Harusnya Horror Tuai Sambutan Positif, Penjualan Tiket ATS Ludes Terjual
Kai Renata -
Film Harusnya Horror belum resmi tayang di bioskop, tetapi gaungnya sudah terasa di berbagai daerah. Film debut penyutradaraan Reza Oktovian atau Reza Arap ini sukses mencuri perhatian setelah seluruh tiket Advance Ticket Sales (ATS) untuk rangkaian special screening di 14 kota habis terjual.
Respons tersebut menjadi sinyal positif bagi film produksi Ess Jay Pictures yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Bukan hanya karena menjadi langkah perdana Reza Arap sebagai sutradara film panjang, Harusnya Horror juga menghadirkan jajaran kreator digital populer yang untuk pertama kalinya beradu akting di layar lebar.
Antusiasme penonton yang tinggi bahkan muncul hampir dua pekan sebelum film resmi dirilis, menunjukkan besarnya rasa penasaran publik terhadap proyek yang memadukan unsur horor dan komedi dengan pendekatan yang berbeda dari film-film sejenis.
Special Screening di 14 Kota Diserbu Penonton
Penjualan tiket special screening berlangsung di sejumlah kota besar, mulai dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, hingga Pontianak.
Seluruh tiket yang tersedia dilaporkan habis terjual dalam waktu singkat. Capaian ini menjadi modal awal yang menjanjikan menjelang penayangan nasional.
Fenomena tersebut tak lepas dari besarnya basis penggemar Reza Arap beserta komunitas AAAClan dan Marapthon. Namun di luar faktor popularitas para pemain, banyak penonton juga mengaku penasaran dengan konsep cerita yang ditawarkan film ini, yang disebut menghadirkan sudut pandang baru dalam genre horor Indonesia.
Program "Harusnya Nonton Duluan" Digelar di 14 Kota
Melalui poster resmi yang dirilis Ess Jay Pictures, program Harusnya Nonton Duluan akan berlangsung mulai 2 hingga 9 Agustus 2026 di sejumlah kota dengan dua jadwal penayangan setiap harinya.
Jadwal Harusnya Nonton Duluan
2 Agustus
-
Pekanbaru: SKA Pekanbaru XXI pukul 16.40 dan 18.50,
-
Depok: Cinepolis Depok Town Square pukul 16.25 dan 18.45.
3 Agustus
-
Makassar: M'TOS XXI pukul 16.45 dan 18.50
-
Banjarmasin: Studio XXI masing-masing pukul 16.40 dan 18.50
4 Agustus
-
Binjai: Cinepolis Supermall Binjai pukul 16.10 dan 18.30
-
Batam: BCS Batam XXI pukul 16.45 dan 18.50.
5 Agustus
-
Medan: Cinépolis Medan Fair pukul 16.20 dan 18.45
-
Pontianak: Ayani XXI pukul 16.45 dan 18.50.
6 Agustus:
-
Medan: Suzuya Plaza XXI pukul 16.45 dan 18.50.
-
Ambon: Ambon City Center XXI pukul 16.45 dan 18.50.
7 Agustus
- Samarinda: Big Mall XXI pukul 16.40 dan 18.50.
- Balikpapan: E-Walk XXI pukul 16.40 dan 18.50.
8 Agustus
- Bali: Living World Denpasar XXI pukul 16.45 dan 18.50.
9 Agustus:
- Jakarta: Daan Mogot XXI pukul 16.45 dan 18.50.
Tiket penayangan lebih awal tersebut sudah tersedia melalui m.tix, TIX ID, Cinépolis, Loket Screen, dan GoPay.
Reza Arap Jalani Tantangan Pertama Sebagai Sutradara
Selama ini Reza Arap lebih dikenal sebagai kreator konten, musisi, dan streamer. Meski pernah menyutradarai sejumlah video musik dan proyek digital, Harusnya Horror menjadi pengalaman pertamanya memimpin produksi film panjang.
Reza mengaku proses tersebut menjadi tantangan terbesar sepanjang kariernya.
"Ini debut penyutradaraan saya, dan saya menganggapnya seperti kuliah saat syuting, tapi langsung skripsi. Hari pertama syuting menjadi yang paling berkesan karena saya harus memimpin kru yang jumlahnya sangat banyak. Awalnya sempat kaget, tetapi setelah itu semuanya berjalan lebih lancar," ungkap Reza.
Pengalaman tersebut, menurutnya, memberikan banyak pelajaran baru mengenai proses produksi film yang jauh lebih kompleks dibandingkan proyek-proyek yang pernah ia kerjakan sebelumnya.
Kisah Hantu yang Ingin "Pensiun"
Berbeda dari film horor kebanyakan, Harusnya Horror menghadirkan premis yang cukup segar.
Reza Arap memerankan karakter Mas, seorang hantu yang diberi misi menakut-nakuti 100 ribu orang dalam waktu 30 hari. Jika berhasil menyelesaikan tugas tersebut, ia bisa benar-benar beristirahat dengan tenang dan menikmati anime favoritnya di alam setelah kematian.
Di tengah misinya, Mas bertemu sekelompok kreator konten yang sedang kesulitan mendapatkan penonton sekaligus terlilit masalah ekonomi. Melihat keberadaan hantu sungguhan sebagai peluang emas, mereka menjadikan Mas sebagai "talent" utama demi menghasilkan konten viral.
Dari sinilah berbagai situasi absurd, lucu, sekaligus menegangkan mulai bermunculan. Premis tersebut membuat Harusnya Horror mencoba menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan formula horor Indonesia yang umumnya berfokus pada kisah teror supranatural.
Debut Akting Para Kreator Digital
Selain menjadi debut penyutradaraan Reza Arap, film ini juga menjadi langkah pertama sejumlah anggota AAAClan dan Marapthon di dunia perfilman.
Deretan pemain yang tampil antara lain Reza Arap, Tierison (Jot), Garry Ang, Yukatheo, Aldy Renaldy (Aloy), Bravyson, Niko Junius, Ariyanto (Ibot), dan Teguh Prakoso (Tepe). Film ini juga dibintangi Ronny P. Tjandra, Malka Rafasya, serta menghadirkan penampilan spesial Yoshua Marcellos atau Celloz.
Sebelum proses syuting dimulai, para pemain yang belum memiliki pengalaman akting disebut menjalani pelatihan intensif agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan produksi film layar lebar.
Menjadi Penampilan Terakhir Lula Lahfah
Ada sisi emosional yang turut menyelimuti Harusnya Horror. Film ini menjadi karya layar lebar terakhir yang menampilkan mendiang Lula Lahfah.
Reza Arap mengenang Lula sebagai sosok yang selalu membawa suasana positif selama syuting. Menurutnya, Lula tidak pernah mengeluhkan proses produksi, bahkan kerap membawakan makanan untuk kru dan para pemain di lokasi syuting.
Kenangan tersebut membuat kehadiran Lula di film ini memiliki arti khusus bagi seluruh tim produksi sekaligus menjadi persembahan terakhirnya kepada para penggemar.
Berpeluang Menjadi Salah Satu Film Horor Paling Ramai Tahun Ini
Diproduseri oleh David Suwarto, Sridhar Jetty, dan Jimmy Lalwani, Harusnya Horror datang dengan modal yang cukup kuat. Selain didukung nama besar Reza Arap, film ini menawarkan konsep yang berbeda, menggabungkan horor, komedi, dan budaya kreator digital dalam satu cerita.
Ludesnya tiket special screening menjadi indikator awal bahwa film ini berhasil membangun rasa penasaran publik. Kini, tantangan berikutnya adalah membuktikan apakah antusiasme tersebut mampu berlanjut ketika Harusnya Horror resmi menghantui layar bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Jika respons penonton tetap konsisten, bukan tidak mungkin film ini akan menjadi salah satu kejutan terbesar di industri perfilman Indonesia pada tahun 2026.