikut terlibat. Melodi bahkan berperan sebagai otak yang membantu menyusun rencana pencopetan besar di tengah festival Pestapora. Dari sinilah operasi paling nekat mereka dimulai.
Gaya Bercerita yang Segar
Salah satu kekuatan Operasi Pesta Copet terletak pada gaya penceritaannya. Film dibuka dengan Ijal yang diwawancarai di kantor polisi. Ceritanya kemudian bergerak maju-mundur melalui adegan flashback, sesekali kembali ke ruang wawancara ketika muncul interupsi atau celetukan dari karakter lain.
Pendekatan semi-mockumentary ini terasa efektif, terutama pada paruh awal. Improvisasi para pemain membuat dialog terdengar natural dan tidak seperti percakapan yang terlalu terpaku pada naskah. Komedi pun muncul dari interaksi antarkarakter, bukan sekadar lelucon yang dipaksakan.
Ketika cerita memasuki aksi utama di Pestapora, format tersebut perlahan ditinggalkan. Penonton kemudian diajak mengikuti persiapan hingga eksekusi pencopetan secara lebih langsung.
Chemistry Pemain Jadi Daya Tarik Utama
Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, dan Kawai Labiba memiliki chemistry yang menjadi nyawa film. Kristo tampil sangat menonjol melalui karakter Adut yang spontan dan kerap menjadi sumber kelucuan.
Fauzan Lubis sebagai Silet juga berhasil mencuri perhatian. Karakternya yang impulsif dan berisik membuat sejumlah adegan terasa lebih hidup. Sementara itu, Iqbaal tampil natural sebagai Ijal, meski karakter tersebut terkadang terasa terlalu dekat dengan persona dirinya sendiri.
Pestapora Jadi Ruang Aksi yang Efektif
Visual menjadi keunggulan lain film ini. Keputusan melakukan pengambilan gambar di festival musik sungguhan membuat suasana Pestapora terasa autentik. Kerumunan penonton, panggung, dan energi konser dimanfaatkan sebagai bagian penting dari cerita.
Editing juga bekerja dengan baik. Adegan pencopetan di pasar menggunakan slow motion untuk memperjelas gerakan, sementara situasi kerumunan konser dibuat lebih intens melalui potongan gambar yang cepat.
Kritik Sosial Belum Maksimal
Di balik komedinya, film ini membawa isu kemiskinan struktural dan pilihan sulit yang dihadapi anak muda karena tekanan ekonomi. Namun, kritik sosial tersebut terasa belum digali secara maksimal.
Kelemahan paling terasa justru pada bagian akhir. Setelah membangun ketegangan dan ekspektasi terhadap aksi besar di Pestapora, penyelesaiannya terasa terburu-buru dan antiklimaks. Payoff yang diharapkan dari sebuah film heist akhirnya tidak sepenuhnya terwujud.
Meski begitu, Operasi Pesta Copet tetap menjadi tontonan yang segar dan berani. Edy Khemod berhasil memadukan heist, komedi, persahabatan, serta kritik sosial dalam kemasan yang ringan. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.