Once Upon a Time in the Middle East Dominasi Box Office China, Kalahkan The Odyssey

-
Once Upon a Time in the Middle East Dominasi Box Office China, Kalahkan The Odyssey

Film China Once Upon a Time in the Middle East mencetak kejutan besar di box office. Film yang mengangkat kisah seorang koki di tengah perang ini sukses memuncaki daftar film terlaris China pada akhir pekan 14–16 Agustus 2026.

Menurut data Artisan Gateway, Once Upon a Time in the Middle East meraup RMB477,9 juta atau sekitar US$70,3 juta hanya dalam tiga hari. Jika dihitung sejak pemutaran perdana pada 11 Agustus, termasuk preview, total pendapatannya sudah mencapai US$134,1 juta.

Angka tersebut membuat film garapan Wen Muye itu mengungguli The Odyssey, film terbaru Christopher Nolan yang menjadi salah satu rilisan Hollywood paling ditunggu tahun ini.

Kisah Koki yang Terjebak di Tengah Perang

Once Upon a Time in the Middle East mengikuti Xu Fu, seorang koki asal China yang pergi ke Timur Tengah untuk membuka restoran. Ia datang dengan tujuan yang sangat sederhana: mencari uang untuk melunasi utang keluarganya.

Namun, keadaan berubah ketika konflik bersenjata pecah.

Restoran yang semula hanya menjadi tempat Xu Fu mencari nafkah perlahan berubah fungsi menjadi tempat berlindung bagi warga sipil dan anak-anak. Di tengah situasi yang semakin kacau, Xu Fu tidak tampil sebagai tentara atau pahlawan perang.

Ia hanya seorang koki.

Yang bisa dilakukannya adalah memasak, menyediakan makanan, dan membantu orang-orang di sekitarnya bertahan hidup.

Di titik inilah film Wen Muye terasa berbeda dari film perang pada umumnya. Cerita tidak berpusat pada pertempuran besar atau aksi heroik di medan perang, melainkan pada bagaimana orang biasa berusaha mempertahankan hidup ketika perang datang ke depan pintu mereka.

Makan Bersama di Tengah Kekacauan

Salah satu elemen paling kuat dalam film ini adalah makanan.

Bagi Xu Fu, memasak bukan sekadar pekerjaan. Ketika perang membuat kehidupan normal nyaris hilang, makanan menjadi cara sederhana untuk menghadirkan kembali rasa aman dan kebersamaan.

Ungkapan "makan dengan baik" yang muncul dalam film pun memiliki makna lebih luas. Di tengah perang, bisa duduk dan makan dengan tenang merupakan sesuatu yang justru terasa mewah.

Karena itu, dapur dan meja makan dalam Once Upon a Time in the Middle East memiliki peran penting. Keduanya menjadi ruang tempat manusia masih bisa saling membantu dan mengingat bahwa mereka lebih dari sekadar korban konflik.

Film ini pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa perang bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah. Ada keluarga, anak-anak, pekerja, dan orang-orang biasa yang harus menanggung akibatnya.

Shen Teng Bawa Sisi Berbeda

Shen Teng dipercaya memerankan Xu Fu. Aktor yang selama ini dikenal lewat sejumlah film komedi China tersebut tampil dalam karakter yang jauh lebih serius.

Xu Fu bukan sosok sempurna. Ia pergi ke Timur Tengah karena persoalan ekonomi dan pada awalnya hanya ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.

Situasi perang kemudian memaksanya melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda. Perlahan, kepentingan pribadi tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang dipikirkannya.

Perubahan karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan emosional film. Xu Fu tidak berubah menjadi pahlawan super. Ia tetap manusia biasa yang ketakutan dan berusaha bertahan, tetapi memilih untuk membantu orang lain ketika memiliki kesempatan.

Kalahkan The Odyssey di Box Office

Kesuksesan Once Upon a Time in the Middle East semakin menarik karena film ini berhadapan langsung dengan The Odyssey.

Film terbaru Christopher Nolan tersebut menghasilkan US$28,4 juta dalam tiga hari pembukaan resminya di China. Jika ditambah pendapatan dari preview, totalnya mencapai US$35,9 juta.

The Odyssey juga mendapat dukungan besar dari jaringan IMAX. Pendapatan IMAX film tersebut di China mencapai sekitar US$19,3 juta, sekaligus menjadi pembukaan IMAX terbesar untuk film Nolan di negara tersebut.

Namun, untuk akhir pekan 14–16 Agustus, posisi teratas tetap menjadi milik Once Upon a Time in the Middle East.

Bukan Sekadar Film Perang

Kesuksesan film ini menunjukkan bahwa penonton tidak selalu membutuhkan cerita perang dengan skala besar untuk ikut terbawa secara emosional.

Once Upon a Time in the Middle East justru memilih hal-hal kecil: sebuah restoran, makanan, keluarga, dan orang-orang biasa yang mencoba menjalani hidup di tengah situasi yang tidak masuk akal.

Pesannya pun terasa sederhana. Ketika perang terjadi, manusia tetap membutuhkan makanan, tempat berlindung, rasa aman, dan orang lain untuk berbagi.

Mungkin karena itu pula Once Upon a Time in the Middle East berhasil mencuri perhatian. Film ini tidak hanya bercerita tentang perang, tetapi tentang keinginan manusia untuk tetap menjadi manusia ketika dunia di sekitarnya perlahan kehilangan rasa kemanusiaan.