Review Agensi Rumah Tangga: Komedi Ringan yang Punya Banyak Cerita

-
Review Agensi Rumah Tangga: Komedi Ringan yang Punya Banyak Cerita

Agensi Rumah Tangga punya premis yang cukup sederhana. Seorang perempuan kehilangan pekerjaan, kesulitan mendapat pekerjaan baru, lalu nekat membuka bisnis penyalur asisten rumah tangga. Dari premis tersebut, sutradara Naya Anindita mengembangkan cerita yang tidak hanya bicara soal pekerjaan, tetapi juga keluarga, perempuan dan kehidupan para pekerja domestik.

Diadaptasi dari novel karya Almira Bastari, film ini memilih jalur drama-komedi. Pendekatan tersebut membuat Agensi Rumah Tangga terasa ringan sejak awal. Namun, di balik berbagai adegan kocak dan tingkah para karakternya, film ini ternyata menyimpan sejumlah persoalan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Cerita Dekat dengan Realita

Katia Amaranto (Enzy Storia) merupakan seorang manajer startup yang harus kehilangan pekerjaan. Enam bulan berlalu, ia belum juga mendapatkan pekerjaan baru. Tabungan semakin menipis, sementara cicilan rumah tetap harus dibayar.

Masalah Katia tidak berhenti di situ. Ibunya, Titin (Unique Priscilla), terus mendorongnya mengikuti seleksi CPNS. Bagi sang ibu, pekerjaan tetap adalah pilihan yang jauh lebih aman untuk masa depan.

Situasi berubah ketika Bibi Minah (Tike Priatnakusumah), ART yang sudah lama bekerja untuk keluarga Katia, harus berhenti bekerja. Pertemuan Katia dengan Siti (Ummi Quary), calon ART yang pernah mengalami pengalaman buruk dengan agen penyalur, kemudian melahirkan sebuah ide.

Katia bersama Sashi (Fita Anggriani) dan Bibi Minah membuka agensi penyalur ART. Rumahnya bahkan diubah menjadi kantor sekaligus tempat tinggal sementara bagi para calon pekerja.

Tentu saja, bisnis tersebut tidak berjalan mulus. Setiap ART membawa karakter dan masalah masing-masing. Belum lagi menghadapi berbagai permintaan majikan. Kekacauan inilah yang kemudian menjadi bahan bakar utama komedi film.

Komedinya Ramai, Karakternya Jadi Kekuatan

Kalau mengharapkan film yang membuat tertawa, Agensi Rumah Tangga cukup mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Komedinya memang terasa lebih dominan dibandingkan dramanya.

Yang menarik, kelucuan film ini tidak selalu muncul dari punchline. Banyak adegan terasa lucu karena karakter-karakternya memang sudah punya kepribadian yang kuat. Siti, Musdalifah dan para ART lainnya memiliki tingkah masing-masing sehingga cerita tidak hanya bertumpu pada Katia.

Ummi Quary menjadi salah satu pemain yang cukup mencuri perhatian. Begitu pula Tike Priatnakusumah dan pemeran lainnya yang membuat suasana di dalam agensi terasa hidup.

Meski ada beberapa humor yang terasa receh atau sengaja dibuat berlebihan, hal tersebut masih cocok dengan konsep film. Agensi Rumah Tangga memang tidak berusaha menjadi komedi yang terlalu serius.

Bukan Sekadar Cerita tentang ART

Di sinilah film terasa lebih menarik. Di balik komedinya, Naya mencoba memperlihatkan kehidupan ART dari sisi yang lebih manusiawi.

Para pekerja domestik dalam film ini tidak hanya hadir sebagai orang yang bekerja di rumah majikan. Mereka punya keluarga, kebutuhan, keinginan dan persoalan sendiri. Ada yang bekerja karena kebutuhan ekonomi, ada pula yang harus meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan penghasilan.

Film juga berbicara tentang perempuan dan posisi mereka sebagai penopang keluarga. Katia berusaha bangkit setelah PHK, sementara karakter perempuan lainnya memiliki perjuangan masing-masing.

Pesan tersebut disampaikan dengan cara yang cukup ringan. Penonton tidak dipaksa menerima sebuah nasihat panjang. Ceritanya membiarkan berbagai persoalan muncul melalui konflik dan interaksi antarkarakter.

Enzy dan Afgan Beri Warna Berbeda

Kisah Katia juga bersinggungan dengan Kafka (Afgansyah Reza), seorang penyanyi terkenal yang menjadi salah satu klien agensinya. Hubungan keduanya kemudian berkembang menjadi bumbu romansa di tengah berbagai kekacauan yang terjadi.

Enzy Storia cukup nyaman memainkan karakter Katia yang bisa terlihat panik, keras kepala sekaligus kocak. Afgan juga tampil cukup natural sebagai Kafka. Chemistry keduanya terasa menyenangkan, meski kisah cinta mereka bukan bagian paling kuat dari film.

Pada akhirnya, Agensi Rumah Tangga berhasil menjadi tontonan yang ringan tanpa benar-benar kosong. Film ini memang lebih banyak mengandalkan komedi dan karakter, tetapi tetap menyelipkan cerita tentang PHK, tekanan keluarga, perjuangan perempuan dan kehidupan pekerja domestik.

Bukan film yang ingin membuat penonton terus-menerus berpikir berat. Sebaliknya, Agensi Rumah Tangga mengajak penonton tertawa lebih dulu, sebelum perlahan menyadari bahwa ada persoalan yang cukup serius di balik semua kekacauan tersebut.